Feb 28, 2014

Suatu Pagi di Taman Baca Ampenan

Sebuah pagi yang indah. Matahari bersinar malu-malu di balik awan. Sejuk dan damai. Jam 8 pagi aku berangkat menuju markas Komunitas Pecinta Buku Mataram di Taman Baca Ampenan yang berlokasi di tempat rekreasi Pantai Ampenan. Sebetulnya ini kali pertama aku berkesempatan hadir karena hari-hari sebelumnya aku selalu berhalangan. Hari ini bapak walikota Mataram akan datang mengunjungi taman baca yang baru diresmikan bulan lalu itu. Bukan karena akan datangnya bapak walikota aku sempat-sempatkan diri datang tapi memang hari ini sedang berkesempatan sekali untuk datang. Tidak ada urusa atau pekerjaan yang menghalangi. Lagipula aku cukup kangen sama teman-teman KoPaKu Mataram.

Setiba di lokasi ternyata sudah sangat ramai, ada panggung besar dan beberapa venue disana. Ada venue lomba mewarnai untuk anak-anak, dan lain-lain. Pengunjung juga banyak, ternyata hari ini ada event Pencanangan Mataram Sebagai Kota Layak Anak yang langsung dihadiri oleh bapak walikota Mataram. Serius, saya tidak tahu ada event ini hari ini.

Saya bertemu Adiel di Taman Baca, dia sudah standby lebih dulu disana bersama dua anak KoPaKu lainnya. Ada juga anak-anak kecil yang sedang membaca dan bermain. Saya langsung bergabung bersama mereka, saling bertanya kabar dan ngobrol. Suasana Taman Baca Ampenan yang kami kelola ini sejuk sekali, pemandangan di luar juga indah, langsung menghadap pantai ampenan. Saya langsung jatuh cinta pada ruangan kecil ini. Kami mulai menyiapkan diri untuk menyambut bapak walikota. Tak ada yang perlu benar-benar disiapkan sebenarnya karena semua sudah seperti seharusnya, buku-buku di rak-rak sudah tersusun rapi sesuai kategori, meja sudah rapi dan karena ruangan ini kecil tidak perlu ada yang perlu disiapkan dengan berlebihan.

Beberapa menit kemudian, kami kedatangan tamu. Dua orang tuna netra dari SLB Slagalas. Namanya Firman dan Sri Wahyuni. Mereka tampak luar biasa, bukan tuna netra biasa! Mereka adalah dua orang yang akan selalu saya ingat semangatnya dan kegigihannya dalam belajar dan hidup. Di taman baca ini juga ada koleksi buku-buku dengan tulisan Braile, saya menyuguhkan buku Laskar Pelangi dengan tulisan Braile kepada mas Firman dan Mbk Sri. Mereka senang sekali dan langsung terdiam, berkonstrasi membacanya. Saya sendiri tertegun, terkagum-kagum menyaksikan mereka membaca dengan gaya mereka sendiri. Sesekali tersenyum lalu serius dan sesekali berkata bagus!

Beberapa menit kemudian datanglah rombongan bapak Walikota. Ruangan taman baca kami yang kecil ini semakin terasa kecil setelah bapak walikota masuk dan melihat-lihat. Adiel dan saya mendampingi beliau melihat-lihat koleksi buku dan disela-sela kesempatan kami sampaikan kepada beliau hal-hal yang kami perlukan untuk pengembangan taman baca ini seperti listrik yang belum aktif, air PDAM, dan lain-lain. Sayangnya pak walikota tidak punya waktu yang panjang untuk kami ajak berbicara lebih lama. Bapak walikota harus kembali ke pusat acara.

