Apr 17, 2015

NEVER LET ANYONE STOP YOUR DREAM

sebuah catatan dari kelas inspirasi lombok

Never let anyone stop your dream. Kalimat ini yang ingin saya tancapkan di hati-hati anak-anak seluruh Indonesia jika saya bisa. Itu mimpi saya. Saya ingin anak-anak Indonesia yang berada di pelosok negeri, tempat-tempat terpencil yang jauh dari pusat teknologi dan informasi punya semangat yang sama, punya mimpi dan cita-cita yang sama dengan semua anak-anak lainnya di negeri ini. Karena memang hak mereka sebagai anak-anak adalah mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan punya cita-cita.

Bukan apa-apa, kalimat itu tidak sekonyong-konyong ada begitu saja dalam benar saya. Kalimat itu hadir ketika saya menyadari bahwa begitu banyak di sekeliling saya anak-anak yang harus “mati” sebelum ia memulai paginya. Mimpi-mimpi mereka dipangkas dengan begitu kejam oleh banyak hal. Oleh keadaan, oleh waktu, oleh jarak bahkan oleh orang terdekat mereka sendiri. Kalau sudah bicara cita-cita dan mimpi saya selalu ingat seorang teman masa kecil saya yang bercita-cita ingin menjadi Angkatan Laut. Kami melewatkan masa kecil yang indah bersama. Penuh keceriaan, penuh semangat untuk belajar dan penuh mimpi. Guru kami, pak Arahman yang biasa kami panggil Pak Man adalah sosok guru yang selalu punya cara untuk membuat semangat kami tetap terpacu dalam belajar.


Waktu itu saya kelas 6 SD dan seperti anak-anak lainnya kami mulai membicarakan cita-cita kami. Mau jadi apa kami kelak ketika dewasa. Aku dengan tegas mengatakan kepada teman-temanku jika kelak aku ingin menjadi seorang penulis sekaligus menjadi seorang guru yang jago IT (Information Tecnology) ya karena pada waktu itu tontonan saya adalah secamam Arena 123 di TVRI dan acara anak-anak lainnya. Bacaan saya juga bukan bacaan anak-anak kecil, sejak kecil saya terbiasa membaca banyak buku-buku, mulai dari buku-buku kesehatan, politik, buku pertanian dan buku-buku komputer. Saya juga hobi baca majalah remaja pada saat itu. Buku kesehatan saya baca dari bibi saya yang seorang kader Posyandu di desa saya, kemudian buku-buku politik saya dapatkan dari abang sepupu saya yang waktu itu cita-citanya ingin berpolitik, lalu buku-buku pertanian dari kakek saya yang meski sudah tua sangat gemar membaca. Lalu buku-buku komputer sendiri saya dapatkan di sekolah. 


Saya ingat sekali perpustakaan sekolah saya yang rapi dan punya banyak koleksi buku tapi karena alasan takut Berantakan dan banyak buku hilang perpustakaan itu selalu tutup tiap jam sekolah. Namun saya tidak kehabisan akal untuk mendapatkan buku-buku bacaan bermutu dari perpustakaan sekolah itu. Tiap jadwal saya piket membersihkan kelas, saya datang ke sekolah lebih pagi dari siapapun. Lalu saya akan meminta kunci ruang kelas saya dan perpustakaan pada penjaga sekolah, maka leluasalah saya mengambil buku mana saja yang saya inginkan. Saya menyimpannya di dalam tas lalu membawanya pulang. Begitu selesai membaca saya kembalikan ketempat semula dengan cara yang sama sambil tak lupa mengambil buku baru lagi. Betapa masa itu, bahkan di sekolah tanpa mereka sadari, mereka adalah ganjalan pertama untuk kami mengetahui dunia luar.

Kembali ke cerita temanku. Temanku ini sangat ingin mnejadi seorang angkatan laut karena ia ingin bertemu Bapaknya yang pergi merantau entah ke mana. Ibunya bilang bapaknya pergi berlayar. Hobinya menggambar kapal laut, hampir semua hal tentang kapal laut dan polisi angkatan laut ia tahu. Kerinduannya pada sang bapak membuatnya mencintai laut. Ia begitu ingin segera menyusul bapaknya yang pergi sejak ia kelas 1 SD. Menjelang kelulusan temanku ini datang dengan wajah murung, bahkan terlihat baru saja selesai menangis. Apa gerangan yang membuatnya begitu bersedih. Setelah beberapa diam, akhirnya dia bercerita bahwa ibu dan kakaknya tidak mengharapkan dia untuk melanjutkan sekolahnya. Dia tidak boleh jadi apapun yang ia inginkan. Ibunya ingin dia membantunya bekerja di sawah peninggalan bapaknya. Cita-citanya kandas, ia telah “terbunuh” tepat ketika ia baru saja akan mulai membangun pondasi mimpinya.

