Oct 24, 2013

Titik Nol Quotes

Note : Jika terganggu dengan musik, silahkan klik pause atau stop di akhir postingan ini. :)

"Hidup itu adalah sebilah cermin.  Dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang diri. Jika dunia penuh kebencian dan musuh ada dimana - mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kaukira dunia penuh dengan orang egois, itu tak lain adalah bayangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia yang muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia di matamu selalu tersenyum ramah, berterima kasihlah pada hatimu yang diliputi cinta. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada perbuatan pasti ada balasan. Semua itu simetris" - Hal. 423 - 424.

"Berbahagia itu sederhana. Tak perlu menunggu jadi kaya raya atau mengenakan mahkota raja. Semua orang bisa berbahagia saat ini juga, kalau mau" - Hal. 318.

"Orang bilang, kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru terlihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak" - Hal. 315.

"Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan. Sesungguhnya, tak ada kebetulan yang benar - benar kebetulan. Setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah ada yang mengatur, sudah menjadi guratan nasib. Hubungan anak dan ibunya adalah perjodohan. Hubungan suami dengan istri, hubungan antara anjing dengan tuannya, semua adalah produk perjodohan" - Hal. 237.


"Di mataku, hal yang membedakan kualitas perjalanan adalah apakah digunakan hati. Ada orang yang pergi ke ratusan negara, sampai sudah tak  ingat lagi mana - mana saja yang pernah didatangi, selain bukti foto - foto dan cap di paspor yang menjadi piala kebanggaan.Ada orang , seperti Lam Li, yang berjalan perlahan - lahan, mendalami negeri - negeri, menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, dan mencatat setiap cerita" - Hal. 232.

"Kita melakukan perjalanan demi mencari sesuatu yang tak ada dalam kehidupan kita sesungguhnya. Itulah sebabnya, jenis perjalanan yang disuka banyak orang adalah time - travel, perjalanan menembus waktu. Masing - masing kita memendam ekspektasi, setiap tempat memiliki dimensi waktunya sendiri - sendiri" - Hal. 176.

"Dalam hidup manusia, memang ada orang - orang yang ditakdirkan untuk datang sekelebat, mengajarkan sesuatu, lalu lenyap sama sekali. Kehilangan adalah untuk menemukan. Buddha besabda, kebebasan dari segala keterikatan adalah pencerahan, kebahagiaan" - Hal. 156.

"Perjalanan bisa jadi pelarian dari rasa takut, bisa pula pencarian untuk menemukan cara membunuh takut" - Hal.139.

"Ketakutan selalu menemani hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud, ketakutan selalu menghantui manusia, sahabat setia dari gua garba hingga liang lahat. Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan? Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa takut. Orang bekerja keras, berkeluarga, membesarkan anak, melakukan investasi membeli asuransi, semua demi sejumput rasa aman" - Hal. 138.

"Aku adalah nomad. Napasku adalah perpindahan" - Hal. 135.

"Perjalanan adalah eksplorasi untuk menemukan dunia "lain". Perjalanan adalah hak eksklusif kalangan terbatas, dari negeri - negeri terhormat dan berperadaban, hanya bagi para pemberani atau orang superkaya, mata - mata atau misionaris, bangsawan ataukah saudagar. Perjalanan untuk bersenang - senang hanyalah mimpi kosong bagi rakyat jelata, yang masih harus berjuang keras mengisi perut atau bertahan hidup di tengah kemelut perang. Para hippies mengobrak - abrik semua asumsi itu. Perjalanan bukan lagi mimpi di siang bolong. Perjalanan kini adalah milik semua umat. Tidak ada lagi yang mustahil. Para hippies membuka mata, tentang surga - surga terpencil di sekujur dunia. Perjalanan itu bukan sekedar fantasi. Kebebasan itu adalah kebahagiaan sejati..." - Hal. 133 - 134.

"Dalam ajaran Tibet, perjalanan fisik itu sebenarnya adalah erjalanan kedalam hati, batas antara dunia alami dengan dunia spiritual itu sangat tipis. Dalai Lama pernah berkata, pusat semesta itu ada dalam diri kita masing - masing" - Hal. 94.

"Kalachakra, Roda waktu. Seperti halnya perjalanan hidup kita yang juga diiringi perjuangan untuk menghasilkan karya - karya besar dan berbagai pencapaian, tetapi semuanya tetap kembali lagi pada kekosongan. Kembali menjadi bulir pasir yang hampa" - Hal. 53

"Kau bilang perjalanan hanyalah bagi sang pemberani. Kau bilang perjalanan keliling dunia itu eksklusif bagi para lelaki gempal jagoan yang kuat melibas semua musuh. Namun bagiku, ujian pertama dalam perjalanan adalah pembuktian kesabaran" - Hal. 18.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community