May 11, 2015

Ketika Hal-hal Buruk Terjadi Dalam Hidupmu

Jika ini luka fisik. Setahun mungkin waktu yang lebih dari cukup untuk membuatnya sembuh dan tak meninggalkan bekas lagi. Sel-sel kecil di dalam kulit bisa jadi sudah kembali tumbuh dalam jumlah yang banyak, ratusan, ribuan dan mungkin saja jutaan. Rasa sakitnya pun sudah jelas tak akan banyak kita ingat karena apalah pentingnya mengingat-ingat rasa sakit kulit yang luka. Dengan sendirinya ia akan memudar lalu menghilang. Bahkan setelah setahun kita sudah lupa dibagian mana pernah terluka, siapa yang melukai bisa jadi sudah bukan hal yang penting lagi. Tetapi ini adalah luka hati. Apakah obatnya? Jelas tidak mungkin dengan menyanyikan lirik-lirik lagu Geisha yang berjudul Lumpuhkanlah Ingatanku bisa menghapus luka hati begitu saja, jelas aku tidak mau hilang ingatan. Itu lelucon garing.

Sejak dulu, aku selalu menjaga diri agar tidak membenci siapapun di sekitarku. Aku banyak membaca dan memahami betapa membenci itu selain tidak baik juga bisa menyiksa diri. Point "tidak baik"-nya dulu-dulu aku sudah mengerti tapi point "menyiksa diri" itu justru yang belakangan ini aku rasakan. Kau tahu kawan, membenci itu buatku benar-benar sebuah penyiksaan lahir bathin. Iya, penyiksaan. Bisa kau bayangkan bagaimana tersiksanya ketika terus-terusan mengingat orang yang telah membuatmu begitu terluka, sangat menguras tenaga dan hati mengingat kata-kata dan prilaku seseorang yang membuatmu begitu merasa sakit, terhina dan tak dihargai. Siang malam kata-kata negatif yang terlanjur terlepas memenuhi pikiranmu, lalu dadamu mulai bergemuruh menahan amarah, kembang kempis karena sesak ingin meledak. Sementara matamu mulai panas, gigimu gemeretak, geram ingin menikam. Namun beruntung jika kamu masih mendengarkan hati kecilmu, beruntung karena ada sebagian kecil dari pikiranmu yang melarangmu untuk melakukan hal yang sama seperti yang orang itu lakukan, mencaci, memaki, menghina, menghardik, mencela dan men-men buruk lainnya. Kadang ketika aku ingin mengeluarkan hal-hal seperti itu selalu saja terbersit dalam pikiran dan hatiku sebuah petuah, jika aku melakukan hal yang sama untuk membalasnya lalu apa bedanya aku dengan mereka?  Tak akan ada yang lebih baik. Walaupun memendam itu justru semakin lebih sakit. 

Kau tahu kawan, memendam amarah, memendam sakit hati, memendam rasa galau dan kecewa adalah pembunuh yang telah menewaskan banyak orang. Aku percaya jika sumber penyakit itu selain berasal dari luar (seperti makanan, virus, dll), sebagian besar berasal dari dalam diri kita. Dari hati dan pikiran kita. Pikiran dan hati menjadi tidak karuan karena memikirkan perkataan dan perbuatan buruk orang lain kepada kita, ini akan berdampak pada sistem imunitas kita bisa jadi karena otak kita lelah, hati kita letih menyebabkan sel-sel banyak yang mati, makanpun menjadi tidak selera karena luka dan amarah. Jika sudah demikian siapa yang rugi? Begitulah membenci itu bukan perkara mudah. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengikhlaskan? Ikhlaspun tak kalah sulitnya.

Tak jarang aku menghibur diri dengan mencoba melupakan. Menguatkan diri dengan menasehati diri tentang keikhlasan dan kerelaan namun itu hanya bisa membantu sedikit itupun ketika kamu tidak melihat atau mendengar orang yang telah membuatmu terluka. Begitu ia muncul lagi, ingatan itu kembali lagi dengan sendirinya, membawa kembali sesak di dada dan kegeraman yang seolah bau saja terjadi. 