Berikutnya ada lagi seorang temanku yang sangat pintar dan cerdas disekolah. Bapaknya seorang petani biasa yang nyambi Kusir Cidomo. Ibunya hanya petani biasa. Ia punya cita-cita ingin menjadi guru. Suatu hari, di satu siang yang panas ketika kami sedang berkumpul bermain-main di halaman rumahnya, di bawah rindangnya pohon jambu air kami membicarakan mimpi-mimpi kami. Aku tetap pada cita-citaku semula begitupun yang lain. Temanku yang satu ini dengan setelah berbisik dan agak malu ia mengatakan kalau ia ingin menjadi seorang guru. Ia ingin mengajar di desa kami. Tatap matanya menyiratkan keseriusan akan cita-citanya, ia sampai terlihat ingin menangis waktu mengucapkan cita-cita sampai tiba-tiba ibunya berkata supaya dia tidak usah bercita-cita tinggi seperti itu.

“Tak usahlah bercita-cita seperti itu, bisa masuk SMP saja nanti sudah syukur. Tak usahlah gaya-gaya kayak orang kota ingin jadi ini itu. Kalian ini anak-anak kampung, nanti kalau kau semua selelai sekolah ya jadi petani seperti ibu bapak kalian. Jangan kebanyakan cita-cita nanti tidak tercapai bisa gila kalian.”

“Iya, jangan gaya-gayalah. Rajin-rajin ke sawah. Kerja yang rajin supaya bisa beli motor bagus, beli tv dan siapa tahu bisa naik haji” Kakanya ikut menimpali.

Temanku diam, kami semua diam. Belum sempat kami merayakan kebanggaan kami memiliki cita-cita mereka sudah memangkas habis semangatnya. Cita-citanya menguap bersama ucapan ibu dan kakaknya. Jadilah ia anak kampung yang malang. Cerdas, Punya cita-cita mulia namun kesempatannya untuk berlari mengejar cita-cita sudah di tutup oleh orang tuanya sendiri.

Itulah kenapa ketika ditawarkan untuk menjadi panitia lokal dan relawan kelas inspirasi saya langsung mengiyakan. Apalagi lokasi-lokasi sekolah yang kami pilih adalah sekolah-sekolah yang terpencil dan jauh dari riuh suara perkotaan. Kami ingin kesana dan berusaha menjadi pelecut semangat mereka untuk berani bermimpi.

#

Saya mengikuti tiga kali kelas inspirasi Lombok. Pertama saya dan teman-teman panitia lokal Kelas Inpsirasi Lombok melakukan semacam gladi sebelum hari inspirasi sebenarnya di mulai. Kami mendatangi beberapa sekolah di Wilayah Kecamatan Gunung Sari, waktu itu saya berkesempatan bertemu dengan siswa-siswa SDN 3 Bukit Tinggi. Sebuah sekolah negeri yang berada jauh di dalam gawah (Hutan, bhs Sasak). Untuk kesana, separuh perjalanan kami tempuh dengan berjalan kaki. Melewati kebun-kebun aren yang lebat, lembab dan gelap, naik turun tanjakan, melewati sungai dan kebun-kebun di dalam hutan. Saya tekankan dalam diri saya, bahwa saya dan teman-teman saya datang kesana membawa semangat, jadi kami harus selalu bersemangat dan ceria. Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kami tiba di SDN 3 Bukit Tinggi. Ada perasaan sedih dan semacam iba ketika pertama kali melihat bangunan sekolah ini. Dua bangunan tua, satu bangunan menghadap barat dengan dua ruangan kelas dan satu ruangan kecil yang sempit dan gelap sebagai ruang guru dan tempat menerima tamu. Satu ruangan lagi mengahap utara dengan satu ruang kelas tua dan sebuah ruang kelas yang sedang di bongkar karena sudah tidak layak untuk di tempati, harus segera di renovasi. Sekolah ini dulunya adalah sekolah Filial dan baru tahun 2013 menjadi sekolah negeri. Kami mulai berkenalan dengan siswa-siswinya. Saya mewakili teman-teman relawan menjadi pemandu permainan pagi itu, kami bermain, bergerak ceria dan bersorak gembira, aku ingin mereka bergembira, senang karena kedatangan kami.



