May 6, 2015

Tentang Menjadi Seorang Guru

Jadi sekarang ini saya sudah mengajar di salah satu sekolah negeri. Sejak memulai mengajar lebih kurang dua bulan yang lalu saya bisa melihat dengan lebih dekat bagaimana belajar mengajar dan aktifitas di sekolah itu. Khususnya di Sekolah Dasar tempat saya mengajar ini. Jika dulu saya agak-agak ogahan mengajar karena membayangkan anak-anak yang nakal dan susah diatur lalu, guru-guru yang suka membuat blok-blok dalam bergaul seperti sekolah tempat saya ngajar beberapa tahun lalu sampai karena gaji yang dibawah standar. Maka sekarang saya sudah tidak memikirkan itu semua. Bagi saya sekarang adalah bagaimana memberikan manfaat untuk negeri ini walaupun hanya setitik manfaat paling tidak saya tidak tinggal diam menyaksikan atau protes sana sini tapi tidak bergerak untuk turun tangan. Paling tidak dengan saya mengajar dengan tulus saya bisa memberikan semangat, motivasi dan menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak-anak yang memang harus kita akui bersama belakangan ini masalah moral menjadi masalah yang selalu menjadi headline di media-media. Tentang segala tindakan menyimpang mulai dari bullying, pelecehan, dan kekerasan fisik yang dilakukan anak-anak dan remaja kepada temannya. Ini sangat mengkhawatirkan. Menyaksikan hal-hal seperti itu ada di sekeliling kita apakah lantas kita akan diam saja? 

Jujur saja dulu saya memang ogah menjadi seorang guru. Karena saat itu orientasi saya semata-mata adalah uang. Mana mungkin saya bisa mendapat uang banyak jika saya menjadi guru?. Saya memutuskan untuk lebih fokus ke hal lain ketimbang harus bercapek-capek pulang pergi kesekolah dengan segala masalahnya dan dibayar dibawah standar. Saya lebih baik mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan finansialnya. Saya rasa untuk seorang mahasiswa yang berasal dari anak seorang petani dengan penghasilan pas-pasan pemikiran seperti itu adalah wajar. Mengingat biaya kuliah yang tinggi dan waktu yang panjang. Jadi yang terbersit di otak adalah bagaimana caranya mendapatkan kematangan finansial setelah lulus kuliah agar bisa segera membahagiakan orang tua. Seperti itulah pemikiran saya dulu yang membuat saya tidak mengajar setelah lulus kuliah keguruan walaupun saat itu kakek saya membuka jalan untuk saya menjadi seorang pengajar di sebuahg Sekolah di tempat kelahiran saya. Saya memili hal lain. Bahkan saya juga pernah enggan mengikuti sebuah tes pegawai negeri sipil karena pada dasarnya saya memang merasa belum siap untuk mennajdi seorang guru. Seorang panutan.

Beberapa tahun kemudian saya menyadari dan mengerti. Semua terjadi karena Allah mengaturnya. Saya memang butuh sikap yang matang untuk menjadi seorang guru. Saya harus banyak belajar lagi, Maka saya lupakan sejenak titel saya di ijazah terakhir. 

Belakangan setelah mengikuti berbagai macam kegiatan sosial, aktif mengikuti isu-isu sosial dan pendidikan di Indonesia, saya mulai tergerak untuk bagaimana caranya agar saya bisa melakukan sesuatu untuk negeri saya ini. Bagaimana caranya saya bisa memberikan kontribusi yang baik walaupun kecil untuk dunia pendidikan negeri ini. Saya sadar saya memang tidak pintar, saya juga bukana ahli dalam bidang penndidikan tapi saya yakin saya bisa memberikan paling tidak semangat dan nilai-nilai kebaikan untuk anak-anak, karena saya yakin letak permasalahan anak-anak negeri ini yang banyak melakukan penyimpangan adalah karena kurangnya motivasi untuk menjadi baik, kurangnya pendidikan karakter yang membuat mereka memiliki seorang role model yang baik untuk di tiru. Saya percaya kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk mengidolakan seseorang yang lainnya. Mereka mengidolan seseorang tentu karena ada alasannya. Maka saya ingin mereka mengidolakan hanya orang-orang baik, pahlawan-pahlawan negeri ini, nabi-nabi Allah, Sahabat-sahabat Nabi, orang tua mereka atau siapa saja orang baik yang bisa mereka tiru. Tentunya guru adalah jembatan untuk itu. Guru harus mengambil alih mereka dari dunia yang tidak selayaknya mereka ada disana. Dunia sinetron, pergaulan yang kebablasan, dunia gadget yang mewabah, dan lainnya yang merupakan salah satu faktor penyebab merosotnya moral anak bangsa, sumber sikap apatis dan skeptis anak-anak negeri.

Saya sadar saya hanyalah orang biasa dengan sejuta kekurangan. Saya tidak memiliki banyak kekuatan untuk mengubah pandangan orang lain tapi saya percaya dengan selalu memperbaiki diri dan memperlihat contoh yang baik, pelan-pelan jalan terang akan terbuka. Mungkin itu semua akan menjadi tantangan yang berat dan butuh perjalanan yang panjang tapi mari berpikir kita dikarunai dua tangan yang sehat, dua kaki yang masih kuat, pikiran yang masih bisa digunakan, dan hati yang masih peka, akan kita gunakan untuk apa jika tidak untuk memberikan manfaat bagi orang lain? Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya? Imbalan? saya pikir tak akan ada manusia yang mampu membayar sebuah ketulusan. Biarlah Allah yang memberikan imbalan kelak di Akhirat. 

Tapi jika masih ada teman-teman yang ingin kaya dan berpenghasilan banyak dengan profesi sebagai guru, saya sarankan sebaiknya cari profesi yang lain. Menjadi guru adalah pekerjaan keikhlasan. Saya yakin hari-harimu akan selalu buruk jika kamu menjadi guru yang setiap hari memikirkan gaji. 

"Mendidik adalah kewajibab orang terdidik" Anies Baswedan

(ditulis disela-sela jam istirahat di sekolah tempat Allah menitipkan saya, 6 Mei 2015)





Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community