Aug 27, 2015

Standar Bahagia

Tanpa ada angin dan hujan seorang temanku, cewek, seorang guru bercerita tentang teman-teman di tempat kerjanya. Dia bercerita via BBM. Panjang sekali, tapi aku tidak langsung membalas karena sedang sibuk. Hanya membaca sekilas. Begitu jam istirahat aku membaca pesannya. Aku hanya tersenyum.

Ia bercerita, tepatnya bertanya pendapatku tentang keadaan di tempat kerjanya. Jadi dia adalah seorang honorer di tempat kerjanya. Setiap hari ia menjalankan pekerjaannya dengan baik, dengan rasa cinta pada profesinya. Tak begitu masalah dengan honornya yang jauh di bawah UMR. Karena dia memang menyukai profesinya. Lalu masalah mulai muncul ketika di sekolah ia harus bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang sangat berbeda dunia dari dirinya. Jika dia perempuan yang sederhana dan biasa-biasa saja, maka rekan-rekannya yang semuanya ibu-ibu adalah para ibu-ibu yang mengusung gaya hidup sosialita dan "terlihat" berkelas dari semua yang dikenakannya. Sampai disitu memang tidak ada masalah karena melihat kepada gaya hidup sesungguhnya kita hanya berbeda standar bahagia saja dengan orang lain. Jika kita standar bahagianya hanya dengan bersyukur atas apa yang kita miliki maka sebagai lainnya merasa belum bahagia jika belum memiliki banyak benda dan materi berharga lainnya. Yah, hanya masalah standar. Sepanjang kita tidak mengganggu cara orang lain berbahagia semua sah-sah saja.

Kemudian masalah mulai muncul ketika para ibu-ibu mulai mempermasalahkan (lebih tepatnya menyepelakan) cara temanku ini menjalani hidupnya yang biasa-biasa saja. Mereka membanding-bandingkan gaya hidup mereka dengan temanku ini, mulai dari membandingkan merk Tas, Jenis kain pakaian, sepatu, status jomblo, hingga ke berat badan. Mereka membandingkan betapa cantik mereka dengan semua melekat di tubuhnya, dengan make up sempurna melapisi wajahnya dan betapa buruk rupanya temanku ini dengan wajah hanya diolesi krim wajah sekenanya, dengan pakaian biasa-biasa saja yang tak punya merk, dengan tas yang tidak punya merk sama sekali ditambah lagi dengan status lajang yang berkepanjangan. WOW! Bisa kau bayangkan kawan betapa berat hari-hari yang harus dilalui temanku yang malang ini di tempat kerjanya. Setiap hari sepanjang bulan, sepanjang tahun. Mungkin sehari dua hari kita sebagai manusia akan sabar dan memaklumi, tapi jika setiap hari? rasanya memang harus bertindak untuk membungkam keangkuhan mereka. Tapi aku tidak menyarakan itu sama sekali pada temanku.

Ia bertanya, jika aku yang berada dalam posisi seperti itu apa yang akan aku lakukan? hahaha. Baiklah aku akan menjawab sebagai diri sendiri bukan sebagai orang lain. Bukan tidak pernah, malah aku beberapa kali melewati dan bertemu dengan manusia-manusia seperti itu. Kali pertama jujur aku sedih, tertekan dan rasanya dunia tidak adil. Tapi memang begitulah prosesnya. Perkenalan dengan hal apapun selalu terasa sulit di awal, apalagi dengan masalah seperti itu pastilah sulit dilewati begitu pertama kali masuk ke tengah-tengah orang yang tidak sepaham denganmu. Tapi setelah itu, dengan banyak merenung, membaca dan sering-sering bertanya pada nurani sendiri, saya akhirnya tahu bagaimana mengahadapi orang-orang dengan standar bahagia yang terlalu tinggi itu.


Dulu, aku ketika masa-masa sekolah, aku bukanlah anak yang populer karena memang aku bukan dari keluarga populer, kaya, terpandang atau orang penting. Aku hanya berasal dari keluarga yang bahagia. Itu yang aku tahu dan aku banggakan. Di sekolah teman-temanku memiliki beraneka ragam karakter dan gaya. Salah satunya ada sekelompok temanku yang seperti ibu-ibu di atas. Hampir setiap hari mereka mengomentari sepatuku yang tua, tasku yang resletingnya mulai rusak dan lain-lain. Pertama kali aku hanya diam, tapi lama kelamaan karena terus menerus, aku kepikiran juga kata-kata mereka hingga membuat aku yang tadinya ceria menjadi tidak percaya diri, enggan untuk terlalu banyak bergaul dan membaur bersama yang lainya. Hari-hari berlalu, kemudian aku berpikir, rasanya aku telah rugi banyak dalam hidup ini. Waktuku untuk bahagia banyak di curi oleh mereka, banyak tersita untuk memikirkan apa yang mereka katakan. Toh, tanpa aku harus mengikuti kata-kata mereka aku bahagia dan bisa menjalani hari-hari dengan baik. Tanpa aku harus memakai barang-barang bermerek aku masih bisa bermain dengan banyak temanku yang lain. Di dunia ini bukan hanya mereka isinya. Ada banyak kebahagiaan di dunia yang bisa kita pilih. Semua ada di tangan kita. Kita bisa bahagia kapanpun kita mau dan dengan cara kita sendiri. Mendengarkan omongan negatif lalu membawanya ke dalam hati kita adalah salah satu tindakan salah (yang sering kita lakukan) yang akan merugikan diri kita sendiri. Rugi waktu, rugi kesehatan dan umur. 

