Nov 22, 2014

School Make Me ...

Setelah baca novel "Tak Sempurna" karya brother Fahd Pahdepie beberapa waktu lalu, dan terinspirasi dari postingan di intagram Dedy Corbuzier, saya iseng menulis kalimat "School make me" dan beberapa suggest yang diberikan Google sangat mencengangkan. Suggest itu tidak keluar begitu saja di google melainkan karena memang banyak yang menulis (entah curhat, entah blogging. atau lainnya) tentang keadaan sekolah bagi mereka. Suggest yang keluar adalah yang terbanyak dibicarajan dan ditulis orang. Pertanyaannya apakah benar sekolah demikian adanya?

Sebagai orang yang juga pernah bersekolah, saya akan 80% mengiyakan dan sisanya saya masih mikir-mikir. Yah, karena jujur saya pertama kali mengenal dan mendengar tentang onani, tentang kata-kata kasar pada teman, ejekan, ledekan, pacaran, dan lain-lainnya di sekolah, dari teman-teman sekolah. Ingat juga, disekolah pertama kali saya melihat kekerasan saat tawuran. Guru tidak bisa kita salahkan, karena merekapun bisa saja tidak pernah tau apa yang siswanya bicarakan dan lakukan.

Sejak SD hingga SMP saya termasuk anak yang menjadi korban bullying dari anak-anak "gaul" dan "top" karena nakalnya di sekolah. Saya pernah harus mengerjakan PR teman dengan ancaman dan lain-lain. Tapi saya bisa melewati itu dengan kuat, dampaknya tidak terlau membuat saya trauma sampai dewasa karena di SMA saya fokus pada hal-hal positif : persahabatan, prestasi, karya walaupun di SMA saya bukan termasuk dalam top 10 populer. Paling tidak saya sudah biasa menghadapi anak-anak nakal yang hobynya malak, ngebully dan ngancam. Saya punya sahabat tempat berbagi, saya punya guru-guru tempat bercerita, dan di rumah saya punya keluarga yang mengawasi.

Lalu bagaimana dengan anak-anak lain?

Apakah wajar hal yang demikian? Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan?

Diluar pengalaman saya, Novel Fahd Djibran juga membahas ini. Berikut keadaan sekolah yang saya ambi dari novel tersebut.
--------------------------------------------------------------
Setiap hari kami bangun pagi, terhipnotis untuk selalu datang lagi ke sekolah, berbaris rapi mengantrekan diri untuk seolah senang hati mendapatkan tekanan-tekanan, menjalani penderitaan, memikul beban-beban yang tak pernah kami inginkan.

Demi masa depan? Entah nabi mana yang mengajari bahwa sekolah akan menjamin masa depan yang baik. Kenyataannya, jutaan pengangguran berijazah sekolah setiap tahun mengantre di perusahaan-perusahaan yang dimiliki orang-orang putus sekolah! aneh! Aku setuju bahwa manusia perlu ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan modal penting untuk mendapatkan masa depan yang baik, tetapi bisakah semua itu tak dimonopoli dan dikalengkan di pabrik-pabrik pengetahuan bernama sekolah? Ah, aku benci mengatakan ini: aku benar-benar benci sekolah, tapi aku tak punya pilihan lainnya. (hlm. 10)

Inilah sekolahku. Di sini, guru-guru bergossip tentang gaji dan tunjangan yang tak cukup untuk membayar pinjaman mereka di bank. Sialnya, mereka lebih sering mengajar dengan sisa-sia tenaga, menghadapi kami dengan wajah yang kuyu, kurang vitamin. Di saat-saat tertentu, mereka juga melampiaskan kekesalan dan kemarahan mereka kepada kami. Menyebalkan.

Di sekolah ini, aku ragu benarkah kami akan memiliki masa depan? Benarkah pendidikan merupakan modal utama untuk sukses di hari-hari nanti? Aku tak menemukan kebahagiaan di sini, terutama di dalam kelas, kecuali saat jam istirahat. Aku tak bahagia saat belajar, tetapi aku bahagia saat bermain atau mengobrol. Pertanyaannya, mengapa aku harus bermain dan mengobrol dengan cara membayar uang sekolah yang mahal?

Secara keseluruhan, aku tak bahagia dengan sekolah. dan bisakah seseorang mempercayakan masa depannya pada sesuatu yang tak membuat dia bahagia? Bagiku, sulit melakukannya. Sekolah hanya semacam penjara kebebasan yang punya jam istirahat dan waktu liburan. Benar-benar menyebalkan. (hlm. 50)

------------------------------------------------------------------------------------


Mari kita sadari hal ini. Sekolah kadang menjadi semacam momok bagi anak bukan karena pelajaran yang sulit api karena faktor-faktor lain. Temannya yang nakal, mengancam, malak, bully, atau guru yang galak, mengancam, dan lainnya. Banyak faktor.

Mari kita mulai dari kita sendiri untuk menormalkan keadaan. Menjadikan sekolah sebagai tempat yang benar-benar nyaman untuk belajar bukan sebagai sebuah teror bagi anak-anak. Dulu kita adalah anak-anak, entah korban atau pelaku, kita pernah melewati masa itu. Maka sekarang ketika keadaan sudah mengubaj kita menjadi orang tua, semoga kita lebih pintar dan bijak dalam mendidik anak-anak kita agar menjadi teman yang nyaman bagi semuanya.

Saya sendiri berpikir kelak anak-anak saya harus bersekolah di sekolah yang benar-benar memperhatikan hal-hal yang saya khawatirkan diatas. Aamiin...
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community