Aug 2, 2013

Sepuluh Hari Terakhir

Ramdhan yang agung tak lama lagi akan segera berlalu. Seperti waktu, tak pernah menunggu. Hari-hari yang dijanjikan amal berlipat ganda tak lama lagi akan berlalu dan kesempatan besar untuk mengumpulkan pahala akan segera tinggal kenangan, setelah itu diri akan kembali bertanya-tanya masihkan kita akan berjumpa dengan bulan mulia ini tahun depan? Hanya Allah yang tahu.

Hari-hariku selama Ramadhan kali ini memang tidak seberat hari-hari para pekerja kantoran yang harus bangun pagi melawan kantuk karena kurang tidur malam dan harus pulang sore berlomba-lomba denga waktu mengejar adzan magrib agar bisa berbuka di rumah bersama keluarga. Aku melewati hari-harai puasaku di rumah, hampir setiap hari. Berteman pekerjaan ringan di depan layar monitor atau sesekali melakukan pekerjaan rumah. Sehabis sahur dan sholat subuh aku masih punya banyak waktu untuk tidur lagi hingga pagi bahkan kadang aku bangun hampir menjelang siang. Aku sedang berada pada zona nyaman dari hidupku dan sedikit tidaknya mempengaruhi fisik maupun mental. Terlihat sekali perbedaan hidup dinamisku yang dulu dengan hidup yang agak statis saat ini. Dulu karena terbiasa kesana kemari, melakukan hal-hal berat, hal-hal menantang dan tentu saja membutuhkan keringat tubuh menjadi lebih fit dan tidak gampang sakit, berbeda dengan sekarang, ketika semua kebutuan hampir terpenuhi dan aktifitas hanya berada di rumah badan menjadi lebih gampang sakit dan menjadi agak manja. Salah makan sedikit saja bisa menyebabkan sakit, atau terlalu banyak berpikir atau bergerak sudah membuat pegal-pegal. Mungkin juga karena pengaruh dari kebiasaan begadangku. Bisa jadi.


Dengan banyaknya waktu luang itu harusnya aku bisa lebih banyak beribadah dan lebih fokus mendulang pahala, tapi beginilah keadaan keluarga muda dengan seorang bayi lucu yang hiperaktif. Sulit untuk bisa menjalankan rencanaku untuk membaca empat lembar Qur'an setiap selesai sholat, suasana sekitar tidak pas. Entahlah, aku tidak beralasan tapi aku juga menyadari bahwa mungkin usahaku yang masih kurang, semoga Allah mengampuniku. Hingga menjelang 10 hari terakhir Ramadhan ini aku belum mengkhatamkan Al Qur'an yang mulia. Terkadang sehari dua hari aku tidak membacanya dan setiap aku mengingat itu hati menjerit. Ya Allah, betapa mudah membaca Al Qur'an tetapi mengapa begitu sulit aku meluangkan waktu, mengapa aku lebih takut kehilangan waktu untuk bekerja atau belajar daripada kehilangan detik-detik ramadhan yang berkah. Astagfirullah... 

Sepuluh hari awal dan kedua semangat untuk beribadah masih terjaga benar. Aku berusaha untuk tidak melewatkan sholat tarawih di mesjid lalu mengaji di rumah. Meski kadang muncul rasa malas aku berusaha melawannya, ku seret langkahku menuju mesjid meski kadang aku terkantuk-kantuk di dalam shaf tetapi aku harus berusaha tarawihku full tahun ini. Namun, menjelang sepuluh hari terakhir, aku semakin menyadari bahwa imanku tidak sekokoh yang kuinginkan, tarawih mulai bolong. Tadarus mulai jarang untungnya puasa dah sholat wajib tetap terjaga, aku tidak berniat untuk meninggalkannya, karena kupikir jika pahala tarawih dan tadarusku berkurang paling tidak pahala puasa dan sholat wajibku masih ada kelak bisa membantuku untuk memberatkan timbangan amalku. 

