Mar 15, 2014

Mendengar

Berulang kali dan tak akan berhenti manusia berusaha mendefinisikan rasa yang disepakati bernama cinta. Rasa yang menjadi fitrah setiap manusia. Dalam berbagai cerita, cinta telah menyatukan yang jauh, merapatkan yang dekat, menyeka air mata dan membuat manusia berbagi kehangatan lewat pelukan. Dalam sejarah-sejarah, cintapun tak jarang mewariskan cerita duka. Dua kubuh berseteru, banyak jiwa yang teraniaya, cinta telah memantik kebencian. Betapa dahsyatnya cinta.

Cinta jua yang membuat manusia melahirkan kebahagian, bayi-bayi mungil yang suci dan lucu. Cinta yang membuat pemimpin dicintai rakyatnya. Karena cinta, berdiri megah bangunan-bangunan yang dibangun atas nama cinta. Cintalah yang menjadi banyak sebab keajaiban-keajaiban dan kemustahilan yang menjadi nyata.

Luar biasa.

Namun hari ini, kadang aku sering bertanya dalam hati apakah cinta terlalu mahal atau mungkin tak ada harganya sehingga begitu banyak kebencian, kebohongan, kemunafikan dan penipuan di muka bumi? Penguasa menipu, rakyat saling tipu, dimana-mana kekacauan, dimana-mana yang terdengar selalu lebih banyak tentang kebencian.

Tahukah kawan? Cinta itu begitu sederhana. Cinta hanyalah tentang mendengarkan. Ya, mendengarkan adalah perwujudan dari cinta itu. Mendengarkan apa yang tak didengarkan orang lain. Mendengarkan dengan batin adalah wujud cinta yang sempurna.


Rakyat tak akan menderita ketika sang pemimpin mendengarkan suara hati mereka. Bukan sekedar mendengarkan tetapi juga memper-hati-kan mereka. Maka ketika telinga sang penguasa terbuka hatinya akan tergerak, cinta akan menuntunnya untuk selalu memberikan yang terbaik. 

Sepasang suami istri. Mendengarkan satu sama lain adalah kunci untuk hubungan yang abadi dan nyaman. Bagaimana mungkin terjadi kedamaian jika hanya ada satu orang yang selalu ingin didengarkan. Bagaimana mungkin akan berjalan baik jika hanya satu orang yang selalu ingin berbicara dan tak mau mendengarkan yang lainnya?

Jangan pernah mengaku mencintai Allah jika ketika mendengarkan Azan seperti tak pernah terdengar. Azan adalah panggilan-Nya, jika kita benar-benar mendengar, sudahkah kita memenuhi panggilannya? 

Begitulah...

“Mendengar adalah bukan tentang menangkap suara-suara dengan telingamu, lebih dari itu, mendengar adalah menangkap sesuatu -di-balik-suara--sesuatu yang kadang-kadang tak bisa benar-benar ditangkap oleh mereka yang mampu mendengar suara-suara secara sempurna.” (Fahd Djibran)



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community