Sep 9, 2015

Kisah Seorang Anak yang Menggigit Lidah Ayahnya Sendiri


Syahdan, seorang pemuda yang akan dihukum mati di tengah kota mendadak menjadi pusat perhatian. Pemuda ini terkenal sebagai penjahat yang kejam, ia memimpin sebuah kelompok perampok yang mencuri apa saja dari siapasaja, tak segan membunuh atau memerkosa korbannya.

Tentu saja, penduduk kota itu gembira dengan tertangkapnya pemuda ini, apalagi ia akan segera dihukum mati!

Beberapa menit menjelang eksekusi mati, penduduk kota yang berkumpul dan menyaksikan kejadian itu mendadak hening. Sang pemuda sudah berdiri pasrah memandang algojo yang dengan tegap memegang erat pedangnya.

“Wahai pemuda, kemukakan permintaan terakhirmu!” ujar sang algojo.

Si pemuda tampak berpikir keras. Ia harus memilih satu saja dari berbagai kemungkinan yang muncul di kepalanya. Setalah beberapa saat, si pemuda menjawab dengan tegas,”Aku ingin ayahky dihadirkan di sini!” katanya.

Penduduk kota yang menyaksikan kejadian itu mendadak riuh, bertanya-tanya siapakah geranan ayah dari pemuda kejam ini.

Beberapa saat kemudian, ayah si pemuda telah hadir di lokasi eksekusi. Lelaki tua itu tampak malu mendapati anaknya menjadi perampok yang kejam.

“Ayah,” kata sipemuda itu,”kini sudah tiba saatnya aku meninggalkan dunia ini.”

Ayah si pemuda itu mulai tampak sangat bersedih, dia tidak menyangka anak yang begitu disayanginya akan mati dengan cara seperti ini. Lelaki tua itu menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sekarang, aku punya permintaan terakhir,” ujar pemuda itu,”Aku ingin ayahku menjulurkan lidahnya!”

Sang ayah tampak kaget dengan permintaan yang sangat janggal ini. Warga yang menyaksikan juga bertanya-tanya.

Ketika sang ayah menjulurkan lidahnya, tiba-tiba pemuda itu menyergap ayahnya, lalu menggigit lidang sang ayah dengan gigitan yang sangat kuat! Begitu kuat sehingga lidah lelaki tua itu berdarah! Semua penonton menjerit, kaget, dan heran menyaksikan kejadian janggal itu.

Semua berlangsung sangat cepat ketika si pemuda mengusap darah di mulutnya, sementara ayahnya mengerang kesakitan.

“Sekarang, aku sudah siap dihukum mati.” kata pemuda itu.” Permohonan terakhirku adalah menggigit lidah yang telah membuatku menjadi pemuda semacam ini. Sejak aku kecil, lidah itu hanya bisa memujiku. Jika aku membawa barang-barang ke rumah, lidah itu tak pernah bertanya dari mana aku mendapatkannya. Jika aku melakukan kesalahan, lidah itu tak pernah memarahiku!” Lidah itu membesarkanku menjadi pribadi yang sombong! Lidah itu tak pernah membacakan doa-doa! Lidah itu tak pernah mengajarkan satu ayat dari firman Tuhan!” ujar si pemuda.

Setelah semua kejadian itu, eksekusi mati dilakukan dengan sangat cepat. Sebagian penduduk masih tertunduk di lokasi kejadian, sebagian lain sudah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.

Mayat si pemuda sudah digotong, sementara lidah ayahnya masih berdarah di atas panggung. Lelaki tua itu kesakitan, terus menangis dengan bahu berguncang.

Bukan lidahnya yang sakit, tetapi hatinya. Ada berjuta ton penyesalan yang menyesaki napasnya yang berat.

“Maafkan ayah, anakku,” lelaki tua itu bergumam lirih,”lidahku telah menjadi racun terburuk untuk membunuhmu.”

Lidah itu masih berdarah.


Cerita ini diambil dari Buku Rumah Tangga Hal.140-142. Ditulis kembali supaya berjuta orang bisa sama-sama memaknai cerita ini. Terima Kasih.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community