Jan 13, 2016

Terjebak Hujan (dan Nostalgia)

Sama halnya dengan hati perempuan, cuaca sekarang-sekarang ini nampaknya susah untuk diprediksi. Apakah akan hujan atau akan panas sepanjang hari. Seperti hari ini, sejak jam 8 pagi cuaca sudah memberikan isyarat bahwa sepanjang hari ini akan panas dan terik. Benar saja, sampai selesai Adzan Ashar matahari masih panas menyengat padahal  hari sudah hampir petang. Saya dan para gadis di rumah berencana jalan-jalan sore sekalian mencari tempat untuk membeli batu-batu halus yang akan kami pakai untuk menghiasi lantai pancuran tempat wudhu yang sedang dikerjakan oleh tukang hari ini. Meski cuaca panas anak-anak tetap kami pakaikan jaket karena biasanya sore hari angin mulai menjadi dingin. Kami pun memulai perjalanan sambil sama-sama bernyanyi, bernyanyi apa saja sepanjang jalan. Tujuan kami adalah Wilayah jalan lingkar Utara, Sayang Sayang. WIlayah Sayang Sayang adalah wilayah yang banyak terdapat penjual bunga, ikan segar dan segala sesuatu yang berbau taman. Misalnya batu alam, batu sikat, batu halus dan entah apalagi jenis batu-batu untuk bangunan itu. Tentu saja selain batu akik. Karena batu akik penjualnya lebih senang berkumpul di emperan toko di sepanjang kota tua Ampenan.

Belum setengah perjalanan tiba-tiba mendung mulai menggumpal dari arah timur laut. Pelan-pelan langit mulai menggelap lalu mendekat, semakin menghitam. Saya diam, istri saya diam anak-anak tetap bereloteh riang. 

Sepertinya akan hujan besar ini, kita putar arah saja ya. Pulang. 

Oke, ayah tapi kita lewat Pejarakan ya, siapa tahu ada makanan enak.

Arah perjalanan pun sudah berbelok ke arah rumah namun melewati jalan yang tidak sama seperti kamu memulai perjalanan tadi. Mendung semakin menggumpal, semakin terlihat kepayahan menahan air yang sepertinya sudah tak kuasa menahan diri untuk segera mendekap bumi, meresap ke dalam pori-pori tanah, mengaliri setiap cerukan di tanah. Meski begitu saya tetap memastikan bahwa saya tidak ngebut, mengingat udara sudah mulai dingin. Anak-anak sudah tidak ribut lagi, Quin bertanya apakah sebentar lagi akan ada petir? Saya jawab sepertinya begitu, maka itu kita harus segera sampai di rumah sebelum hujan besar dan kita terjebak. 
Sekitar sepuluh meter di depan sana sebuah warung sangat sederhana yang hanya beratap sisa baliho dan kain vinyl bekas iklan kartu seluler terlihat mengepulkan asal tipis, seorang wanita paruh baya duduk di balik tiga tungku tanahnya, membuka dan menutup tutupan yang terbuat dari tanah itu memeriksa apakah sesuatu yang ia masak sudah bisa diangkat atau belum. Yah, penjual Serabi itu telah kembali dan membuka kembali warung yang tanpa dinding di setiap sisinya itu. Dua anak muda berkulit gelap membantunya mengangkat Serabi yang sudah matang kemudian memindahkannya dalam wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Dua pemuda itu tidak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum pada beberapa pembeli yang sudah tidak sabar ingin segera mencoba serabinya atau yang tidak ingin terjebak hujan lalu tidak bisa pulang dengan segera. 

Saya memarkir motor di pinggir jalan tepat di depan warung itu. Istriku memesan 13 Serabi dengan atasan Santan dan dua serabi dengan atasan gula merah untuk Quin. Diantara kami Quin lah yang menyukai serabi gula merah, saya sendiri lebih menikmati serabi dengan cairan santan yang hampir mengering di atasnya. Gurih. 

Lalu hujanpun turun dengan lebatnya...

