Nov 27, 2016

Nak, Dulu Ayahmu...




Nak,  dulu nenekmu sampai marah karena ayah keasikan main kasti,  main apollo,  main perang-perangan di kebun,  berenang dan bikin rumah pohon sama teman-teman ayah atau ikut menggembala kambing sama teman-temabln sambil bawa buku-buku bacaan.

Adzan magrib biasanya jadi peluit panjang apapun permainan kami,  nak... Bersamaan dengan itu nenekmu dan ibunya teman-teman ayah datang dengan kayu di tangannya seperti sekawanan ibu ibu gengster,  dan ayah tidak punya pilihan lain selain mendahului nenekmu lari pulang tunggang langgang langsung mandi dan berangkat ngaji. Nanti selepas sholat isya berjama'ah baru ayah ada drmh itupun langsung berhadapan lagi dengan buku buku pelajaran esok pagi.  Nenekmu selalu setia menemani ayah belajar,  ia senang mendengar ayah membaca dengan nyaring.  Atau melijat ayah senyum senyum ketika berhasil memecahkan soal matematika.  Ia percaya itu senyum keberhasilan.


Hampir setiap hari begitu,  nak..
Jika hari minggu tiba papinnya ayah atau bayomu akan mengajak ayah dan sembilan cucunya melakukan hal seru.  Kadang mengajak kami memupuk jagung,  menanam sayur,  main karet gelang,  dan yang seru bayomu sering mengajak kami bersepeda,  jarak paling jauh ketika itu adalah ke bendungan di kaki bukit.  Jauuh sekali untuk ukuran anak-anak. Tapi kami bahagia,  bahagiaaa sekali bahkan itu adalah menjadi momen yang tak akan terlupakan sampai kapanpun...

Anakku, bukan salahmu jika saat ini kamu menyukai permainan dan video video di gadget itu.  Maafkan kami orang tuamu yang tak bisa menghadirkan masa kecil seindah masa kecil kami yang bebas bermain di alam...

Maafkan kami jika bermain kuda-kudaan atau pistol-pistolan dengan pelelah pisang saja tidak bisa setiap hari... Nanti saja ketika ada kesempatan untuk kita pulang ke rumah nenek dan bayo kita bermain sepuasnya di lumpur sawah Bayo mu,  di bawah rindangnya bambu bambu di kebun Bayo atau berlari lari di pematang.

Sungguh ayah tidak sepenuhnya senang kamu begitu jago memainkan jarimu di atas layar sentuh... Ayah dan ibumu sering merasa bersalah yang teramat dan khawatir ketika kamu lebih suka menonton video di youtube daripada memainkan boneka boneka dan mainan masak memasakmu.  Maka itu kami tetap menjaga dan membatasimu bukan semata karena keegoisan tetapi demi kebaikanmu,  nak...

Maafkan kami yang tak punya cukup ilmu untuk membinbingmu,  maafkan kami yang kadang tak sabar mengajarimu... Apapun itu ayah dan ibu bukan hanya ingin kamu baik baik saja tapi juga mendapatkan segala yang terbaik... 
Terimakasih,  nak telah menjadi anak kami,  bagian paling berharga dalam hidup kami,  menjadi guru kami dalam banyak hal yang setelah kehadiranmu barulah kami fahami... Selalulah sabar dan menjadi penenang di kala dunia membuat kami lelah... 


Nak, dulu Ayahmu bahagia sekali dengan permainan sederhana dan serba tradisional...

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community