Sep 21, 2013

Nasi Bungkus di Kapal

Negeri ini sepertinya sudah begitu dalam dan kuat terkontaminasi oleh penyakit moral. Dimana-mana di tempat umum tak jarang kit dibuat geleng-geleng kepala karena heran dengan ulah manusia-manusia yang culas, menipu dan curang. Profesi apapun di negeri ini bisa jadi jalan untuk mencurangi dan menipu satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan. Pejabat, Ustad gadungan, pedagang curang, dan lain-lain. Seakan lupa bahwa hidup ini tidak kekal.

Tak terkecuali disini, di kapal penyeberangan Lombok - Sumbawa. Ini memang hal kecil tapi menurutku ini adalah gambaran nyata betapa susahnya bertahan hidup membuat sebagian orang tak lagi memikirkan baik atau buruk yang ia lakukan asalkan dapat untung dan bisa makan. Urusan orang lain rugi itu terserah yang terpenting perut bisa terisi kenyang, anak istri bisa makan dan alasan lainnya yang seolah bermoral namun sejatinya tidak. Bagaimana bisa tercipta generasi yang baik jika sumber makanannya saja sudah tidak halal? Bagaimana keharmonisan tercipta jika tipu menipu sesama sudah jadi kebiasaan? Betapa oh betapa negeriku ini menjadi sebegini liar orang-orangnya.

Jadi hari ini saya sedang dalam perjalanan ke Sumbawa. Saya berangkat dari rumah kam 6 pagi. Sekarang saya sedang di kapal dan karena tidak semoat sarapan saya membeli nasi di pedagang adongan di kapal. Ini bukan kali pertama saya membeli nasi bungkus di kapal dan juga bukan kali pertama saya merasa ditipu. Memang bukan hal besar tapi sekali lagi dari sini kita bisa membaca betapa sulitnya hidup membuat sebagian orang rela merugikan orang lain. Ada bahyak pedagang adongan yang menjual nasi, satu persatu saya perhatikan. Dari tampang, jualannya dan pola jualannya. Semuanya sama saja, gaya berjualan, kata-katanya, dan harganya. Begitu juga tampilan nasi bungkusnya sama-sama jumbo. Lalu saya membeli nasi bungkus dari seorang mas-mas yang datang menawarkan nasibya pada saya. Ia menawarkan nasi bungkus dengan pilihan lauk telur dan ayam. Saya memilih telur saja, ia buru-buru membungkusnya. Saya membayar 10rb, 7rb untuk nasi dan 3rb untuk air meneral Narmada-nya. Oke saya pun naik ke dek atas kapal, di samping ruang kemudi kapal saya duduk bersilah bersiap untuk menyantap sarapan saya pagi itu dengan view di sebelah kanan saya Gunung Rinjani yang megah. Saya lupakan diet OCD saya yang aturannya saya harus sarapan jam 12 siang. 

Betapa dongkolnya ketika saya membuka bungkusan nasi di depan saya. Ada 5 lapis daun pisang segar yang membungkus (mungkin) hanya dua kepal nasi dengan potongan kecil daging ayam berbumbukan kepala dan sambal. 7rb untuk dia kepal nasi, saudara! Ini NTB daerah yang terkenal sebagai penghasil beras dan hasiln pangan  lainnya! Bukan marah karena sedikitnya sarapan saya pagi ini, karena buat saya yang penting saya bisa makan sesuatu pagi ini tapi ketidak jujuran penjual nasi itu telah membuat nurani merasa dikhianati. Siapapun pasti akan tertarik untuk membeli jika melihat tampilan bungkusan nasinya yang jumbo dan tidak akan bisa saya habiskan jika benar-benar isinya sebanyak itu. 

Ini bukan sekedar tentang ruginya seorang pembeli. Tapi pernahkah para penjual nadi itu berpikir bagaimana jika para pembeli itu menjadi kecewa, merasa tertipu dan tidak ikhlas atau dendam dunia akhirat? Kalaupun si penjual nasi menyadari kesalahannya, kemana ia akan mencari para "korban"nya untuk meminta maaf? Ini bukan hanya perkara dunia, tapi lebih penting dari itu, ini masalah akhirat. Bisa jadi ini akan menghalanginya untuk mendapar ridho Allah... 

Wahai... hidup di dunia sudah susah payah menderita, janganlah buat hidupmu kelak di akhirat lebih melarat. Doaku, Semoga negeti ini diberikan pemimpin yang benar-benar amanah dan tulus menyejahterakan rakyat agar rakyat yang susah tidak memilih jalan yang salag untuk survive. Bisa jadi dosa dari si penjual nasi yang curang itu juga menimpa para pemimpin yang tak amanah, orang tua yang tak mendidik, dan lainnya. 

Betapa oh betapa... 

Lalu aku mulai menyantap rezeki dari Allah pagi ini, dengan hati yang ku tahan-tahan agar tak dongkol dan memaksakan diri untuk ikhlas berdoa semoga Allah menyadarkan mereka yang masih saja menipu orang lain. Padahal sejatinya mereka sedang menipu diri merek sendiri. Allah Maha Melihat...


Selat Alas, 21 September 2013.






Comments
1 Comments

1 comment:

  1. Membaca blog ini seperti mengobati kangen saya pada Sumbawa. Terus menulis ya :)

    Maaf saya pakai foto Quin di profile saya untuk mencontohkan pakaian adat Sumbawa. Kalau keberatan, akan saya hapus :)

    ReplyDelete

Berkicau

Community