Apr 30, 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)



Sejak Mbk Mira Lesmana mengeluarkan statement "Jika Film Pendekar Tongkat Emas booming, saya akan buat sekuel dari AADC" saya langsung berharap semoga itu terjadi dan sejak itu saya terus memantau akun instagram dari wanita dengan senyum manis yang khas ini. Kemudian tahun berikutnya terjadilah hal itu, AADC akan dibuatkan sekuelnya!

Setiap hari saya menunggu, ada postingan apa tentang AADC yang diposting di akun instagram Mira Lesmana. Hampir setiap hari saya kepoin instagram Dian Sastro, Adinia, dan NicSap untuk mencari tahu udah sejauh mana nih persiapan AADC 2. Hari berganti dan semakin jelas bahwa film yang telah mengisi masa remaja saya akan dibuatkan sekuelnya. Thats really good News!



Mungkin terkesan lebay, tapi memang begitulah adanya. Buat saya pelajaran, pengetahuan, pesan moral, pengalaman hidup, bisa datang darimana saja termasuk dari film. Film Ada Apa Dengan Cinta pertama rilis ketika saya masih SMP dan saya belum pernah ke bioskop karena memang di daerah saya saat itu, boro-boro bioskop, mall saja belum ada. Kelas 1 SMA saya baru menonton AADC versi VCD dan sejak itu masa remaja saya yang tadinya super alay berubah menjadi penuh warna, semangat dan pelan-pelan kecintaan pada sastra tumbuh dengan baik.

Kisah cinta Rangga dan Cinta memang tidak kompleks seperti kisah-kisah cinta klasik. Sebaliknya Kisah Rangga dan Cinta sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin hal itu yang membuat hampir semua remaja pada masa itu menggandrungi film ini, termasuk saya. Dari film ini saya belajar bagaimana memahami sifat dasar cewek, bagaimana menjadi cowok yang berbeda dari cowok-cowok lainnya dalam hal cinta. Dan yang benar-benar berdampak pada saya saat itu adalah sastranya. Cinta dan kawan-kawannya adalah remaja SMA yang keren dan kreatif. Mereka pengurus mading yang suka sekali dengan musik, puisi dan keseruan. Sementara Rangga diam-diam jago bikin puisi lebih banyak menyendiri dan terkesan sombong padahal cool sih. Dua icon remaja keren yang saat itu berhasil mengajak remaja-remaja labil pada masa itu untuk menyukai sastra, untuk mengungkapkan cintanya lewat tulisan dan puisi. Berkat AADC masa alay saya tidak berkepanjangan. Masa SMA saya adalah masa yang aktif dan seru. Di sekolah saya aktif sebagai ketua redaksi Mading. Bersama teman-teman yang seru dan dengan hobi yang sama kami mengemas dengan baik terbitan mading setiap minggunya. Masa-masa pacaran pun jadi lebih seru dengan surat-surat berisi puisi. Sesekali meninggalkan mawar dan sepucuk kertas berisi puisi di atas meja si target. Meski saat itu sudah pegang gadget tapi menulis surat itu terasa penuh tantangan dan ada sensasi tersendiri. Dan semua itu penyebabnya tak lain adalah Rangga dan Cinta.

Alhamdulillah, tanggal 28 kemarin saya bisa nonton AADC 2 bersama istri saya. Tadinya saya sempat underestimate dengan film ini. Semacam ketakutan bahwa sekuelnya ini tidak akan lebih bagus dari film pertama, bukan tanpa alasan. Pertama, setau saya film ini persiapannya singkat. Kedua, saya sempat berpikir bahwa film ini akan instan, mengingat lanjutan sebuah cerita bisa siapa saja yang buat dan yang penting ada drama-drama dikit jadilah. Tapi ternyata saya salah besar.

Film besutan Riri Riza ini menurut saya adalah film yang simple tapi luar biasa. Ide cerita dengan alur sederhana yang sebetulnya bisa dibuat oleh siapa saja. Namun ketika hal-hal sederhana itu berada di tangan orang yang tepat, maka jadilah sebuah film romantis yang berhasil mengaduk emosi dengan cerdasnya. Riri Riza nampaknya sangat faham bagaimana menyentuh emosi peonton. Banyak kenyataan-kenyataan dalam film ini yang membuat penonton seketika sedih, lalu terkekeh, atau terkekeh sambil sedih. 