Serabi pesanan kami masih dalam perapian, hujan semakin deras, petir dan kilat tak rupanya tak mau ketinggalan memainkan perannya sore itu. Menggelegar dengan gagah seakan menegaskan pada manusia bahwa ia ada dan perkasa entah dimana di atas sana. Kurang dari sepuluh menit, warung itu telah penuh oleh orang-orang yang berteduh, dua orang ibu dan anak, lalu sepasang suami istri, seorang wanita muda, dan bapak-bapak paruh baya bersama anak laki-lakinya. Sang bibi penjual Serabi hanya tersenyum sambil meneruskan menuangkan adonan cair serabinya ke dalam cetakan Serabi. Sementara pikiran saya mulai berkelana, semakin jauh dan akhinya berhenti pada kenangan masa kecil bersama serabi Papin Ica yang gurih.

***

Dulu setiap pagi, akan selalu terdengar suara anak kecil menjajahkan serabi buatan ibunya. Sebelum berangkat sekolah ia berkeliling kampung menjajakan serabinya pada semua orang. Siapa yang tidak mengenal Serabi itu? Selain karena hanya itu satu-satunya serabi yang dijual, rasanya juga sangat pantas untuk selalu dikenang. Serabi hangat telah tersaji di depan kami, aku,  Papin Selamat, Papin Awi duduk berhadapan menyeruput teh hangat dan menggigit lembut serabi papin Ica. Bukan hanya rasanya yang telah masuk dalam kantong ingatanku, namun kehangatan pagi bersama orang-orang tercinta itu telah membulat menjadi kenangan indah yang selalu muncul dengan indah setiap pagi ketika aku menyeruput teh hangat buatan istriku bertahun-tahun kemudian. Ah aku kembali merindukan mereka. Kehangatan keluarga yang menjadi dambaan setiap orang. Sembari bercerita dan membirakan bermacam-macam hal kami menikmati Serabi dan teh hangat di pagi hari sebelum memulai aktifitas hari itu. Kakekku bilang sarapan itu penting, kamu tidak aka bisa belajar dengan baik di dalam kelas jika perutmu minta diisi, otakmu akan kesulitan mencerna penjelasan guru karena sibuk memikirkan perutmu yang kelaparan. Maka kapanpun dan dimanapun kelak kamu, jangan lupa sarapan dan sebaiknya sarapanlah bersama-sama seperti ini, untuk mempererat rasa dan menambah kehangatan. Bahagia adalah kunci sebuah kesuksesan, bukan kesusksesan syarat untuk bahagia. Berbahagialah, bagilah bahagiamu dengan siapa saja. Jadilah anak baik, laki-laki baik, suami yang sabar, bapak yang lembut dan kepala keluarga yang tegas. Sarapan pagi harus dengan tenang karena itu adalah awal sebuah hari, jika kamu tenang maka sepanjang hari akan senang pun sebaliknya jika sejak pagi kamu tidak tenang maka sepanjang hari akan jauh dari senang.

Lalu suara kakek menggema, semakin jauh, semakin menjauh lalu menghilang. Serabi pesanan istriku sudah matang, hujan sudah mulai mereda. Aku tersenyum, istriku tersenyum, anak-anak gelisah dengan wajah yang menyiratkan ketakutan akan ada suara petir lagi. Tapi aku segera menenangkan mereka, petir adalah hamba Allah yang sedang berzikir dengan caranya di waktu hujan. Ia juga bisa menjadi galak pada kita jika kita tidak taat pada Allah. Entah mereka mengerti atau tidak yang jelas mereka diam lalu berhamburan ke dalam pelukanku dan gendongan ibunya. Terimakasih Ya Allah atas hujan yang penuh berkah, atas udara yang sejuk dan atas cinta yang mengaliri darah kami. Terimakasih ibu Fauzan telah ikhlas menjadi penjual Serabi, yang rasa dna bentuk serabinya seakan mendekatkanku pada nostalgia dan kenangan bertahun-tahun silam. Alhamdulillah...

(Mataram 13 Januari 2016, ditulis sambil menikmati Setangkup serabi dengan atasan santan yang gurih bersama kenangan yang indah)


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community