Jun 10, 2016

Cinta Adalah Tentang....


Dalam perjalanan hidup kita sebagai manusia, akan selalu ada cerita tentang cinta, mencinta, dicinta, kagum, mengagumi, dikagumi dan semacamnya. Hampir tak ada manusia yang lolos dari hal-hal tersebut. Bahkan ada yang berkali-kali jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi sampai akhirnya hafal dan baper jika mendengar lagu Jatuh bangun akuuuu mengejarmuu...

Dan saya berada di barisan orang-orang yang percaya bahwa cinta itu tak harus memiliki. Bahwa menyayangi itu tak mesti harus selalu bersama. Bahwa mengagumi itu tak harus membuatmu menjadi semacam psikopat yang akan selalu membuntuti kemana ia melangkah. Saya adalah orang yang -mungkin karena pengalaman kecewa kali- realistis dalam hal ini. Bahwa tak semua hal di dunia ini yang kita inginkan harus kita dapatkan. Tak semua cerita yang kita tulis harus berakhir indah (walau beberapa orang bilang kalau belum indah berarti belum berakhir).

Belum faham? Oke, mari lanjutkan.

Bukannya sombong ya, biarpun saya gak ganteng-ganteng amat saya punya beberapa kenalan selebritis walaupun kadang saya gak tau mereka ingat saya apa gak yang jelas beberapa orang artis ternama sempat saya miliki nomor hp dan pin bbm nya dan dikasi secara langsung. Salah satu contohnya gitaris band idola saya mas Piyu. Mendengar kabar dia di lombok saya langsung meluncur ke lokasinya dan lucky me saya bertemu langsung dengan mas keren ini di loby waktu itu dia baru selelsai renang. Saya sapa dan kami ngobrol lebih kurang 10 menit tentang alasan saya datang dan tentang betapa saya mengagumi karya-karyanya yang saya kenal sejak saya masih berseragam putih biru. Karena mas Piyu tidak punya waktu banyak dan kedinginan dia harus balik ke kamar dan meneruskan kegiatannya. Gak ada foto bersama, karena saya terlalu sulit menaklukkan entah rasa malu atau gengsi untuk ngajak fotoan. Tapi tanpa di duga mas piyu mau nge saya add di Path dan kamu bisa bayangkan gimana senangnya saya.

Tapi.. ada yang berubah setelah itu. Terlalu dekat sesorang yang kita idolakan dan kagumi ternyata membuat rasa meng-idola-kan itu berkurang sekian persen, semacam berkurangnya sensasi dari sebuah kekaguman dan euporia dari sekedar ucapan Hai dari idola sudah menjadi biasa. Maka saya putuskan saya tidak akan berteman dengan mas piyu di Path. Saya akan menikmati karyanya dari ruang saya. Saya akan menjadi pengagum yang duduk di bumi menatap sang bintang di atas sana. Iya, bintang itu terlihat indah dari bumi, beda rasanya jika kau berada di dekatnya apalagi sampai memeluknya, Hangus!

Masih belum mengerti? Oke Contoh lagi.

Saya punya teman, sudah menikah dan belum punya anak. Dia dan istrinya hidup bahagia. Karena berbeda pandangan tentang hidup dengan sang mertua setiap bertemu mereka seperti meteor yang bertabrakan. Ribut. Temanku Principle, Mertuanya keras. Tapi ia bilang ia sayang pada mertuanya. Tapi jika ia ada di dekatnya mertuanya menjelma menjadi manusia yang paling harus ia hindari. Jika jauh ia akan dengan senang hati dan tulus membantu apa saja asal jangan bertemu atau berada dalam satu ruang dan waktu. Pelajaran moral dari kisahnya adalah jika ingin menaklukkan sebuah negeri taklukkan dulu rajanya maka putri dan ratunya akan tunduk. Demikian.

Gimana udah faham tentang cinta yang tak harus memiliki?

Kalau belum saya ingin bercerita tentang scene yang buat saya bagus banget dari film Talak 3 yang beberapa minggu lalu tayang di bioskop (bukan promosi film juga sih).

Ada sebuah scene dimana Bu De dari si Arini (Laudya Cintya Bella) menceritakan mengapa ia bercerai dengan suaminya dan tak menikah lagi. Bu De bilang dia amat sangat mencintai suaminya, saking cintanya ia menerima saja perlakuan buruk dan tindak tanduk buruk suaminya. Saking cintanya ia selalu membalas semua perlakuannya dengan kebaikan dan itu berlangsung sampai tahun kesekian mereka menikah. Sampai pada suatu hari ia berpikir untuk mengubah suaminya menjadi lebih baik. Ia ingin suaminya lebih tenang, berlaku baik dan bertanggung jawab. Lalu ia pergi (meminta cerai) meninggalkan suaminya… bukan karena tidak mencintai tetapi karena itulah satu-satunya jalan yang baik untuk Bu De dan suaminya. Bu De berharap suaminya akan sadar dan mau berubah, ia akan menunggu untuk itu meski kelak sang suami akan menikah lagi dengan orang lain. Dan benar, sang suami menikah lagi dan ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Apakah Bu De kecewa? Tidak sama sekali, justru ia bahagia melihat sang mantan suami berubah menjadi lebih baik dan bahagia. Ia ikhlas dan menjalani hidupnya dengan bahagia pula, sendiri. 

Maka sadarilah juga besarnya cintanya Tuhan pada kita. Kita mencintai dan membutuhkan matahari tapi Allah meletakkannya di tempat yang tepat. Di tempat yang membuat kita aman dan matahari nyaman. Karena jarak antara kita dan matahari, kehidupan menjadi indah dan berwarna, bayangkan jika matahari berada beberapa meter di atas bumi, mugkin saat ini kita hanya butiran debu yang mau terjatuh atau teggelampun tak akan ada yang bisa membuat kita satu sama lain bangkit.

Maka bersykurlah…

Cinta adalah tentang keihklasan, kawan. Ikhlas membahagian dan melepaskan...


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community