Jul 5, 2015

TIME FLIES

Berapa usiamu sekarang? Apa yang kau ingat tentang masa lalumu? tentang masa kecilmu? Jika mendapat pertanyaan semacam ini kita akan langsung teringat (lebih tepatnya tersadar) bahwa usia kita terus berjalan. Bukan bertambah melainkan menuju penghabisan. Seperti hitungan mundur. Usia sudah ditentukan dan kita tengah menghitung mundur sampai nanti tiba dititik nol dimana kita harus melepas semua atribut fisik kita sebagai manusia di atas muka bumi ini. Tak ada yang akan kita bawa selain beberapa helai kain putih yang kita sebut kain kafan. Tak akan ada yang rela menemani kita selain amal kita selama kita masih eksis di dunia. Lalu, bagaimana kau akan menjawab pertanyaan di atas? Mudah memang menjawabnya jika tanpa memikirkan essensi dari pertanyaan itu. Tapi buat saya pertanyaan semacam itu selalu menjadi sebuah pengetuk kesadaran bahwa saya yang dulunya kecil lucu dan menggemaskan terus tumbuh, tumbuh, lalu berhenti bertumbuh dan dimulailah fase menanti hari pulang. Serem gak tuh! Emang serem, kadang saya gak sanggup membayangkan hari itu. Jika sudah demikian saya hanya bisa berdoa semoga hari paling baik dan paling indah dalam hidup saya adalah hari kematian saya!

Lalu pernah tidak kamu sesekali membayangkan bagaimana sih perasaan orang tua kita melihat pertumbuhan kita anaknya yang tau-taunya sekarang sudah tumbuh dewasa, punya istri/suami, dan punya anak? Saya memang tidak pernah bertanya langsung tapi sebagai seorang anak yang tumbuh dekat dengan keluarga, Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, aku bisa membaca berbagai macam perasaan dalam hati dan pikiran mereka. Terutama kakekku, aku paling dekat dan paling sering ngbrol dengan beliau sejak kecil. Obrolan kami bisa tentang apa saja dan selalu panjang. Mulai sejak aku sebagai seorang anak SD yang selalu menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan, lalu menjadi anak SMP dengan cerita-cerita tentang teman-teman, hingga saat ini sebagai seorang suami dan seorang ayah yang menurut beliau semakin bijak. Ahahaha bukannya menyanjung diri, tapi aku sendiri merasakan betapa masalah-masalah dan ujian hidup yang terjadi memberikan dampak positif bagi perkembangan jiwaku. Dulu aku seorang anak manja yang selalu ketakutan membayangkan kelak aku akan jauh dari rumah, namun ternyata ada saat dimana kita merasa jauh dari rumah dan keluarga itu adalah kebutuhan kita sebagai manusia khususnya sebagai lelaki. Ada titik dimana kita harus belajar sendiri menghadapi masalah dan ujian hidup, masa dimana kita harus memalsukan senyuman dan membendung air mata sekuat yang kita bisa, karena kita lelaki. Calon pemimpin. 


Semakin hari semakin sulit punya waktu untuk menghabiskan waktu dengan mereka, padahal semakin dekat hari untuk berpisah. Istri, anak, pekerjaan mulai menyita waktu dan perhatian, sesekali pulang untuk sekedar mencium tangan mereka atau memeluk tubuh mereka yang semakin hari semakin menua adalah kebahagiaan terbesar. Nenek dari bapakku misalnya, sejak aku kecil setiap aku mengunjunginya beliau selalu menyambutku sengan tangis bahagianya. Ada rasa rindu yang ia pendam pada cucu pertamanya, Ketika aku harus kembali tangis sedihnya selalu pecah. Lalu ia berdoa semoga masih ada waktu untuk bisa bertemu kembali, lalu beliau memeluk, mencium, mencium dan menciumku seperti mencium seorang bayi. Ketika kecil aku pasti akan mengelak karena merasa risih tapi ketika dewasa aku mulai sadar, betapa ia sangat mencintaiku. Kelak mungkin akan ada hari dimana aku juga akan melakukan hal yang sama pada anakku atau cucuku. 

Satu persatu mereka yang dulu begitu menyayangiku mulai menua dan satu persatu kembali pada Rabb-nya. Hal tersedih adalah ketika aku tidak bisa membalas semua kebaikan mereka ketika aku kecil dulu. Tumbuh sebagai anak dan cucu pertama dari dua pihak ayah ibu, memang menyenangkan ketika kita masih kecil. Kasih sayang dan perhatian datang dari segala penjuru. Kakek nenek, paman bibi, saudaranya kakek nenek, saudaranya paman bibi, semua menjadikanku sebagai kebanggaan. Tapi keadaan akan berubah ketika kita mulai dewasa dan mereka satu persatu menjadi tua rentah dan mulai sakit-sakitan, sialnya kita yang tumbuh besar mulai punya dunia dan kesibukan lain. Hati menangis melihat dan mendengar kabar mereka yang sakit, meninggal dan sendiri. Tak terkira pedih di hati. Terlalu banyak kasih sayang yang harus terbalaskan, tapi aku selalu yakin satu hal, di dunia yang paling mereka perlukan adalah perhatian, kabar kita, dan doa kita. Buat mereka itu sudah cukup. Bercengkrama dengan mereka sembari memijit tubuh tuanya yang mulai sakit-sakitan adalah surga buat mereka. Jika kesempatan seperti itu datang maka tak pernah kusia-siakan. Bukan untuk membalas kebaikan mereka tapi karena aku mencintai mereka. Bukan karena kewajiban, tetapi karena aku menyayangi mereka dan kelak aku juga ingin agar anak-anakku tidak akan melupakanku ketika sudah tua seperti mereka. 

Yakin atau tidak, suka atau tidak, kelak kita akan sampai pada titik itu. Fase dimana kita akan menjadi tua dan tak mampu lagi bergerak dengan leluasa. Bisa jadi jiwamu tetap muda dan penuh ide, tapi tubuh fisik akan berjalan sesuai fitrahnya. Menua. Saat itulah kebaikan-kebaikan kecil masa lalu akan terlihat hasilnya. Saat itulah hasil dari caramu mendidik anak-anakmu akan terlihat. Beruntung jika kau mendidiknya dengan sepenuh hati, kesabaran penuh dan kasih sayang. Sejatinya anak-anak akan merekam apapun yang kita perbuat pada mereka. Apakah kita pernah memukul, menghardik, mencaci maki, atau membiarkan mereka kelak akan kita rasakan sendiri akibatnya. Cinta tak akan pernah salah. Cinta yang kau tanam dalam jiwa anak-anakmu, kelak akan menjadi bekalnya untuk merawatmu di hari tua. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika kau memiliki anak maka sabar-sabarlah mendidik mereka dengen kelembutan hati dan kasih sayang yang tulus. Berilah contoh yang baik karena cara mendidik paling baik adalah dengan meberikan contoh atau tauladan yang baik pada anak-anak. Jika sudah demikian, kamu abadi dalam benaknya, dalam hatinya. 

Ahhh... begitu cepat waktu berlalu. Walaupun perjalanan terus menggerus usia, semoga kita tidak menjadi orang tua yang membosankan untuk anak-anak kita. Aamiin...


(Mataram, 5/07 - Ditulis sambil menunggu waktu sahur tiba. Mau tidur tapi belum ngantuk, kalau tidur takut sahurnya kelolosan)




Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community