May 6, 2016

Puisi BATAS, Puisi Rangga di AADC 2




Ini adalah puisi di film AADC 2 yang sukses bikin semua penggemar AADC 2 kebawa perasaan alias baper. Saya akui memang saya juga ikut baper, gila aja kalau gak baper puisi sekeren ini gitu lho. Apalagi kita udah ngikutin kisah cinta Rangga - Cinta sejak zaman kapan gitu. Jadi wajar aja kalau kebawa sama puisi ini. 

Jadi yang nulis puisi adalah Aan Mansyur namanya. Siapa dia? Selain dia penyair favorit teman saya saya tidak tau sama sekali siapa dia, meski sudah mengikuti perkembangan AADC 2 sejak embrio, meski sudah nonton AADC sejak hari pertama saya gak tau siapa Aan Mansyur, sampai suatu ketika puisi itu ada dimana-mana dan dibicarakan dimana-mana (gilee kapan ya puisi-puisi saya bisa gitu?).

Aan Mansyur dipercaya Mira Lesmana membuat puisi untuk film AADC 2. Bagi pencinta sastra, Aan Mansyur sudah terkenal lewat buku-buku puisinya, seperti Kukila (2012) dan Melihat Api Bekerja (2015)
Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, itu mendapat tawaran dari Mira Lesmana pada April lalu saat peluncuran bukunya di Yogyakarta. Aan Mansyur lalu menerima ajakan Mira Lesmana lantaran ia merasa diberi kesempatan untuk berterima kasih kepada AADC.

"Bagaimana pun, saya merasa AADC punya sumbangsih besar sekali. Mau orang akui atau tidak, AADC punya peran besar banget membuat wajah puisi Indonesia sekarang," ujar Aan Mansyur dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Selasa (22/12/2015).
"Jadi orang tiba-tiba juga membaca puisi, anak-anak muda dulu atau orang mungkin pikir cuma yang tua-tua banget. Kita enggak membayangkan anak-anak muda bawa-bawa buku puisi, baca puisi. Terlibat di sini sekarang artinya membuat saya sebagai orang yang menulis puisi bisa lebih percaya diri," lanjutnya.
Dalam menulis puisi AADC 2, Aan Mansyur melakukan banyak riset. Selain menonton berulang kali film AADC pertama, ia juga banyak membaca buku tentang New York di mana kota tersebut menjadi tempat Rangga menetap setelah memutuskan meninggal Jakarta.
"Suasana semacam apa yang bisa dia rasakan ketika dia kangen tanah airnya atau orang-orang yang dia cintai di negaranya, tapi dia harus tinggal di New York. Saya mengikuti sejumlah akun Instagram orang-orang yang memotret Kota New York supaya saya bisa lihat warna-warninya," kata Aan Mansyur.
Bahkan Aan Mansyur sampai harus memposisikan dirinya seperti Rangga dan bagaimana cara berpikirnya. Aan menulis puisi-puisi untuk AADC 2 selama 3 bulan.
"Puisi-puisi Rangga di film ini lahir dari cara berpikir Rangga dan juga persoalan-persoalan yang dihadapi Rangga. Rangga begitu percaya dengan yang disebut sebagai kekuatan kata-kata dan kekuatan bahasa," pungkas Aan Mansyur. (Fir/fei)**

Pada akhirnya gak susah buat menemukan puisi itu. Gooling keyword aan mansyur aja udah bejibun yang bahas. Ya sudahlah, gak perlau di bahas Basi! Puisinya udah di bahasa banyak orang! (ala Cinta)

Etapi, kalau boleh jujur, sekeren apapun puisi ini di tulis oleh sang penulis tetap keliatan gak keren waktu dia bacain sendiri puisinya hehehe piss. Mungkin karena saya lebih dulu melihat video Rangga bacain puisi ini kali ya? Maaf maaf tapi ini jujur. Memang kadang kita bisa menulis sesuatu dengan baik, dengan pilihan kata yang apik dan menyentuh tapi kita bisa jadi gagal ketika membacakannya apalagi jika sudah keseringan dibaca dimana-mana. Cukup.

Btw, AADC selalu keren. Kenapa? Karena AADC banyak orang jadi suka puisi, suka sastra padahal jika kalian lihat bagaimana stressnya guru-guru sastra mengajarkan siswa-siswanya bikin puisi kalian pasti geleng-geleng. Mereka lebih suka membuat caption sok bijak di instagram atau status curhat di pasbuk. Thanks semua elemen dari Ada APa Dengan Cinta Saya jaga termasuk salah satu mantan Alay yang berhasil ditarik ke jalan yang benar oleh AADC bertahun tahun yang lalu. Saya faham gimana rasanya jadi alay tobat Saya faham gimana rasanya menemukan keindangan menulis dengan baik dan benar setelah sebelumnya nulis dengan huruf besar kecil plus angka-angka, di tambah lagi bahasa sok imut yang belakang saya sadari malah amit amit. Ajaran siapa kah alay itu?? Entahlah mungkin itu bagian dari konsprirasi global yang ingin membuat abege indonesia gak menjauh dari Ejaan Yang Disempurnakan alias EYD. Entahlah...



Nih, puisi Batas, dari Aan Mansyur untuk Rangga (Bukan.bukan itu maksudnya, maksudnya puisi Milik AAn Mansyur untuk di pake Rangga buat ngambil lagi hati cinta setelah sekian tahun di anggurin, aaah mungkin Rangga gak tau betapa Cinta merasa enaknya di apelin)

Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

Nemu video ketika Sang Oenulis membacakan langsung puisinya




Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community