Jun 22, 2015

Prinsip Hidup

Sejak kecil Emak mengajarkan saya untuk tidak cengeng. Emak tidak suka melihat saya pulang membawa tangisan karena berkelahi. Emak bilang, kalau kamu merasa tidak salah lawan sekuat tenagamu!. Kalau kamu merasa bersalah minta maaf dan terima konsekuensinya, terima sanksinya. 

Emak, selain pandai mengajariku bernyanyi dan suka mendongeng sebelum tidur, Ia mendidik kami anak-anaknya dengan ketegasan. Ia tidak suka kami cengeng dan menjadi pengeluh dan Ia akan marah besar ketika kami berbohong. Emak tidak akan segan memukul tangan atau kaki kami jika berbohong. Aku ingat suatu ketika ketika aku masih belajar mengaji di kampung, waktu itu aku masih kelas 4 SD. Beberapa anak-anak di tempat belajar mengaji kerap kali mengejek dan meledekku, sekali dua kali aku tidak gubris tapi lama-lama aku mulai terganggu dan kesal akhirnya aku datangi mereka, meminta mereka berhenti kalau tidak aku akan memukul mereka. Mereka cengengesan dan menantang akhirnya kami berkelahi, mereka berhasil memukulku lalu lari aku mengejar mereka tapi mereka cukup jauh di depanku. Akhirnya aku mengambil kerikil lumayan besar dan keras lalu melempar mereka bertubi-tubi, lemparanku tepat mengenai kepala mereka. satu anak menangis, satu lagi mengerang dan teriak kesakitan. Aku puas! 


Ternyata masalah tidak selesai sampai disitu. Beberapa saat kemudian, ibu dari salah satu anak datang ke rumah menyeret anaknya yang masih menangis. Ia marah-marah karena lemparanku yang jitu. Aku panik, emak keluar rumah dengan tenang. Ibu temanku minta penjelasan kenapa aku melempar anaknya sampai kepalanya berdarah? Emak ikut menginterogasiku, aku mulai tenang karena penjelasanku tentu yang akan menang! Sebelum ibu temanku pulang dengan malu emak berpesan supaya urusan anak-anak apalagi ini anak laki-laki tak usah terlalu ikut campur sampai seperti ini, intinya ajarkan anak-anak tentang konsep perbuatan baik dan buruk, tanamkan akhlak yang baik, ajarkan ia menjadi kuat dan jujur pada diri sendiri dan orang lain lalu lepaskan mereka ke dunianya. Kita mengawasi mereka dari jauh, kata emak.

Prinsipku hidupku sederhana saja : Aku tidak akan pernah mengusik orang lain, menganggu apalagi sampai merugikan orang lain. Jika suatu saat tanpa sengaja aku melakukan kesalahan atau menganggu orang lain maka aku akan minta maaf. Jika orang lain melakukan kesalahan dan meminta maaf dan menyesal serta tidak akan melakukannya lagi, aku akan memaafkan tapi mungkin tidak melupakan.

Jika seseorang berbuat baik padaku, maka malaikat dan Tuhan akan menjadi saksi, bahwa aku akan membalas kebaikannya bahkan dengan kebaikan yang lebih besar. Mungkin tidak saat itu tapi aku akan selalu ingat, terus ingat sampai aku bisa berbuat kebaikan untuknya.

Jika seseorang berbuat jahat padaku, maka iblis di neraka akan menjadi saksi bahwa aku pasti akan membalas kehajatannya sampai dia mengerti betapa ia telah melakukan kesalahan fatal. Jika tidak bisa membalas langsung,  aku akan membalas di lain waktu dan aku tidak lupa sampai bertahun-tahun. Jangan sekali-kali lukai hatiku. Apalagi jika pelakunya angkuh, sombong dan merasa benar!

Sebenarnya aku sendiri heran kenapa manusia satu harus mengusik manusia lainnya? tidak cukupkan urusannya sendiri untuk diselesaikan? Tidak senangkah ia melihat orang lain tenang? Kenapa begitu? Sedemikian busukkah hatinya? Saya heran ketika tau bahwa ada yang begitu gigih merendahkan orang lain, menggunjingkan orang lain, begitu semangat membuat orang lain susah, dan begitu senang melihat orang lain menderita. Kadang-kadang hatiku bertanya benarkah orang-orang seperti ini manusia? 

Merasa bodoh, merasa jahat, merasa tidak baik itu jauh lebih baik daripada orang yang merasa benar, merasa pintar, merasa sempurna dan merasa memiliki semuanya. Kupikir inilah asal muasal manusia satu menganggu manusia lainnya. Bener-bener primitif! Seharusnya semua orang sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing, sibuk melakukan hal-hal baik untuk sekitarnya, sibuk mengurusi keluarga masing-masing. Kalau demikian aman dunia. Tapi kenyataanya.... ya sudahlah.... tetap semangat aja!

Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketauhilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa,[QS. Al Baqarah : 194].
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community