Feb 5, 2016

Guar Tangar, Sebuah Lagu Penguat Hati Anak-anak Rantauan

Lagu yang penuh emosi, yang selalu berhasil membuat mata berkaca-kaca.

Pagi ini adalah pagi ketiga saya mengantarkan Quin ke Play Group-nya dan seperti dua pagi kemarin, ia masih saja menangis ketika ditinggal.
Kata gurunya ini biasa di hari-hari pertama, pelan-pelan dia akan terbiasa dan senang. Oke, saya faham dan saya mengerti. Mungkin nanti Quin yang akan meminta saya untuk mengantarnya ke sekolah dengan segera dan meminta saya untuk tidak perlu cepat-cepat menjemputnya, ketika itulah nanti saya yang akan sedih, merindukannya, menginginkan ia di rumah terus. hehehe.

Semakin kesini saya semakin faham bagaimana perasaan orang tua saya ketika saya mulai bersekolah lalu bersekolah keluar kota. Dan lagu ini adalah pengingat pada kenangan itu.

Sepanjang lagu ini saya terbawa ke masa ketika betapa sulitnya orang tua saya melepas saya untuk sekolah ke luar kota. Bagaimana saya melangkah menjauh dari kenyamanan rumah untuk menempa diri. Betapa pada saat itu saya dan orang tua saya saling menguatkan diri masing untuk tidak menyerah pada kesedihan dan keterbatasan.

Hari itu adalah hari dimana anak panah telah terlepas dari busurnya. Hari itu adalah hari dimana seorang anak laki-laki melangkah meninggalkan rumah dengan bekal berjuta-juta doa dari mereka yang mencintai, meski mereka tau bahwa sejak hari itu sang anak bulan lagi milik mereka sebenarnya, mereka telah menyerahkan sang anak pada alam dan zamannya. Berharap bekal nasehat dan petuah sejak kecil menjadi tameng.

Lagu ini buat saya adalah lagu yang luar biasa. Selalu berhasil memantik kepekaan hati. Selalu berhasil membuat saya kangen rumah dan masa-masa berjuang bersama sahabat-sahabat saya untuk memenuhi harapan mereka yang telah melepas kami dengan hati basah....

Big thanks to the composer Iqbal Sanggo and the amazing singer Rian Rusliansyah

aidaaah pagi-pagi hati dibuat basaaah


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community