Sepuluh malam terakhir, aku melihat fenomena yang benar-benar membuat miris. Terdapat dua tempat umum yang kontras sekali di kota ini. Sepuluh malam terakhir adalah malam dimana Allah memberikan isyarat tentang Lailatul Qadar, malam yang penuh ampunan yang lebih baik dari seribu bulan, malam dimana Allah akan mengahapus dosa-dosa hambanya yang memohon ampunan. Namun sayangnya, orang-orang sudah terperangkap dalam kesibukan mereka mempersiapkan hari raya idul fitri. Tidak mengherankan jika mesjid-mesjid menjadi sepi sementara pusat-pusat perbelanjaan dibanjiri banyak manusia yang lebih tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran ketimbang kehilangan kesempatan emas mengumpulkan pahala lewat amal ibadahnya. Sangat kontras.

Mengapa harus merasa rugi? mengapa harus maksimalkan ibadah? Mari kita simak penjelasan berikut yang saya ambil dari eramuslim.com :

Bulan Ramadhan dijuluki dengan sebutan sayyidusy syuhur (penghulu bulan-bulan). Dinamakan demikian karena Bulan Ramadhan memiliki berbagai keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Di antara keutamaannya yaitu:

Pertama, Ramadhan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman:  

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). 

Di ayat lain Allah Swt berfirman:  

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). Dan banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan.

Itu sebabnya bulan Ramadhan dijuluki dengan nama syahrul quran (bulan Al-Quran).  Pada setiap bulan Ramadhan pula Rasulullah saw selalu bertadarus (berinteraksi) dengan Al-Quran dengan Jibril as, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas r.a (HR. Bukhari). Maka, pada bulan Ramadhan ini kita digalakkan untuk memperbanyak berinteraksi dengan Al-Quran, dengan cara membacanya, memahami dan mentadabburi maknanya, menghafal dan mempelajarinya, serta mengamalkannya.

Kedua, bulan Ramadhan merupakan syahrun mubarak (bulan keberkahan), sebagaimana sabda Rasul saw,  
“Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). 

Setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya. Rasulullah saw bersabda: “Setiap amal yang dilakukan oleh anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Swt berfirman: Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Karena sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku” (HR. Muslim).

Rasulullah saw pernah berkhutbah di hadapan para sahabatnya,  
“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) didalamnya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan (pada bulan itu), seolah-olah ia mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan lainnya. Siapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan yang lain, ia seolah-olah mengerjakan tujuh puluh kebaikan di bulan lainnya.” (HR. Baihaqi)

Tidak hanya keberkahan menuai pahala, namun banyak keberkahan lainnya. Dari aspek ekonomi, Ramadhan memberi keberkahan ekonomi bagi para pedagang dan lainnya. Bagi fakir miskin, Ramadhan membawa keberkahan tersendiri. Pada bulan ini seorang muslim sangat digalakkan untuk berinfaq dan bersedekah kepada mereka. Bahkan diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mereka.

Ketiga, pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta syaithan-syaithan diikat. Dengan demikian, Allah Swt telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadhan. Syaithanpun tidak diberi kesempatan untuk mengoda dan menyesatkan manusia. Rasulullah saw bersabda, 

"Apabila masuk bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Maka pada bulan ini kita digalakkan untuk memperbanyak ibadah sunnat dan amal shalih, agar kita dapat masuk surga.

Keempat, bulan Ramadhan adalah sarana bagi seorang muslim untuk berbuat kebaikan dan mencegah maksiat. Rasulullah saw bersabda,  

