May 8, 2015

Tentang Novel Tambora 1815

Malam ini sembari menemani anak saya Quin bermain karena belum juga ngantuk saya melanjutkan kembali membaca novel Tambora 1815 karya mas Paox Iben setelah dua hari tertunda karena sulitnya menemukan waktu yang pas untuk membaca dengan nyaman dan tenang. Saya adalah tipe orang yang kalau membaca sebuah buku itu harus pelan-pelan, rileks dan tenang. Saya bisa membaca cepat sebuah novel tebal tapi saya tidak suka sesuatu yang saya sukai itu habis terlalu cepat. Saya ingin menikmatinya pelan-pelan, penuh penghayatan dan imajinasi. Karena itu meski terkadang ada waktu di sela-sela istirahat kerja saya memilih untuk tidak membacanya, saya lebih memilih membaca ketika saya sedang menunggu motor saya selesai di cuci di pencucian motor, semakin lama motor selesai semakin senang saya. hehehe.

Note : Postingan saya kali ini anggaplah ini semacam kata hati saya sebagai pembaca dan penggemar sebuah novel, jangan anggap ini review sebuah buku seperti yang ditulis reviewers (bener gak tuh sebutannya) kelas atas itu. Saya takutnya kalian yang membaca postingan ini kurang puas dengan sedikit kesan saya tentang Novel Tambora 1815 ini. Ini real apa yang saya rasakan ketika dan setelah membaca novel hebat ini.

Dan malam ini tuntas juga saya membaca novel hebat karya mas Paox Iben ini. Sejak memulai membaca, saya seperti sedang berada di antara kecamuk dan hiruk pikuk zaman itu, ketika Belanda membuat negeri ini saling berperang satu sama lain, saya membayangkan bagaimana menderitanya para budak-budak belian, saya juga larut dalam kekaguman saya pada Rafless yang mencintai Batavia, di novel ini saya baru benar-benar mengenal sosok Rafless sang penemu Bunga Raflesia itu (moga bagian ini bukan fiksi ya mas Paox). Pun saya tak bisa alihkan perhatian saya pada kisah hidup dan cinta Wa Sni' yang terombang-ambing seperti sehelai bulu yang diterbangkan angin, saya memuji kehebatan mas Paox menciptakan Karakter Rahmat yang bisa dibilang seorang pemuda idaman yang mencintai agamanya, ilmu pengetahuan, persahabatan, dan petualangan, komplit!

Tentang Tambora, saya rasa tujuan mas Paox yang ingin agar novel ini menjadi semacam jembatan imajinasi buat semua orang tentang Kemegahan sekaligus kedahsyatan Tambora Akan tercapai. Hasil Penelitian dan blusukannya berhasil membuat saya merasakan kedahsyatan amarah sang Khaliq lewat letusan Tambora 1815. Saya dibuat merinding, terharu dan kadang-kadang shock! Betapa tidak letusan Maha Dahsyat itu memporak porandakan begitu banyak tempat, menyisakan penderitaan berkepanjangan dan melenyapkan peradaban lama. Tapi saya selalu percaya, selalu ada alasan untuk setiap kejadian, Allah punya rencana sendiri untuk manusia-manusia yang juga punya rencana-rencana entah itu rencana baik atau rencana jahat. 

Di novel ini saya membayangkan subur dan makmurnya negeri kita ini dulu. Orang-orang bertani, berladang dan mengambil seperlunya dari alam. Mereka hidup dengan penuh hormat pada alam sekitarnya. Yah, alam juga memiliki rasa. Pohon-pohon, bebatuan, gunung, tanah dan langit semua punya rasa dan roh. Mereka memberikan banyak manfaat untuk manusia sampai akhirnya manusia sering lupa diri, teritama ketika penjajah Belanda mulai menjejakan kaki dan mengadu domba serta menanamkan nilai-nilai buruk pada orang-orang di negeri ini demi kepentingannya untuk menguasai habis-habisan. Keseimbangan alampun mulai terganggu. Suatu hari alampun bisa marah. Tuhan meang maha pemaaf tapi alam, TIDAK!

