Jan 12, 2016

Pak Guru, Rangga Kentut!

Tiba-tiba dengan sangat cepat bau busuk itu menyebar keseluruh ruangan kelas. Tidak butuh waktu lama untuk seisi ruangan mengendus bau busuk itu. Anak-anak mulai mengeluh bau dan ada yang sampai lari keluar dari tempat duduknya. Tidak butuh waktu lama juga untuk tahu darim mana sumber bau busuk itu. Yah, ini bukan bau dari luar kelas ini bau kentut! 
Damar, salah siswa yang "istimewa" di kelas berdiri dan melaporkan sumber bau busuk itu pada saya dengan gaya khasnya, muka polos dan nada bicara yang meski sedang marah tetap terdengar lembut. Hanya ekspresi wajahnya yang memperlihatkan kegelisahan dan ketidaknyamanannya pada bau busuk itu.
"Pak Guru, Rangga kentut! baunya kayak bau bangkai ayam!"
Rangga, teman sebangkunya yang bertubuh kurus ceking dengan kulit kering, rambutnya berdiri seperti jarum-jarum yang menancap yang lakunya agak kemayu terbelalak terkejut namun ada eskpresi legah yang terlihat di wajahnya. Seisi kelas mulai riuh, nada protes dan kesal tertuju pada Rangga. Saya sendiri susah payah menahan bau yang memang benar seperti bau bangkai ayam itu. Sambil berusaha menahan nafas selama mungkin, saya berdiri dan memastikan siapa yang buang gas sembarangan itu.

"Rangga, benar kamu kentut?"
"Iya pak..."
Belum sempat melanjutkan dia bicara lagi dengan expresi muka tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kan uwah ite betabeq, mele te ngentut sekediq!" (Kan sudah saya permisi mau kentut, sedikit!)
Oh Tuhan, setelah tadi susah payah nahan bau gas busuk sekarang saya susah payah menahan geli dan ketawa. Saya tidak boleh tertawa! Tidak! Ini perbuatan yang tidak baik, harus ditegur dengan tegas agar tidak terulang. Paling tidak dia harus tahu tata krama dan aturan.
"Betabeq?? Kamu ijin kentut ke siapa?"
"Sama Damar tapi pelan-pelan suara saya" jawabnya sambil mulai terlihat malu karena diprotes seisi kelas.
Damar mau ikut bicara tapi saya beri isyarat untuk diam.
Saya keluar kelas, menuju kamar mandi bukan karena mual tetapi karena saya sudah tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
Begitulah, saya tidak pernah benar-benar marah pada anak-anak ini, memang saya juga bukan pemarah namun saya harus berlaku tegas untuk urusan tata krama, kesopanan dan tingkah laku. Karena saya percaya, pelajaran-pelajaran akademik bisa mereka pelajari kapan saja dan dimana saja, mungkin sekarang mereka lebih senang bermain daripada belajar, lebih senang pelajaran cepat usai daripada lama-lama di kelas tapi kelak ketika mereka beranjak besar mereka akan menyadari dan giat belajar. Tapi karakter yang baik, harus ditanamkan dan dibiasakan sejak sekarang karena kebiasaan akan menjadi karakter dan karakter akan menjadi penentu nasib. Mereka adalah generasi penerus yang karakternya harus baik. Sebagai seorang guru, saya tidak bisa menuntut anak-anak didik saya untuk pintar pada semua mata pelajaran saya yakin mereka tidak akan bisa jadi biarlah mereka belajar dengan nyaman dan gembira tanpa ada tuntutan yang berlebihan. 



😂😂😂
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community