Nov 22, 2015

Cerita Malam Minggu di XXI Lombok Epicentrum Mall

Ceritanya malam minggu ini kami sepakat nonton Air Mata Surga di XXI berdua sama Quin rumah, sementara ibunya memilih untuk malam mingguan dirumah karena adek sudah menegantuk dan Ibunya tidak begitu tertarik dengan keramaian. Ternyata filmnya baru mulai jam 9.21, itu sudah terlalu malam untuk anak tiga tahun. Akhirnya terpaksa pilih The Hunger Games​ walaupun saya agak merasa bersalah karena ngajak Quin nonton film semacam ini. Setelah beli popcorn kami berdua masuk studio 2. Menit-menit awal Quin menikmati nontonnya. Sambil berbisik dia berkata "Yah, ini bukan film anak-anak..". Bugh! Rasanya kayak ditonjok, mau keluar tapi sebagian dari diri saya mulai menikmati film yang sudah saya ikuti sejak seri pertama ini. Saya berbisik kemudian di telinganya, "Kakak bobo aja di dada ayah, gimana?, tadi ngantuk kan?". Dia langsung menjawab, "Quin tunggu di luar aja, yah. Ayah nonton Quin makan ini di luar, duduk di kursi di luar". Baah ini anak makin bikin saya merasa bersalah. Saya dilanda dilema, mau lanjut nonton atau pulang. Melanjutkan nonton dengan resah sambil merayu Quin agar mau tidur atau pulang dan merelakan tiket nonton sia-sia dan ikhlas telah mengantri cukup lama. 

Beberapa saat saya masih semangat merayu Quin untuk mau tidur tapi sialnya dia mulai mengikuti film ini. Dengan berbisik dia mulai mengeluarkan pertanyaan dan komentar yang membuat saya semakin galau.


"Yah, kenapa mereka main api? terbakar nanti", 

"Yah, kenapa diikat dia?" 

"Yah, Uin nda mau jadi polisi suka perang main api"

"Yah, Uin nda suka film ini, Uin mau nonton film yang digambar di luar itu aja"

"Ayaaaah, ayo kita keluarrrr"

Sebelum ia "pecah" saya pun menggendongnya keluar. Di luar dia tidak mau pulang, malah mengajak saya duduk di depan studio. 

"Yah, uin duduk disini aja. Ayah nonton aja di dalam" dan kali ini saya malah terharu dengan rasa pengertian anak kecil ini. Dia faham itu film bukan film untuk anak-anak dan dia faham saya sangat ingin menonton. Tapi alternatif yang dia tawarkan juga jelas-jelas tidak bisa saya ambil. Meninggalkan anak tiga tahun selama dua jam duduk sendiri di depan studio dengan pop corn di tangan dan tanpa air minum itu ide yang sangat buruk. Jelas itu bukan pilihan. 

"Kita jalan-jalan cari odong-odong aja yuk. Filmnya jelek ternyata ya. Ayah juga tidak suka filmnya. Ayo kita jalan-jalan" Kataku kemudian sembari mengangkat lalu menggendongnya.

"Jelek film itu ayah. Rumahnya rusak, mobilnya dibakar, temannya diteembak. Takut uin."

Aaahhh...

Dengan hati lega saya dan Quin keluar area Mall, di jalan dia menyanyikan lagu Frozen kesayanganya 

Yuk buat boneka salju
Mainlah denganku
Ku tak pernah melihatmu
Keluarlah, berhenti menghilang

Dulu kita bersama, kini beda
Jelaskanlah mengapa
Yuk buat boneka salju
Atau mau main yang lain, ayolah

Yuk buat boneka salju
Atau kita berkejaran
Sejak kau tak menemani aku
Bosan dan ku mulai bergurau sendiri

....

Begitulah, ketika sudah menjadi seorang Ayah, tak ada lagi be yourself untuk gaya dan hobi, yang ada adalah be the best of yourself for your babies and family..

Selamat bermalam minggu...

Syruupuut.. ssedooot.

"Yah, Uin mau nonton film yang itu aja"

"Yah, Uin duduk disini aja, Ayah masuk aja nonton filmnya.."


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community