“Apabila malam pertama bulan Ramadhan tiba, maka syaithan-syaithan dan jin-jin Ifrit dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak satupun darinya terbuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak satupun pintu yang tertutup. Kemudian ada seorang (malaikat) penyeru yang memanggil: “Wahai pencari kebaikan, bergembiralah! Wahai para pencari kejahatan, tahanlah!”. (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Para pelaku maksiat merasa dipersempit ruang gerak untuk berbuat maksiat pada bulan Ramadhan. Karena, pada bulan Ramadhan mereka harus menahan nafsunya. Tempat-tempat maksiat, hiburan-hiburan yang mengumbar birahi ditutup serta fasilitas maksiat ditutup. Terlebih lagi para syaithan yang menjadi guru para pelaku maksiat selama ini dibelenggu pada bulan Ramadhan. Begitu pula nafsu yang menjerumuskan manusia ke neraka juga dikekang dengan ibadah puasa, karena puasa itu adalah penahan nafsu dan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Puasa itu Junnah (penahan nafsu dan maksiat)” (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i)

Meskipun demikian, jika perbuatan maksiat masih terjadi pada bulan Ramadhan, maka penyebabnya ada tiga: Pertama, para pelaku maksiat pada bulan ini adalah murid dan kader syaithan. Mereka telah dilatih untuk berbuat maksiat sehingga menjadi kebiasaan. Mereka ini adalah alumni madrasah syaithan yang selama ini ditraining untuk berbuat maksiat oleh “guru atau ustaz” mereka (syaithan). Kedua, puasa yang dilakukan oleh pelaku maksiat itu tidak benar (tidak sesuai dengan tuntunan Rasul saw) sehingga tidak diterima. Bila ia berpuasa dengan benar, maka puasanya itu pasti mencegahnya dari maksiat. Ketiga, nafsunya telah menguasai dan menyandera dirinya. Puasa sesungguhnya tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa, namun juga menahan diri dari nafsu dan maksiat baik berupa ucapan maupun perbuatan yang diharamkan. Akibatnya puasanya tidak bernilai nilai apa-apa dan tidak memberikan dampak positif dalam tingkah lakunya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila pada bulan Ramadhan masih ada orang-orang yang “istiqamah” berbuat maksiat.

Kelima, Ramadhan bulan maghfirah (pengampunan dosa). Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi saw bersabda:  

”Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke  Ramadhan  menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). 

Melalui berbagai aktifitas ibadah di bulan Ramadhan Allah Swt menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Saw:  

”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim). 

Begitu pula dengan melakukan shalat malam (tarawih, witir dan tahajuj) pada bulan Ramadhan dapat menghapus dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi saw:  

”Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan  (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam, Ramadhan bulan itqun minan nar (pembebasan dari Api neraka). Setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki dari api neraka. Rasulullah saw bersabda, “Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Ketujuh, pada bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar yang nilai kebaikan padanya lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman:  

“Dan Tahukah kamu lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadar: 2-3). Rasul saw bersabda: “Pada bulan Ramadhan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang dihalangi kebaikannya padanya, maka rugilah dia” (H.R. Ahmad,An-Nasa’i & Baihaqi). 

Maka kita sangat digalakkan untuk mencari lailatul qadar ini dengan i’tikaf, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengikuti perbuatan Rasul saw. Aisyah r.a berkata:  

“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), Nabi saw menghidupkan waktu malam beliau, membangunkan keluarga beliau untuk beribadah, dan mengencangkan ikat pinggang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: “Nabi saw sangat giat beribadah pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) melebihi ibadah beliau pada hari-hari lainnya.” (HR.Muslim)

Mengingat berbagai keutamaan Ramadhan tersebut di atas, maka sangat disayangkan bila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih. Celakanya, bila hari-hari Ramadhan yang seharusnya diisi dengan memperbanyak ibadah diganti dengan ajang maksiat, na’uzubillahi min zaalik..! Rasulullah saw telah memberi peringatan dengan sabdanya: 

“Jibril telah datang kepadaku dan berkata: ”Wahai Muhammad, Siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan ini habis dan tidak mendapat ampunan, maka ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan Amin! Aku pun mengatakan Amin!
(HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya). 

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda,  

“Celakalah bagi orang yang masuk pada bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni.”  (HR. At-Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi). 


Terlalu sekali kalau kita tidak merasa rugi karena malas beribadah di bulan Ramadhan ini. Semoga Allah mengampuni kita semua. Aamiin.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community