Aku mendekati Firman yang terlihat begitu asik membaca Novel Laskar Pelangi versi Braille itu. Kami ngobrol tentang banyak hal tentang dunia mereka. Ini pertama kali aku berbicara dengan seorang tuna netra dan ini moment yang akan selalu kuingat. Firman sudah menjadi tuna netra sejak lahir. "Saya sejak lahir sudah begini mas, belum pernah melihat indahnya dunia" katanya lantang. "Tapi buta bukan berarti mati, mas! Walau tidak bisa melihat tapi saya bisa merasakan indahnya dunia dan cinta"

Aku tertegun, hampir kehilangan kata-kata. Ada banyak manusia yang diberikan tubuh dan anggota badan normal tapi menjadi pengeluh, pemalas dan penghujat. Sementara ada anak manusia yang hidup dalam kegelapan yang panjang namun memiliki hati yang seluas samudera dan semangat setinggi langit. Kau tahu kawan, Firman ini punya hobi yang mungkin ketika kau tahu hobinya kau akan kaget. Ya, begitu juga aku, aku kaget sekaligus semakin tertarik untuk berbincang lebih lama dengannya. Firman si penggemar serial Ko Ping Ho  ini punya hobi berinternet! Luar biasa, bahkan dia dan beberapa temannya punya akun facebook serta blog! Aku benar-benar ngangak dibuatnya, aku langsung teringat ada beberapa orang temanku yang bahkan gak tau apa itu blog, ada juga yang merengek-rengek minta dibuatkan blog dan mereka ingin blog yang sama denganpunyaku. Mereka manusia dengan anggota tubuh normal. Sementara ada anak manusia yang kurang beruntung dengan penglihatan yang tidak berfungsi tapi memiliki semangat yang luar biasa untuk belajar banyak hal. Tidakkah kita malu karena tidak bisa? Atau karena kita terkadang begitu manja ingin dibuatkan ini itu oleh orang lain tanpa kita mau belajar?

Sekarang Firman mengeluarkan hapenya. Sebuah ponsel nokia seri express music yang katanya sudah menjadi teman sekaligus penghibur kapan saja. Dalam ponsel sederhana itu ada banyak sekali eBook novel-novel dan serial Ko Ping Ho favoritnya. Bagaimana ia membacanya? Ia mengaktifkan suara pembaca layar yang aku bahkan tidak tahu ada fitur itu di handphone. Belum habis kekagumanku, Firman berkata "Manusia adalah makluk yang diciptakan begitu sempurna oleh Allah, Akal dan Hati mereka yang membuat mereka menyandang sebutan sempurna. Tak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan percaya pada Allah, mas"

"Selalu ada jalan dan jawaban untuk mereka yang mau mencari"
"Manusia punya akal untuk terus menerus menemukan cara menghadapi setiap permasalahan hidup"
"dan kadang manusia harus dilemparkan pada suatu keadaan yang sulit lebih dahulu agar mereka tahu bagaimana survive dan agar mereka lebih menghargai apa yang mereka miliki"

Aku dan Adiel terdiam, speechless! sampai akhirnya mbk Sri memanggil firman dan mengajaknya untuk balik ke depan arena acara hari itu, berkumpul lagi bersama teman-teman Tuna Netra lainnya. Aku dan adiel mengantarkan mereka ke arena kegiatan, diperjlanan terdengar pembacaan doa dari atas panggung. "Nah itu yang sedang baca doa itu guru saya! Saya hafal suaranya. Dia juga sama seperti saya, buta. tapi lihatlah.. Mata hatinya tidak buta!"

Allah selalu punya cara yang unik untuk memberikan pelajaran berharga untukku.

Firman, Sedang membaca novel Laskar Pelangi

Bapak Walikota Berkunjung ke Taman Baca Ampenan yang di kelola anak-anak Kopaku

Bapak Walikota Mataram sedang mengisi buku pengunjung

Pose bersama

Bpk Walikota da Istri kagum sekali sama Firman

Adiel penasaran sekali dengan cara membaca huruf Braile

Lagi baca (dengerin) eBook di ponsel.

View dari jendela taman Baca



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community