Feb 17, 2014

Misteri Gunung Sangeang Api

Sejurus Sultan terdiam. Ia seperti menantikan sesuatu di pantai itu. Tak lama sayup-sayup terdengar ringkik kuda. Seekor kuda jantan dengan bulu merah maron berlari-lari kecil menghampiri sultan. Begitu di hadapan baginda ia menggaruk-garukkan salah satu kaki depannya ke tanah seraya mengibaskan ekor sebagai tanda bahwa ia datang. Sultan dengan lembut membelai piaraannya. Keduanya tampak akrab layaknya dua sahabat.

Pertemuan sultan dengan kudanya itu terjadi di Pantai Wera yang berhadapan dengan Pulau Sangeang atau Sangia. Seperti sudah paham maksud tuannya, kuda tersebut lagi-lagi mengibaskan ekornya. Sultan meloncat ke punggung kuda itu. Kuda pun melesat ke Sangeang, melintas laut sepanjang kira-kira 5 km. Laut itu layaknya sebuah padang nan luas.

Kata sebagian kecil orang, kuda sultan itu bukan sembarang kuda melainkan binatang gaib. Hanya sultan yang mampu berkomunikasi dan memanggil binatang tersebut terutama kala ia ke Sangeang.


Pengalaman seperti di atas, konon menurut cerita dari mulut ke mulut, hampir dialami semua Sultan Bima sejak Abdul Khair Sirajuddin. Sesungguhnya mitos tersebut bukan hal yang berdiri sendiri. Kemunculannya erat kaitannya dengan sejarah kuda Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Kuda itu pernah dipakai sultan ketika menjadi Panglima Perang Makassar antara Gowa-Makassar dengan Bone tahun 1646. Kala itu sultan membantu mertuanya, Malikussaid, Sultan Gowa-Makassar.

Sepulang dari Perang Makassar, kuda sultan dimerdekakan dan dianggap sebagai kuda sakti kerajaan. Ia dimandikan setiap Jum’at dan dikawal oleh pengawal khusus dari istana. Nama kuda itu adalah Jara Manggila. Konon kuda tersebut berasal dari Sangeang.

Bisa jadi, karena Jara Manggila adalah kuda sakti, pada akhirnya ia kembali ke Sangeang dan hilang secara misterius di tempat asalnya itu. Ia lalu menjadi semacam kuda gaib para raja Bima. Kuda itu sewaktu-waktu bisa menampakkan diri jika dibutuhkan oleh para raja Bima. 

Mirip Baduy. Orang Sangeang mirip penduduk asli berbagai daerah di Indonesia, sebut saja orang Baduy di Banten. Mereka tertutup, mandiri dan terikat adat istiadat yang ketat. Warna hitam merupakan ciri utama pakaian orang Sangeang. Jika bepergian mereka berjalan kaki.

Komunitas terbatas ini dipimpin oleh Jalu atau Kepala Desa. Ia sakti sekaligus kharismatik. Konon ia ke Bima lewat laut dengan sampan kecil yang menggunakan layar ala kadarnya dari kain sarung yang direntangkan. Ia mengintari pesisir utara Bima kemudian masuk Asa Kota. Jalu cuma butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke pelabuhan Bima. Padahal kalau orang menggunakan perahu bermesin diesel (tempel) butuh waktu satu jam lebih.

Setiap musim panen Jalu datang kepada raja Bima mempersembahkan hasil tanaman warganya kepada raja Bima berupa minyak kelapa, jagung serta labu. Hasil utama pulau ini adalah labu dan tanaman hortikultura lain. Raja biasanya menghadiahkan pakaian, kopi dan gula. “Mereka pantang menerima makanan,” kata Massir Q. Abdullah, budayawan Bima. Keberadaan Jalu berakhir tahun 1950, bersamaan dengan bubarnya kesultanan Bima.

Persembunyian Pasukan Hasanuddin. Selain penduduk asli, sekitar abad ke-16 di Sangeang datang sisa-sisa pasukan Sultan Hasanuddin. Kedatangan mereka tentunya atas legitimasi Sultan Abdul Khair Sirajuddin, yang juga Panglima Perang Makassar disebut Siri. Mereka menolak menyerah kepada Belanda menyusul kekalahan Gowa-Makassar dalam Perang Sombu Apu.

300px-gunungapi11Sangeang dikenal sebagai gunung berapi aktif hingga kini. Penduduk Sangeang berjumlah kira-kira 675 jiwa dari 326 KK. Dengan alasan keamanan akibat bencana letusan gunung, secara bertahap, mereka dipindahkan ke daratan di Wera oleh Departemen Sosial mulai tanggal 31 Juli 1985. Praktis pulau menjadi kosong, namun penduduk tetap memanfaatkan tanah perkebunan mereka untuk bercocok tanam.

Satu yang unik dari orang Sangeang adalah keramat yang menyelimuti mereka. Mereka seperti memiliki kemampuan gaib yang berkaitan dengan api. Kemampuan itu terlihat manakala mereka mempunyai masalah dengan orang lain. Biasanya orang yang menzolimi mereka akan menerima akibat seperti tempat tinggalnya terbakar.

Setiap orang Bima enggan berurusan dengan orang Sangeang. Namun karena mereka kerap (terutama saban musim panen) ke daratan untuk menjual hasil bumi, mau tidak mau mereka berhubungan dengan pendudukan Bima daratan.

Nah, disinilah biasanya persoalan timbul. Misalnya dalam transaksi jual beli hasil bumi dengan saudaranya di daratan kerap muncul masalah seperti jumlah bayaran yang kurang atau hal lain. Masing-masing pihak biasanya ngotot dan ujungnya orang Sangeang pergi. Lazimnya, sepeninggal mereka — entah kebetulan atau bukan — bencana kerap datang. Satu yang populer adalah kebakaran yang menimpa rumah orang yang berhubungan dengan orang Sangeang tadi.

Ada anggapan bahwa orang Sangeang adalah titisan penguasa dunia supranatural gunung api itu. Dalam pandangan orang Bima (kuno), penguasa gaib yang dimaksud disebut parafu atau marafu. Karenanya kemana pun pergi, mereka yakin mendapat perlindungan parafu, roh nenek moyang.

Sangeang, di Kecamatan Wera Timur, tetap merupakan misteri yang menarik untuk dipecahkan. Tercatat sepuluh kali Sangeang meletus sejak tahun 1512. Terakhir gunung setinggi 1949 meter di atas permukaan laut itu meletus 24 Januari 1997.

Dikutip dari Muslimin Hamzah dalam Ensiklopedia Bima (Ompundaru)
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community