Tokoh antagonist yg diciptakan mas Paox almost perfect! Saya kira penggambaran karakternya akan sukses membuat orang-orang begitu membenci sifat culas, serakah dan sombong sang La Banga,  dan beberapa tokoh lainnya yang kita harapkan bersama hasilnya akan membuat semua orang semakin mengenal jelas seperti apa sifat-sifat buruk yang harus kita hindari untuk menjauhkan diri dari murka alam. Murka Allah.

Terimakasih banyak mas Paox! Novel ini penuh pengetahuan sejarah dan pelajaran moral yang tinggi. Banyak sekali hal-hal baik yang saya dapatkan dalam novel setebal 300 halaman ini. Walaupun di bagian-bagian tertentu novel ini mengingatkan saya pada kisah Pompeii dan kisah Mr. Pi di Life of Pi, overall saya amat sangat menyukai hasil perpaduan imajinasi, pemikiran dan racikan Ayahnya Sankan, Majes dan Bretelya ini. Ibarat Masakan Sepat sari  Sumbawa, novel ini diracik cermat dengan beraneka ragam bumbu pilihan terbaik dari kebun sendiri yang menghasilkan cita rasa yang selalu mengundang lidah untuk terus mengecapnya lagi dan lagi bahkan ketika bertahun-tahun sepat selalu di rindukan... Seperti itu kira-kira novel Tambora 1815 ini buat saya.

Saya sangat merekomendasikan novel ini buat siapa saja yang menyukai kisah-kisah sejarah, romantisme manusia alam,  dan yang menyukai cerita-cerita tentang masa lalu sebuah daerah yang dalam novel ini kamu akan mengenal beberapa hal tentang Bima, Dompu, Sumbawa, bahkan Batavia. 

Kalian harus baca!


Quotes :
  • Setiap orang memiliki kesempatan dan keberuntungannya masing-masing 
  • Bagi para pelaut, gunung arah mata arah yang penting. Gunung akan menjadi tanda, baik arah maupun cuaca
  • Gadis bermata lautan 
  • Kini saatnya kau berdiri di atas kakimu sendiri. Menyusun sejarah hidupmu.
  • Keris ini. Hanya sebuah barang. Orang menyebutnya senjata. Tapi bukan itu. Jika senjata itu maksudnya untuk melukai atau membunuh, sapu lidipun bisa digunakan untuk melukai atau membunuh. Keris ini dibuat agar memiliki nilai. Aji. Makna yang mengikat pemegangnya. Karenanya ia di sebut Tosan Aji. Agar pemakainy mengaji. Menghargai kehidupan. Menjadi Sangaji...
  • Kita wajib bersahabat dengan siapapun meskipun ia musuh atau orang yang akan mencelakai kita. Namun kita juga wajib membela diri apabila didholimi, Maka kenali musuhmu sebagaimana engkau mengenali dirimu. Insyaallah engkau akan selamat.
  • Mengapa aku selalu rindu padanya meskipun ia sedang berada di sampingku?
  • Cinta memang sungguh ajaib. Aku belum pernah mengucapkan kata cinta padanya. Tapi aku tahu pasti bahwa aku mencintai Aisyah, dia pun aku rasa begitu.
  • Itulah gunanya ilmu pengetahuan agar kita tidak terjerumus pada kesombongan
  • Yang lama akn tumbang digantikan oleh tatanan baru, daun kering gugur menjadi humus digantikan tunas-tunas bermekaran. Demikianlah daur hidup memenuhi ketetapannya...
  • Gunung ini telah lama tidur. Ia akan bangun untuk menyapa semesta dengan geletarnya. Terasa seperti amarah yang berkobar, tapi itu hanya bahasa lain dari kasih sayang semesta untuk perubahan itu sendiri.
  • Dengan ilmu dan pengetahuan, hidup ini menjadi indah dan luas. Dengan kecukupan ilmulah engkau akan memiliki sayap untuk mengarunginya...
  • Sepertinya Tuhan sedang menghukum semua orang
  • Ya, dan memilih siapa yang layak meneruskan kehidupan untuk membangun peradaban baru yang lebih baik..


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community