Dec 27, 2015

Membuat Lampu Merah di Depan Rumah

Si Ibu sedang tidak fit. Lemas, demam karena flu. Sore tadi si ibu ingin makan Bakso Tulang Muda favorit kami di perempatan Jalan Airlangga. Karena di ruma cuma berempat dan dua bayi kelereng sudah bangun dari tidur siangnya akhirnya kami berdua memutuskan mereka berdua ikut ayahnya pergi beli bakso. Deedee saya gendong pakai gendongan dan Ququ berdiri di depan depan jok motor. Saya tidak kesulitan sama sekali, sepanjang perjalanan Baby Dee tidak berenti bernyanyi walaupun belum jelas melapalkan kata-kata, Baby Quin juga tidak berhenti ngoceh sepanjang jalan sampai tiba-tiba di lampu merah si kakak diam mematung seperti memikirkan sesuatu. Saya biarkan ia berpikir. Sampai di tempat bakso si kakak masih diam seperti berpikir keras sementara di adek sedang ketawa-ketawa sambil sesekali berteriak kecil melihat kura-kura di dalam aquarium disana.
Setelah urusan beli bakso selesai kami langsung bertolak pulang. Di lampu merah saya mencoba bertanya kenapa si kakak diam.
A : Ciee kakak lagi mikir apa tuuh. Kenapa diam sayang? ayo nyanyi lagi.
Q : Ayah (panggilnya serius)
A : Iya, anak. (saya juga jawab serius)
Q : Quin mau buat lampu merah di rumah. Boleh?
A : (Glek!) (Saya mulai hati-hati untuk menjawab)
Q : Boleh Uin buat lampu merah di depan rumah, ayah?
A : Kok lampu merah kak? Buat apa? Mending kita buat ayunan.
Q : Ndak ayah. Uin mau buat lampu merah depan rumah...
A : Iya tapi buat apa bikin lampu merah di depan rumah, nak?
Q : Biar mas jual roti, bakso, dan es krim dan cilok berenti di depan rumah uin yah.
Jawabannya singkat, padat, jelas dan bikin saya bingung mau ketawa ngakak atau bagaimana hahahaha. 
Jadi beberapa hari yang lalu tukang rujak, dan es krim lewat di depan rumah. Si kakak Udah teriak-teriak histeris dari dalam rumah manggi-manggi "Paaak... Paaaak... Tunggu, Uin mau belii" tapi para penjual itu mengabaikannya, entah karena tidak dengar atau karena yang memanggil hanya anak kecil. Mereka berlalu dan si Kakak pun menangis kecewa. Saya dan ibunya sih ada senangnya ada kasihan juga. Senang karena si kakak batal makan es krim dan kasian juga dia gak jadi makan rujak favoritnya. Ternyata berawal dari "masalah" nya itu dan setelah melihat dan mempelajari cara kerja lampu merah muncullah ide membuat lampu merah di depan rumah agar padagang-pedagang itu berhenti di lampu merah tersebut hahahaha. How smart are you my daughter. Semoga sampai besar ya. Aamiin...
Setelah sukses membuat saya penasaran sekarang dia membuat saya bingung menamai rasa yang saya rasakan ketika dia menjawab seperti itu. Ah.. jalan pikiran anak-anak memang selalu apa adanya, langsung to the point, jelas walau kadang tidak masuk di akal orang dewasa. Tapi begitulah jalan pikiran anak-anak. Sangat simple. Kita orang dewasa kadang terlalu ribet memikirkan sesuatu untuk di jelaskan padahal selalu ada cara simpel untuk menjelaskan sesuatu. Seperti dulu ketika Quin bertanya "Kenapa orang-orang harus tidur, ayah?" Saya sedikit memutar otak menemukan jawaban yang pas walau nyatanya tidak pas. Saya jawab "Karena sudah malam dan agar besok bisa bagun pagi sholat subuh" dan jawaban saya itu di koreksi oleh bocah ini katanya : "Bukan yah, orang harus tidur karena ngantuk!" Nah loooh!

Dunia anak-anak memang selalu membuat saya tidak pernah kehabisan tenaga untuk bahagia. Sepenat-penatnya hari-hari saya selalu berubah menjadi menyenangkan jika sudah bersama mereka. ALhamdulillah ya Allah.

Ini baru satu anak. Kelak si Ade sepertinya akan lebih cerewet lagi nih. Saya harus siap-siap!








Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community