Kisah cinta dua remaja dan genk zaman SMA (yang dikenal sebagai Genk Cinta) ini sangat mewakili sebagian besar orang-orang yang pernah SMA, pernah punya cerita cinta dan pernah punya genk. Dengan cara yang sederhana tapi elegan Riri Riza membuat kita terhanyut dalam nostalgia dan romantika masa remaja, pelan-pelan penonton diajak menyaksikan keadaan hari ini. Tentang anak-anak SMA 14 tahun lalu yang sudah tumbuh menjadi manusia dewasa, berkeluarga dan bekerja tetapi masih memiliki ikatan persahabatan yang kuat. Ini adalah hal yang banyak terjadi pada semua orang. Sang Sutradara jeli sekali melihat peluang. Cerita tentang masa SMA tidak akan pernah membosankan terlebih tentang kisah cinta dan persahabatannya. Persahabatn Cinta, Karmen, Milly, Maura dan Alya adalah persahatan setiap anak SMA yang selanjutnya menjadi persahabatan orang dewasa dengan segala masalahnya. 

Empat belas tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah kisah cinta. Setelah rentang 14 tahun itu begitu banyak hal yang terjadigen cinta bertemu kembali dan merencanakan liburan ke Jogja. Siapa sangka Rangga juga di minta oleh ibunya (yang tidak pernah ada kabar) untuk menemuinya dan menyelesaikan apa yang harusnya di selesaikan, membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan. Tapi disini saya tidak akan menceritakan detail cerita film ini karena -semoga kalian faham- film ini baru saja rilis dan kita berharap film ini tembus sampai dua juta penonton. Demi majunya perfilman indonesia maka saya akan menuliskan hal lain saja tentang film ini, bukan tentang cerita cinta Rangga dan Cinta.

Candi Ratu Bokoh
Hal yang membuat saya terpesona di film ini adalah lokasinya. Jogja menjadi pilihan lokasi AADC 2, pasti sebelumnya melewati diskusi serta pertimbangan yang panjang. Buat saya itu adalah keputusan yang tepat. Jogja adalah kota romantis, jogja adalah kota dimana setiap orang selalu ingin pulang. Seperti rumah, jogja menawarkan kesederhanaan, keramahan dan kenyamanan. Jika melihat lokasi-lokasi di film AADC 2 ini sekilas sebagian besar bukan tempat yang waah atau mewah untuk ukuran film besar, justru sebaliknya semua hal tentang jogja di film ini ditampilkan apa adanya misalnya ketika Cinta dan Rangga ngobrol di sebuah teras rumah warga, rumah yang sangat biasa, halaman yang sangat biasa dan sederhana tapi tak sedikitpun membuat penonton berkomentar jelek banget tempatnya malah saya berpikir, gila ini keren banget, tempat sesederhana ini bisa jadi lokasi yang pas untuk dialog Cinta da Rangga. Belum lagi lokasi-lokasi lain yang bagus banget yang saya kira setelah film ini akan banyak orang yang datang kesana untuk berfoto.

Di film ini kamu tidak akan menemukan makanan atau minuman import, genks!
Segala sesuatu tentang makan dan minuman semuanya asli indonesia. Mulai dari Es Teh manis favorit genk Cinta, Gudek, Kopi Asli indonesia, dan bukan cuma makanan, rappernya pun berbahasa jawan men. Keren abis!
Klinik Kopi

Menonton film ini buat saya bukan sekedar menyaksikan cerita cinta Rangga dan Cinta lebih daripada itu. Saya melihat sebuah ide cerdas, karya kreatif, ide usaha, kepedulian, nasionalisme dan sindiran politik. Dengan sangat halus Riri Riza mengajak kita menyelami makna nasionalisme, makna sebuah perjalanan, dan makna kasih sayang dalam persahabatan dan keluarga. Menonton film ini membuat saya semakin bangga dan optimis pada perfilman negeri ini yang beberapa periode lalu di isi dengan film-film tidak berkualitas yang hanya mempertontonkan hal-hal vulgar dan humor porno. 

Borobudur dari Punthuk Setumbu,
Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah angin segar untuk perfilman Indonesia. Penonton cerdas pasti menyukai film ini karena memang dibuat dengan tidak sembarangan dan tidak instan. Meski terlihat begitu singkat persiapannya tapi saya yakin Miles dan Tim sudah memikirkan secara matang sebelum menyajikannya pada penonton. Film ini seperti hidangan yang lezat disiang hari ketika perut lapar sekali. Rasanya tak cukup sekali, harus nambah lagi.

Buat kamu yang baca tulisan ini, saya mohon maaf karena tidak memberikan cerita yang detail tentang ceritanya itu karena saya ingin kalian menikmati sendiri filmnya, juga karena saya ingin ini menjadi film dengan pencapaian penonton terbanyak. Aamiin

Sukses untuk Mbk Mira Lesmana, Riri Riza dan Team. Smeoga perfilman Indonesia maju terus. Saya Bangga pada perfilman Indonesia.


(Mataram, 30 April 2016. Ditulis sambil menikmati weekend yang baru saja dimulai...)
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community