Setelah memperkenalkan diri kami kepada anak-anak, bel tanda masuk mulai di bunyikan. Oh iya maaf bukan bel, tetapi lonceng dari Velg motor yang digantung di sudut bagunan. Anak-anak berlari masuk kelas, mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh kakak-kakak ini.

Di kelas, saya memperkenal diri dan profesi saya sebagai seorang penyiar radio. Sebelum mengenalkan pada mereka apa itu penyiar radio saya mengejak mereka berkenalan dulu. Bertanya tentang cita-cita mereka dan tempat tinggal mereka. Disinilah saya mulai merasa bahwa selama ini terlalu banyak anak-anak manja di luar sana bahkan saya sendiri. Bagaimana tidak saya berpikiran seperti itu. Sebagian besar dari mereka bertempat tinggal jauh dari sekolah. Saking jauhnya mereka harus berjalan sebelum jam 6 pagi bahkan ada yang harus berjalan kaki sejak selesai sholat subuh untuk bisa datang tepat waktu ke sekolah dan belajar. Belum lagi medan perjalanan mereka tidak biasa, harus melewati semak belukar, kebun-kebun durian dan hutan aren. Banyak resiko untuk anak sekecil mereka bisa berada di kelas bersama saya dan seperti itulah hari-hari mereka. Lalu coba dengarkan ketika saya bertanya cita-cita mereka. Tidak ada anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter, perawat, pilot, bupati, gubernur apalagi penyiar radio hanya ada satu anak yang ingin menjadi Polisi itupun dengan sangat malu-malu. Sama sekali tidak ada. Cita-cita mereka : jadi guru, jadi uztad, jadi orang baik, masuk surga. Betapa mulia sekaligus polos cita-cita mereka. Tidak ada gambaran sama sekali bahwa dunia ini luas ada banyak hal dan cita-cita yang bisa mereka pilih sebagai tujuan mereka. Saya bertanya, adakah yang ingin menjadi penyanyi? Pemain film? Dokter? Atau Gubernur? Sebagian mereka menggeleng, sebagian lagi ragu-ragu untuk menjawab. Kemudia saya jelaskan pada mereka bahwa mereka punya kebebasan untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Mereka bebas menentukan cita-cita mereka sendiri lalu berusaha mengejarkan. Mereka punya kesempatan saya sama dengan anak-anak lainnya di seluruh dunia untuk memiliki cita-cita. Tidak ada satu orangpun yang boleh melarang mereka bermimpi dan mengejar mimpinya. Bahkan orang tua mereka. Kelak mereka akan hidup pada zaman mereka dengan tanggung jawab mereka sendiri, dengan kaki dan pikiran mereka sendiri. Merekalah yang akan menentukan mau dibawa ke mana hidup mereka. Saya katakan juga bahwa menjadi uztad, menjadi orang atau masuk surga itu adalah cita-cita yang sungguh mulia, tetapi kita juga bisa menjadi orang baik yang punya profesi seperti dokter, polisi, pegawai bank, pedagang, petani, dan sebagainya. Kelak kalau kalian ada yang menjadi dokter jadilah dokter yang baik hati yang menolong orang lain dengan penuh kelembutan dan kasih sayang pada sesama makhluk Tuhan. Kelak kalau kalian menjadi Gubernur jadilah gubernur yang baik dan Soleh/sholeha agar jalan masuk surga dilapangkan Tuhan. Kalian tetap bisa menjadi orang baik atau bercita-cita masuk surga bersama mimpi-mimpi kalian yang lain. Kalian bebas!