Maka aku jawab temanku dengan pertanyaan ini : Kamu bahagia gak selama ini dengan gaya dan caramu? Jika ia maka abaikan mereka, biarkan mereka bahagia dengan cara mereka. Mereka berhak bicara bahkan mengganggu tapi kamu juga punya pilihan untuk tertanggu atau tidak, silahkan pilih. Alangkah ruginya kamu jika terpenjara oleh omongan mereka. Cukuplah kau tahu bahwa hanya manusia-manusia bodoh dan kekanakan-kanakan yang bertindak seperti itu. Tanamkan dalam diri bahwa mereka tak lebih dari manusia-manusia yang kesulitan mendapatkan kebahagiaan. Bayangkan betapa susah mereka menemukan bahagia yang sesungguhnya ada dalam diri mereka namun mereka tidak bisa atau mungkin tidak mau menemukannya. Mereka lantas mengganggu kebahagiaan orang lain berharap mereka menemukan bahagia itu disana. Sekarang jika kamu memilih terganggu maka mereka berhasil menemukan kebahagiaannya tapi jika kamu tidak terganggu dan mengabaikannya maka mereka akan bertambah-tambah deritanya.

"Lalu apa aku harus diam waktu mereka bilang tasku KW, bajuku beli di pasar, dll?" Tanyanya lagi.

Apa salahnya jika kamu jawab "Iya.." kelar kan? Belanja itu harus sesuai dengan keperluan. Jika kamu merasa cukup dan bahagia dengan apa yang bisa kamu beli kenapa harus memusingkan diri menginginkan hal-hal yang tidak bisa kamu dapatkan? Toh kamu bahagia kan? Bersyukurlah, Karena Allah menjagamu dari sifat tamak yang ingin memiliki semua hal. Bersyukurlah ketika Allah mengijinkanmu berbahagia dengan sederhana dan mudah. Bayangkan bagaimana tersiksanya mereka yang harus menghabiskan uang gajinya hanya untuk membeli selembar pakaian yang ketika dipakai belum tentu membuat mereka bahagia. Percayalah mereka memakai semua atribut duniawi itu hanya untuk di puji, jika untuk keperluan dan kualitas mereka tidak akan mencela orang lain. Bayangkan betapa kasiannya mereka ketika tak ada manusia yang tertarik untuk memuji atau terganggu oleh mereka. Yah, sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia yang memerlukan perhatian. 

Lalu kenapa kamu menjadi tidak bahagia? Jangan biarkan kebahagiaanmu dikendalikan oleh orang lain. Kamu yang punya hati, jadi kamu yang berhak menentukan bahagia atau tidak. 

Hidup ini, singkat. Merasa rugilah kita ketika harus memikirkan haters!

Comments
2 Comments

2 comments:

  1. Menginspirasi sekali.

    Cerita di atas semua org rata2 mengalaminya. Tak terkecuali saya. :D
    Apalagi sekarang saya sedang mmpersiapkan pernikahan yg bisa dibilang sederhana, krn jauh dari yg namanya gaya prnikahan org2 di sekitar saya yg notabenenya bergaya SANGAT WAH. Awalnya saya kepikiran dg omongan org2 skitar saya ttg prsiapan prnikahan yg mesti ada ini, ada itu, harus ini, harus itu. Tpi seiring waktu, saya malah sadar. Kalau hidup hanya mendengar omongan org yg gak penting, kapan bahagianya???? Akhirnya, saya cuek saja dg prsiapan prnikahan yg sederhana, yg trpenting bagaimana kehidupan setelah menikah. & setuju dg statement amaq bahwa ukuran bahagia masing2 org itu berbeda2. Kalau saya sih, bahagia2 aja dg prnikahan yg akan brlangsung sederhana. Trserah apa kata org. Gak urusss :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah orang kita, terlalu perhatian dan merasa kurang banyak kali ya masalah dan urusan hidupnya sendiri sampai harus repot ngurusi orang lain sampai segitunya hahaha
      semoga lancar lan sampai hari H dan seterusnya...

      Delete

Berkicau

Community