Jul 13, 2014

Sunyi

Dalam hidup kadang-kadang kita butuh ruang untuk sendiri. Menyepi. Sejenak jiwa juga ingin menjauh dari hingar bingar dunia yang penuh dengan persoalan-persoalan dan gemerlap yang menipu. 

Hanya dalam kesunyianlah kita bisa melihat ke dalam diri. Memeriksa hati dan pikiran yang berjam-jam, berhari-hari berjibaku dengan dunia. Ketika sunyi, saatnya untuk merendahkan diri di depan yang maha besar dan maha kuasa. Karena hanya dalam kesunyian pikiran dan hati bisa sejalan, menuntun diri untuk menemukan bagian mana yang harus kita benahi dari jiwa, rasa dan pikiran yang setiap waktu bergelut dengan debu-debu dunia.

Maka luruhkanlah semua kesombongan dan ego diri di depan alam-Nya. Jujurlah sejujur-jujurnya pada diri tentang siapa sebenarnya kita, apa misi kita selama ini, sejujur apa kita dalam hidup sehari-hari, sudah baikkah cara kita memperlakukan diri dan orang lain? dan bagaimana seharusnya seorang manusia menghadapi manusia lainnya dalam medan dunia yang semakin tak karuan ini. Jika tak kau temui jawabannya, kembalilah dalam kesunyianmu. Nikmati alunan musik dari dalam dirimu, dari alam sekitarmu. NIkmatilah, rasakan dengan rasa yang sebenarnya rasa. Hanya nikmati, tak perlu kau pertanyakan apapun. Sebab ketika kau bertanya tentang sebuah keindahan artinya kamu tidak pernah benar-benar menikmatinya. Cukup hanya diam dan nikmatilah... Alam dan nuranimu akan mengantarkanmu pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu. Namun jika tak juga terjawab kembali rendahkan hatimu sampai kau menemukan jawaban atas pertanyaanmu.


Tuhan hanya bisa kau kenali ketika kau mengenal dirimu begitu kata seorang tua padaku. Tuhan hanya dapat kau jumpai untuk bercerita dan berkeluh kesah hanya ketika kau meluruhkan pakaian egomu. Larut dalam keheningan yang menenangkan, saat itulah kau bisa bercengkrama dengan Tuhanmu, dengan nuranimu. 

Demikianlah... dunia ini penuh tipuan. Ia sementara saja tapi tak sedikit orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk  mendapatkan dunia. Tak sedikit orang yang menggadaikan jiwanya untuk kesenangan sesaat, tak sedikit orang yang menghabiskan sisa umurnya dengan kebencian-kebencian yang ia kira akan membuatnya bahagia. Semua debu, semua akan diterbangkan angin, semua akan pergi, semua akan hilang... yang hidup pasti akan mati. Lalu apakah kamu siap mati dengan hati dipenuhi kebencian pada sesamamu? Apa kamu berani mati dengan kesombongan-kesombonganmu? Jawabannya ada ketika kita mau bertanya pada diri sendiri...


15 Ramadhan 1435 H

Ampenan Beach - Lombok (photo by me)

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community