Oct 4, 2013

Fahd Djibran; Monolog Penantian

Perempuan itu tersenyum. Oh, cara perempuan itu tersenyum. Dari jendela kecil di apartemennya di lantai 12, ia melihat orang-orang menyeberang jalan: Sepasang laki-laki dan perempuan, mungkin mereka berpacaran, menyeberang sambil bersijingkat seolah ada nada indah berputar di kepala mereka berdua. Seorang lelaki tua, berjalan perlahan sementara sebuah van berusaha bersabar menanti si kakek menyelesaikan langkah-langkah lunglainya hingga ke tepian jalan.

Mengapa ayam-ayam menyeberang jalan? Tiba-tiba perempuan itu mengingat sebuah pertanyaan sederhana dari teka-teki konyol masa kecilnya.

Perempuan itu tersenyum. Oh, cara perempuan itu tersenyum. Tentu saja, ayam-ayam ingin ke tepian jalan lainnya. Jawabnya dalam hati. Tapi pertanyaan lain menggelitik pikirannya, apa yang menyebabkan ayam-ayam ingin ke tepian jalan lainnya?

Perempuan itu tersenyum. Oh, cara perempuan itu tersenyum. “Kamu terlalu banyak berpikir!” Katanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ayam-ayam suka membahayakan diri mereka sendiri!”
Sementara matahari terus meninggi, bayang-bayang dirinya memantul dari kaca jendela. Ia mendongakkan kepalanya. Siapa yang sebenarnya dia tunggu?


“Clark Kent tak pernah benar-benar ada di dunia nyata, kan?” katanya, “Hanya gadis konyol yang terus menunggu lelaki bertubuh tegap, dengan rambut kelimis dan berdada bidang, muncul dari balik awan sambil tersenyum. Tak pernah ada lelaki seperti itu, yang datang tiba-tiba untuk membahayakan perempuan terbang keliling dunia tanpa parasut dan sabuk pengaman. Ah, Superman hanya ditakdirkan untuk Lois Lane, kan?”

Perempuan itu tersenyum. Oh, cara perempuan itu tersenyum. Jadi, (si)apa yang sebenarnya dia tunggu? Ia bertanya dalam hati. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak tahu, barangkali. Dia benar-benar tidak tahu.

Mungkin ia sedang menunggu Peter Parker yang lembut, datang dengan diam-diam merayap di dinding apartemennya di lantai 12 atau menggantung di kaca jendelanya dengan setengah topeng yang terbuka di bagian bawah wajahnya. Mungkin Tony Stark yang melayang di depan jendelanya, tanpa penutup kepala, membahayakan dirinya seperti biasa, sambil tersenyum mengangkat sebelah alis matanya.

Dan sekali lagi, perempuan itu tersenyum. Oh, cara perempuan itu tersenyum.

Sementara waktu tak pernah bisa menunggu, tahun demi tahun telah membuat perempuan itu menunggu, tanpa tahu apa dan siapa yang sebenarnya dia tunggu. Perempuan itu suka tersenyum, sambil membayangkan dan memilih-milih lelaki idaman dalam imajinasinya, antara Clark Kent atau Bruce Wayne, antara Tony Stark atau Peter Parker, sambil dia sendiri ragu adakah laki-laki semacam mereka di dunia nyata?

Ah, ketika senyum perempuan itu tak lagi seindah lima atau enam tahun yang lalu, ketika kaca jendela di apartemennya di lantai 12 semakin berdebu, orang-orang terus menyeberang jalan. Ribuan pasang kekasih bersijingkat atau menari-nari di punggung jalan. Ratusan lelaki tua sudah tiada untuk meninggalkan penderitaan mereka di dunia.

Jadi, mengapa ayam-ayam suka membahayakan dirinya sendiri? “Barangkali, ayam-ayam hidup ditakdirkan untuk membahayakan diri mereka sendiri, menemui takdir mereka di seberang jalan.” Katanya.
Perempuan itu tersenyum. Tak seindah senyumnya dahulu.

Beberapa detik kemudian, perempuan itu membuka jendela apartemennya, mungkin yang pertama kali sejak ia tinggal di sana. Ia menghirup udara dunia yang sebenarnya, bukan lagi dari pendingin ruangan.
Kali ini ia memutuskan membahayakan dirinya sendiri, mencoba menyorongkan kepala ke luar jendela. Dan ketika ia melihat ke sisi kanan, seorang laki-laki, yang sedang menyiram bunga di balkon apartemennya, tersenyum lembut dan menyapa.

“Hai, selamat pagi, tetangga!” Katanya.

Perempuan itu buru-buru menarik kembali kepalanya ke dalam ruangan. Tapi senyum tak bisa ia tahan. Oh, senyum itu lagi!

Ragu-ragu, perempuan itu kembali menyorongkan kepalanya ke luar jendela, menoleh ke sisi kanan, ia membalas sapaan tetangga laki-lakinya, “Selamat pagi, juga, tetangga.” Katanya, memekarkan bunga-bunga lembut di dadanya. Perempuan itu tersenyum. Oh, cara perempuan itu tersenyum.

Jadi, mengapa ayam-ayam menyeberang jalan?

Di dunia di mana motif ayam menyeberang jalan tidak dipertanyakan lagi, perempuan-perempuan tahu bahwa jodoh mungkin harus ditemukan—dan bukan ditunggu. Sebab di dunia para ayam, pejantan tak pernah lebih dewasa dari betinanya.


Fahd Djibran, Pamulang, 27/09/13


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community