Perkara melupakan. Apa daya kita? Sampai detik ini aku masih belum tahu bagaimana cara melupakan. Mengingat bisa kita upayakan dengan banyak hal. Ada kamera, ada tulisan, ada banyak lagi hal lain yang bisa kita gunakan untuk mengingat sesuatu. Lalu melupakan? apa yang harus saya lakukan untuk melupakan? Janan bilang lagi saya harus menyanyikan lagu Geisha tadi! Satu-satunya yang aku lakukan adalah berdoa, memohon pada Allah akan hatiku bisa lebih sabar, lebih lapang dan lebih kuat. Hanya Allah yang selalu menjadi tumpuanku saat dada bergemuruh hebat menahan sakit hati dan amarah. Hanya Allah yang menjadi harapanku agar aku bisa melupakan, dan memaafkan. Sejujurnya, terkadang aku selalu berharap agar Allah memberikan pelajaran kepada mereka agar lebih sadar dan mengerti bagaimana cara menggunakan mulut dengan baik dan benar dalam berbicara. Terkadang aku berpikir, bisa jadi orang seperti ini adalah orang yang terlalu mengagungkan otak mereka sehingga mereka melupakan hati mereka dan hati orang lain. Hati itu buatan Tuhan yang paling sensitif, bukan dari batu, bukan juga buatan China yang ketika rusak kita bisa ganti dengan mudah. Terkadang juga aku berdoa dengan permintaan-permintan yang terlalu kejam tapi seperti itulah ketika hati ini sudah terlampau sakit dan aku tidak mungkin untuk membalas mereka dengan hal yang sama. 

Memang, berkali-kali muncul dalam pikiran untuk membalas mereka. Merencanakan hal-hal buruk. Tapi syukurlah bekal nasehat kebaikan dari orang tuaku sejak kecil sudah mendarah daging dan selalu saja muncul bahkan ketika aku ingin jahat pada orang-orang yang meremehkanku. Jawaban-jawaban atas segala sakit hati, kecewa selalu muncul sendiri dalam hati kecilku. Misalnya ketika aku mengeluh pada Allah sehabis sholat, kenapa aku harus dipertemukan dengan segerombolan orang-orang yang tak menyukaiku? Seketika selalu ada jawaban dari hati kecilku yang menghibur sekaligus menguatkan. Bisa jadi mereka dikirimkan Allah untuk membuatku selalu dekat dengan Allah, Bisa jadi mereka ada agar aku terbiasa kuat dan sabar, bisa jadi bukan mereka yang dkrimkan untukku tapi aku yang dikirimkan untuk mereka dengan misi dakwah, aaah.. hati kecil ini. Selalu punya jawaban seluas lautan untuk setiap kekecewaan, keterpurukan dan luka. Aku percaya, hati kecil siapapun selalu suci dan memberikan jawaban-jawaban atas kegelisahan manusia hanya saja ada sebagian orang yang pikiran mereka terlalu dominan dan sering mengabaikan kekuatan dan kesucian hati.  Kalimat yang menjadi pamungkas ketika aku teringat dan teringat lagi dengan hal-hal buruk itu adalah "Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita, sebaik apapun kita sama seperti kita yang tidak mungkin juga menyukai semua orang". 

Untuk beberapa hal aku bersyukur juga dengan kejadian-kejadian buruk dalam hidupku. Paling tidak aku jadi tahu seperti apa aku di mata beberapa orang, ini bisa jadi bahan untukku memperbaiki diri. Sakit memang tapi begitulah hidup, kita dituntut untuk melewati rasa sakit dan tantangan-tantangan untuk bisa kembali menciptakan kebahagian dan mendapatkan pengalaman hidup yang berharga. Lagi pula, hati dan hari-hari kita terlalu berharga untuk terus mengingat hal-hal buruk. Pelan-pelan mari belajar melupakan, mungkin step awal dengan mengabaikan rasa sakitnya walaupun untuk ini mau tidak mau aku juga mengabaikan orangnya. Entahlah ini benar apa tidak yang jelas aku berjuang agar hatiku selalu sehat dan bebas dari penyakit. Aku tidak mau terlalu banyak dan terlalu menyimpan luka dalam hati, aku ingin panjang umur, ingin melihat anak-anakku tumbuh besar dan menjadi orang hebat dalam bimbinganku. Jika aku tidak bisa mengubah pandangan buruk mereka terhadapku, mungkin sudah waktunya aku untuk mengabaikan saja dan melakukan hal yang lebih bermanfaat dan sehat untuk hatiku, anak istriku dan keluargaku toh Allah tidak pernah tidur, aku selalu percaya Allah tahu tetapi menunggu waktu yang tepat untuk memberikan karmanya. Semoga saat itu aku bisa menyaksikannya. Wallahualam.
Inilah aku, manusia biasa yang terkadang hatinya juga bisa terluka meski sekuat apapun aku menahannya dan aku selalu memaafkan walaupun aku tidak bisa melupakan. Bukan salahku kan jika aku tidak bisa lupa? Lalu salah sapa? Entahlah....

Selamat menikmati dan belajar seni hidup!


*Ditulis ketika bayangan dan gaung kata-kata busuk itu mengisi kepalaku, tapi diakhir postingan ini, aku tersenyum dan berucap syukur Alhamdulillah... Allah punya sejuta cara menyampaikan pengajaran dan kasih sayangnya, bisa jadi ini adalah salah satunya. (11/05) 



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community