Sep 4, 2013

Jangan Berjanji, Lakukan Saja!

Semua orang pasti pernah berjanji dan menjanjikan sesuatu pada orang lain. Sebagian orang mungkin masih menganggap janji itu adalah sebuah hutang yang harus diselesaikan. Sebagian lagi mungkin beranggapan bahwa janji itu ya hanya sekedar penghibur atau semacam cara untuk mendapatkan sesuatu. Janji manis seorang kekasih atau janji manis para poitikus misanya. 

Aku sendiri paling takut untuk mengumbar janji karena buatku hidup itu adaah ketidak pastian. Bisa jadi setelah berjanji ada hal lain yang harus aku selesaikan dan harus menunda janji. Lagi pula aku punya trauma tentang janji sejak kecil. Janji adalah sumber kecewa.

Kelas 6 SD, untuk memotivasi belajarku bapakku bilang bahwa aku nanti boleh sekolah kemana saja jika aku lulus SD. Aku girang bukan kepalang dan semangat belajar untuk ujian. Aku ingin sekolah di pondok pesantren tempat kak Neneng sekolah. Bayanganku dulu pondok pesantren itu seru sekali, banyak teman dan banyak cerita seru disana padahal kenyataannya pondok putra dan putri itu dipisahkan jauh dan di pesantren sudah pasti peraturannya ketat sekali. Namanya masih anak-anak aku sudah terlajun mengunci janji bapak itu di kepalaku.Padahal sebenarnya bapak tidak akan rela membiarkan aku yang masih kecil itu untuk jauh-jauh dari rumah terlebih lagi aku adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dalam keluarga dan amat sangat di sayang oleh kakek nenek.


Walaupun bapak memang benar ingin aku masuk pesantren, kakek pasti akan menghalangi. Di sekolah, di tempat bermain atau dimana saja setiap ada yang bertanya aku akan lanjut sekolah kemana aku akan jawab dengan bangga aku akan bersekolah di pesantren di pulau Lombok. Pesantren yang sehari-hari harus pake bahasa inggris dan arab. Pesantren yang akan memberiku pengalaman bertemu orang-orang baru dan pengalaman-pengalaman seru seperti cerita kak neneng.  Aku bangga sekali pada janji bapak. Hingga akhirnya pada suatu hari kakek mengajakku jalan-jalan sore, kami melewati sebuah SMP di kecamatan, di depan SMP kakek tiba-tiba berkata "Wah bagus sekali SMP ini sekarang ya... Semua di cat baru, temboknya baru, mereka mau menyambut masuknya cucu kakek kesini ini pastinya". Aku terdiam, menebak-nebak dalam hati maksud ucapan kakek. Entah mengapa aku langsung menarik kesimpulan saat itu bahwa kakek ingin aku sekolah di SMP ini bukan di pesantren. Sepanjang perjalanan aku hanya diam memikirkan kata-kata kakek tadi yang seolah memberikan kode bahwa beliau tidak mau aku sekolah di pesantren.  Aku langsung menemui bapak begitu sampai rumah dan menanyakan maksud kakek bicara seperti itu. Bapak seolah enggan menanggapi, terlihat sekali bapak hati-hati memilih kata-kata untuk mengatakan bahwa aku sekolah di SMP saja dulu. Aku terdiam, kecewa sekali dalam hati. Air mataku tak kubiarkan keluar. Meski aku masih kecil aku selalu pantang terlihat lemah dan menangis di depan orang. Aku berpura-pura menerima kenyataannya, kenyataan bahwa janji itu sudah tidak berlaku lagi. Janji itu sudah membuatku kecewa.

Malam-malam dalam gelap aku menangis sendiri. Tangis anak kecil yang kecewa. Sampai-sampai aku tertidur. Besoknya setiap ingat itu aku kecewa lagi lagi dan lagi. Setiap aku ingat janji bapak aku selalu ingin menangis. Perasaan kecewa itu baru bisa hilang saat aku naik kelas dua SMP.

Lalu sekarang, aku sudah terlalu berpengalaman menghadapi janji-janji. Aku tidak mudah lagi untuk menyetujui sebuah janji. Janji adalah perkara yang berat, salah-salah hati bisa hancur dibuatnya dan luka hati karena kecewa adalah luka yang paling sulit disembuhkan. Ketika seseorang berjanji padaku maka aku tidak akan memasukkan janjinya dalam hati. Biarkan ia mengambang sampai akhirnya benar-benar ditetapi atau diingkari. Bukan berarti aku orang yang tidak mau berkomitment, justru karena aku sangat menghargai sebuah janji maka aku tidak akan pernah bermain-main dengan janjiku karena janji itu disaksikan langsung oleh Allah SWT. 

Tapi manusia tetap saja manusia yang pasti akan termakan dan terbuai janji. Berkali-kali sudah aku kecewa karena janji-janji manis yang muluk. Bukan salah si penjanji sih, akunya saja yang terlalu memasukkan ke hati janji-janji itu. Tak ubahnya hati rakyat yang kecewa karena janji pemimpinnya tak pernah ditepati. Biarlah urusan ingar mengingkari janji menjadi urusan mereka dengan Allah, Allah maha melihat dan Maha mengawasi setiap langkah manusia bahkan setiap denyut nadi manusia tak lepas dari pengawasan-Nya. Untuk janji-janji yang telah terucap, penuhilah karena ia akan menjadi sumber celakamu kelak jika diingkari. Untuk kekecewaan-kekecewaan yang pernah ku dapati terimakasih banyak karena sekarang aku jadi lebih mawas diri untuk tidak mudah mempercayai janji-janji, siapapun itu jika itu masih manusia biasa aku tidak akan memegang erat-erat janji. Satu-satunya janji yang pasti adalah janji Allah tentang balasan perbuatan kita selama di atas bumi ini.

Sebaiknya jangan berjanji, lakukan saja!



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community