Rupanya saya terlalu emosi saat itu, sampai saya agak-agak kesulitan menahan haru karena mengingat masa-masa kecil saya dengan teman-teman saya cita-citanya kandas karena orang-orang terdekat mereka yang tak mengerti tentang hak setiap anak untuk punya mimpi. Mereka, siswa-siswa kelas IV SDN 3 Bukit Tinggi terdiam melihat saya begitu semangat berbicara. Beberapa ada yang terlihat ketakutan hehehe. Lalu untuk mecairkan suasana kami mulai bermain-main, bernyanyi dan saya mulai mengenalkan profesi saya sebagai seorang penyiar radio. Butuh pemikiran ekstra untuk menjelaskan pada mereka tentang pekerjaan saya ini, akhirnya saya mempraktekkan bagaimana seorang penyiar radio bekerja lalu saya meminta mereka satu persatu untuk maju dan mempraktekan bagaimana menjadi seorang penyiar radio, tentunya saya akan memberikan reward kepada anak-anak yang berani untuk maju. Saya sudah menyiapkan beberapa buku bacaan untuk mereka yang sekiranya kelak bisa mereka baca dan harapan saya semoga buku-buku itu menjadi indera mata dari saya yang membuat mereka satu saat kelak mengingat bahwa pernah ada orang yang datang kesekolahnya dan memberikannya semangat. Yah, saya berharap saat itu mereka telah bersama cita-cita mereka.

Pengalaman menjadi relawan di kelas Inpsirasi Lombok #1 memang luar biasa. Bukan hanya anak-anak yang mendapatkan inspirasi dari para relawan tapi kami para relawan juga benar-benar mendapatkan banyak inspirasi dan pelajaran berharga disana, tentang perjuangan, tentang tekad yang kuat dan kesederhanaan yang bersahaja. Anak-anak SDN 3 bukit tinggi Kec. Gunungsari adalah tipe anak-anak yang polos dengan bekal agama yang kuat, mereka sopan, teratur, hormat pada yang lebih tua, dan mereka punya semangat. Semoga kelak saya bisa berjumpa lagi dengan mereka.




#

Kelas Inspirasi Lombok #2

            Banyak teman-teman saya dari luar daerah yang pernah ikut Kelas Inpsirasi bilang bahwa ikut kelas Inspirasi itu bikin ketagihan. Tidak heran jika mereka ada yang sudah ikut kelas inspirasi hingga empat sampai lima kali di kota-kota yang berbeda. Tadinya saya tidak begitu percaya. Tapi pada akhirnya seperti itulah yang saya rasakan. Saya ingin lagi dan lagi. Hanya saja kesibukan saya sebagai seorang Ayah mudah tidak bisa saya tinggalkan begitu saja, saya harus bekerja, saya harus membantu istri saya menjaga dan merawat dua anak saya yang sedang lucu-lucunya dan ditambah lagi banyak rencana saya berdua dengan istri saya yang harus terealisasi dalam waktu dekat plus belum memadainya keuangan untuk bisa pergi-pergi jauh ke luar daerah. Otomatis saya harus bersabar dan tidak bisa ikut kelas inspirasi di luar daerah padahal saya sangat ingin mengetahui dan mengenal anak-anak lain di sudut-sudut negeri ini. Pun saya ingin berkenalan dan bersahabat dengan orang-orang berhati hebat dari seluruh Indonesia yang menjadi relawan Kelas Inspirasi. Tapi saya pikir, ini hanya masalah waktu, pada saatnya saya pasti punya kesempatan untuk itu. Saya yakin. 

           Kabar baiknya, Kelas Inspirasi Lombok #2 akan segera diadakan. Kali ini mengambil lokasi di beberapa sekolah di Desa Tete Batu - Lombok Timur. Karena beberapa kesibukan saya sampai belum berani mengiyakan teman-teman yang mengajak saya ikut menjadi relawan lagi. Saya ucapkan dalam hati, saya sudah punya niat untuk ikut Kelas Inspirasi Lombok #2, dan saya akan berusaha untuk ikut, bagaimana hasilnya nanti, bisa atau nggak saya tidak akan kecewa karena paling tidak saya sudah pasang niat dan berusaha. Alhamdulillah proses izin di sekolah tempat saya mengajar tidak ribet, Istri saya juga sangat mendukung, maka sayapun mulai bersiap. Masalah nanti saya akan ditempatkan di SDN mana dan bersama kelompok mana saya tidak pikirkan yang terpenting dan paling menyenangkan saya bisa konfirmasi keikutsertaan saya pada panitia lokal. Toh, saya selalu suka bertemu orang-orang baru apalagi orang-orang baru kali ini adalah relawan-relawan yang saya yakin punya visi dan misi yang sama seperti relawam kelas inspirasi lainnya di seluruh Indonesia.

