Jun 30, 2015

Hindari Pertanyaan Ini Ketika Acara Reuni atau Buka Bersama

Hari-hari Ramadhan terus berlalu, gak terasa sekarang sudah hari ke 13. Hampir separuh. Bagi orang yang menikmati hari-hari puasanya Ramadhan akan terasa begitu cepat dan sebentar lagi akan menyisakan kerinduan. Bagi orang-orang yang tidak begitu menikmati maka hari-hari terasa berjalan lamban dan membosankan. Begitulah kita. Ketika bahagia rasanya waktu melesat begitu cepat, ketika sedih dan terpuruk hari-hari terasa berat dan berjalan lambat. Semoga apapun keadaan hari-hari kita, selalu ada tersisa ruang dalam jiwa untuk bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan.

Biasanya menjelang pertengahan Ramadhan undangan acara buka bersama mulai berdatangan. Bersyukurlah kamu yang punya banyak teman dan komunitas atau organisasi. Bisa dipastikan undangan buka bersama akan datang beruntun. Alhamdulillah masih selalu ada yang mengingat dan mengharapkan kehadiranmu. Tak ada yang lebih menyakitkan dari dilupakan oleh teman atau sahabat atau organisasi dimana kamu pernah aktif dan bahagia yang sangat adalah ketika teman-temanmu selalu mengingat, dan mengharapkan kehadiranmu di tengah-tengah mereka, berbagi bahagia bersama mereka. 

Hanya saja di usia sekarang, saat kita bukan lagi mahasiswa, bukan lagi anggota aktif sebuah organisasi moment buka bersama yang dirangkai dengan reuni ini kadang-kadang membuat saya agak gerah dan terganggu. Bukan karena udara yang pengap tapi karena -entah sengaja atau enggak- tema pertemuan yang berharga ini sering dikerdilkan hanya untuk saling bertanya pekerjaanmu apa? udah nikah belum? anakmu berapa sekarang? Parah lagi kalau ada yang nanya gajimu berapa atau istrimu berapa? hahahaha

Sungguh saya tidak menyukai sebuah reuni yang isinya cuma itu itu terus. Bukan berarti saya gak punya pekerjaan, gak punya istri atau gak punya anak, tapi makna reuni itu sendiri yang menjadi hilang karena pertanyaan pertanyaan itu. Reuni yang seharusnya diisi dengan mengenang hal-hal indah seru dan mungkin menyakitkan di masa lalu berubah membosankan ketika pertanyaan tentang kerjaan, bisnis, dan rumah tangga mendominasi. Bukannya tidak boleh bertanya tapi alangkah baiknya nanti saja ketika acara kumpul-kumpul bersama hampir atau sudah selesai. 

Bayangin aja, kita udah semangat sekali untuk bertemu teman-teman lama yang kita rindukan dan kita nanti-nantikan, momen untuk bertemu malah berganti dengan tema seperti di atas. Kalau mau bicarakan itu kenapa tidak lain kali saja. Reuni itu moment berharga untuk sekelompok orang yang sudah lama tidak bertemu dan ngobrol asik seperti ketika mereka masih bersama. Bayangkan bagaimana tersiksanya perasaan teman-teman yang mungkin belum menikah, belum punya anak, belum berpenghasilan tetap? Bisa jadi acara reunian semacam itu akan menjadi acara yang paling menyiksa dan bisa jadi selanjutnya akan menjadi momen yang ia hindari. 

Kita mungkin menganggap pertanyaan-pertanyaan semacam itu biasa tapi bagi seseorang barangkali itu bisa membuatnya terluka dan sedih. Belum lagi kelompok-kelompok yang kalau reuni dijadikan ajang pamer keberhasilan dan kejayaannya. Saya bener-bener merasa gak nyaman dan tidak suka!

Biasanya teman reunian adalah teman kita seperjuangan, yang pernah melewati masa-masa sulit bersama, masa-masa penuh perjuangan dan penuh keseruan, kenapa gak membicarakan hal-hal ringan saja yang bisa membuat suasana seru dan hangat, topik pembicaraan yang bisa membuat semua menertawakan masa lalu sesedih atau sejelek apapun. Saling memaafkan atas kesalahan-kesalahan masa lalu saya kira lebih bagus dari pada memamerkan jumlah penghasilan, jumlah anak, jumlah mobil atau rumah. Apalagi sampai memamerkan jumlah istri. Parah!

Ramadhan tak akan lama lagi, semoga acara buka bersama teman-teman plus reuniannya tidak membosankan dan berjalan dengan bahagia. aamiin...


(Ditulis sambil menunggu motor kelar di cuci. 30/06)


The UnPlan


Comments
1 Comments

1 comment:

Berkicau

Community