       Subuh-subuh saya sudah tancap gas menuju Desa Tetebatu dari Kota Mataram. Saya bergembira. Sangat gembira. Volume musik di earphone saya set ke volume akhir. Pagi itu pejalan saya ditemani oleh Coldplay, Padi, Beyonce dengan Rise Up nya, The Script dengan Superheroes-nya dan beberapa nasyid dari Maher Zain dan Opick. Ini trik saya untuk menikmati perjalanan, membangkitkan semangat, membuat hati tetap lunak alias peka, dan motivasi untuk selalu positif. Mungkin bagi beberapa orang ini agak absurd . Well. It’s my own way, yang terpenting saya tetap hati-hati di jalan dan tidak merugikan orang lain. Selama perjalanan saya membayangkan akan bertemu anak-anak yang lugu, lucu, dan saya membayangkan hari ini akan penuh semangat. Memasuki kawasan Tetebatu setelah lebih kurang 40 menit perjalanan saya semakin senang saja, bagaimana tidak, Tetebatu pagi itu menyajikan pemandangan yang luar biasa Indah, hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning dan di ujung sana berdiri kokoh dan megah Gunung Rinjani yang perkasa dengan kabut-kabut yang masih enggan pergi dari badannya. Subhanallah, saya semakin merasa bahagia saja rasanya, tak henti-henti saya berucap syukur atas semua ini. Allah memang Maha Sempurna.

      Spanduk selamat datang relawan Kelas Inspirasi Lombok menyambut kami para relawan di depan kantor desa Tete Batu. Sekian menit berlalu teman-teman relawan mulai berkumpul dan kami mulai berkenal satu sama lain. Sayapun mulai mencari teman sekelompok saya dan di SD berapa saya akan ditugaskan. Saya bertemu Anggi, Bayu, Agus, Dodik, Ifath dan Salman, kami bertuju akan bertemu dengan anak-anak di SDN 6 Tetebatu. Setelah sedikit briefing dan berdoa kami mulai menuju ke sekolah asing-masing.

     Setelah berkenalan dan sedikit berbincang dengan kepala sekolah kami mulai masuk ke kelas yang sudah di jadwalkan. Jadwal pertama saya akan mengajar di kelas tiga. Mantap langkah saya menuju kelas tiga. Anak-anak rupanya sudah menunggu, mereka duduk rapi, terlihat malu-malu dan ada yang ketawa-ketawa kecil. Mereka pasti bertanya mau apa orang ini. Saya tersenyum lalu menyapa mereka. Tidak banyak yang berani bersuara. Saya sapa lagi dengan lebih ceria dan saya katakan saya di sini untuk mengajak mereka bermain. Barulah mereka bersuara dengan lepas. Selama hampir 15 menit saya mengajak mereka bermain dan bernyanyi sebagai Ice breaker sampai terlihat bahwa mereka mulai menyukai saya. Saya mulai memperkenalkan diri, tapi tidak mengenalkan profesi saya. Saya juga meminta mereka mengenalkan diri satu persatu ke depan kelas. Awal-awal mereka malu-malu lama kelamaan sama sekali sudah tidak ada malu dan yang ada saya malah kewalahan karena beberapa diantara mereka mulai mencari-cari perhatian. Berbicara cita-cita, anak-anak SDN 6 Tetebatu punya cita-cita yang sudah bervariasi, ada yang ingin menjadi Tentara, Polisi, Dokter, Guru, Presiden, Penyanyi dan ada yang ingin menjadi Sopir Bus. Lalu saya mulai memperkenalkan profesi saya, cita-cita saya dulu dan bagaimana cara supaya kita bisa meraih cita-cita. Nampaknya beberapa mereka tidak tertarik pada apa yang saya jelaskan. Mereka minta bermain-main dan main terus. Saya sudah siapkan senjata untuk masalah ini. Saya keluarkan laptop lalu memutar video tentang kegiatan penyiar radio yang saya buat bersama teman saya di Radio. Hasilnya mereka tertarik dan senang sekali.

      Namun ada beberapa hal yang membuat sedikit sedih dari anak-anak di SDN 6 Tetebatu, mungkin ini juga terjadi di sebagian besar anak-anak kita di Indonesia, mereka tidak sepolos anak-anak di SDN 3 Bukit Tinggi, mungkin karena di sini (Tetebatu) akses informasi lebih memadai yang menyebabkan anak-anak banyak meniru artis-artis sinetron di TV. Saya agak shock waktu melihat ada anak yang memakai rok lebih dari sejengkal di atas lutut, kemudian ada anak yang rambutnya di bikin bergelombang blow seperti artis-artis sinetron. Lalu ketika saya tanyakan di rumah paling suka nonton apa? Dengan lancar dan bangga mereka menyebutkan beberapa sinetron yang sedang tenar di televisi belakangan ini. Nyaris tak ada yang menyebutkan acara anak-anak. Saya sadar dan yakin ini bukanlah kesalahan dari anak-anak, tetapi ini adalah pekerjaan rumah kita bersama selaku orang dewasa untuk megawasi dan membatasi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh ditonton oleh anak-anak. Karena sebagian besar hal-hal yang ditampilkan televisi adalah contoh yang tidak baik. Berkelahi, Bullying, berkata kasar, hamil diluar nikah, dan melawan orang tua. Saat ini mungkin mereka hanya meniru cara mereka berpakaian dan berdandan, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan mengikuti hal-hal buruk lainnya? Tentunya ini harus menjadi kekhawatiran kita bersama sebagi orang dewasa. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang digadang-gadang menjadi pemimpin di masa depan. Bagaimana caranya kita mendapatkan calon pemimpin jika hal-hal yang mereka saksikan sehari-hari tidak sesuai dengan perkembangan usia dan tujuan mereka di didik? Belum lagi ada anak-anak yang hafal nama-nama minuman keras, nama-nama obat terlarang. Aduh, saya yakin ini semua pengaruh televisi yang kebablasan. Harus ada tindak lanjut dari kita, guru, maupun orang tua.

    Saya tegaskan pada mereka bahwa mereka adalah calon orang-orang besar di masa depan. Siapa tahu di antara mereka ada calon bupati masa depan, calon gubernur, calon dokter, atau mungkin calon presiden di masa depan. Mereka adalah harapan bangsa ini, maka dari itu mulailah untuk belajar lebih giat, kurangi menonton tv dan jangan mengikuti cara-cara artis di tv berpakaian apalagi berprilaku karena mereka masih SD, masih kecil. Suatu hari jika mereka dewasapun tetap tidak boleh. Entah mereka mengerti atau tidak tapi saya lihat mereka diam mendengarkan, ada yang menganggung-angguk ada juga yang menunjuk-nunjuk temannya. Saya katakan mereka tidak pantas berpakaian Edy, karena itu bisa mengundang bahaya.

   Di kelas-kelas berikutnya tidak jauh berbeda dengan kelas tiga. Saya merasa tertantang dan berkewajiban untuk mengingatkan mereka. Harapan saya semoga pihak sekolah menyadari hal ini dan mulai memberikan pemahaman serta pengawasan kepada siswa-siswa yang baik ini. Inilah tugas utama kita sebagai orang dewasa, orang tua dan guru. Di mata anak-anak sekarang hebat itu adalah ketika mereka hafal nama-nama artis, judul-judul lagu, dan sejenisnya. Hebat menurut mereka ketika mereka bisa mengikuti seorang artis idola mereka tak peduli itu baik atau tidak dan ini sangat memprihatinkan. 

        Finally di Kelas Inspirasi Lombok #2 ini kenyataannya membuka mata saya bahwa negara kita ini sudah sedemikian terkontaminasinya oleh budaya asing. Jika di Tetebatu saja anak-anak sudah mengenal beberapa hal dari televisi yang seharusnya tidak mereka kenal, bagaimana dengan anak-anak di kota-kota yang mendapatkan akses informasi begitu cepat dan bisa diakses Diana saja mereka mau? Kalau bukan kita sebagai orang tua, guru dan orang dewasa siapa lagi yang akan menyelamatkan generasi penerus bangsa ini? Percayalah saat ini kita sedang di serang. Kita sedang di serbu oleh musuh-musuh kita yang-entah-siapa atau mungkin kalian-tau-siapa lewat media-media yang berusaha membuat anak-anak negeri ini krisis moral lalu hancur. Percayalah kita saat ini tengah berperang melawan pengaruh-pengaruh buruk itu. Pilihannya, terus berperang atau ikut terseret arus budaya asing yang merusak?


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community