Dec 13, 2016

Belajar dari Masalah

Selama masih menyandang status sebagai makhluk hidup selama itu pula kita akan selalu berhadapan dengan masalah. Bukan cuma manusia, sepertinya semua makhluk hidup akan selalu bertemu dengan masalah. Binatang dan tumbuhan tak akan lepas dari masalah karena mereka hidup, mereka membutuhkan ruang, mereka membutuhkan udara, mereka membutuhkan makanan, dan mereka membutuhkan keamanan. Untuk mendapatkan semua kebutuhan itu selalu ada hal yang harus dilewati, dibayar atau dikorbankan. Semua makhluk bersaing untuk memenuhi kebutuhannya. Keingian-keinginan adalah sumber sebagian besar masalah dalam kehidupan. Maka saat itulah semua mahkluk memerlukan bekal untuk bertahan, bekal untuk mendapatkan, dan bekal untuk meraih yang diinginkan.

Manusia mungkin adalah makluk yang paling banyak masalah di dunia ini. Masalah dengan diri sendiri dengan orang lain bahkan dengan alamnya. Berat badan naik aja bisa menjadi masalah buat manusia yang begitu memperhatikan penampilan, catok rusak adalah masalah besar buat abege yang ingin selalu tampil kece ala alay, ketombe juga bisa jadi masalah serius buat seseorang, dan banyak lagi masalah-masalah sepele yang kadang membuat orang bisa pusing dan stres. Jika dengan masalah sekecil itu aja sudah stress bagaimana nanti ketika menghadapi masalah besar?


Minggu-minggu ini Allah kembali memberikan saya pelajaran baru. Pelajaran yang agak lebih rumit dari sebelumnya. Jika sebelumnya saya mendapatkan pelajaran tentang bagaimana menghadapi manusia lain yang tak menyukai kita, atau pelajaran tentang kesabaran menghadapi orang yang seperti noda di lensa kamera kali ini saya harus menghadapi dua pelajaran dan ujian sekaligus. Tapi alhamdulillah seperti biasa, apapun masalahnya saya terima dengan ikhlas dan siap, saya hanya melihat masalah dari sisi berbeda, Allah sedang ingin mengajari sesuatu yang baru saat ini. Sesuatu yang belum pernah saya alami selanjutnya. Buat saya hidup ini adalah madrasah, setiap hari kita belajar dna belajar, belajar dari siapapun dan apapun untuk kematangan jiwa dan kebijakan diri. Ketika masalah hadir maka saya anggap ia adalah seorang guru baru yang di kirimkan Allah untuk saya.

Hari sabtu lalu (10/12) saya kehilangan kamera kesayngan saya beserta dua lensa tele, uang tunai, modem dan charger saya di ruang tamu rumah saya sendiri. Apa yang akan saya lakukan dalam menghadapinya. Awalnya saya panik, shock, kaget dan ingin marah, lebih ke ingin marah pada diri sendiri karena telah lalai menjaga keamanaan rumah tapi kemudian saya mulai berusaha menguasai diri, menenangkan diri, beritigfar pada Allah. Muhasabah diri, bahawa bisa jadi ini teguran Allah agar saya lebih waspada, tidak teledor, dan mungkin saya harus lebih banyak lagi bersedekah. Kedua saya harus menanamkan dalam hati dan otak saya bahwa sedekah adalah benteng diri dari mara bahaya, insyaallah appaun yang hilang bisa jadi ia adalah sedekah yang diambil Allah untuk melindungi kita dari hal-hal bahaya yang takkita tahu akan seperti apa. Insyaallah Allah Maha tau dan saya harus percaya jika saya sabar Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Oke saya ikhlas.

Lalu saya merasa alangkah sombongnya saya jika tak beriikhtiar menemukan kembali yang telah hilang. Apalagi itu adalah barang yang sangat beharga bagi saya. Maka saya mulai mencari fakta-fakta tentang kejadian hari itu dan terkumpullah beberapa bukti dan saksi yang mengarahkan kecurigaan saya kepada sekelompok orang yang bekerja sebagai tukang bangunan di samping rumah saya. Dari keterangan saksi-saksi dan kejanggalan yang saya lihat beberapa hari sebelumnya kecurigaan saya semakin menguat, misalnya salah seorang dari mereka sering kali kedapatan mengintip dari pagar ke dalam rumah saya, itu terjadi berkali-kali dan mereka selalu kaget ketika kedapatan mengintai dan banyak lagi hal-hal lain yang membuat kecurigaan semakin menguat. Hingga akhirnya saya mengajak kepala tukangnya untuk bicara berdua di rumah saya. Si bapak gelisah dan terlihat menahan gemetarnya ketika saya ajak ngobrol. Tapi saya tenangkan dia, saya cuma ingin menyampaikan isi hati saya serta rencana saya tentang kasus ini. Saya meminta maaf sebelumnya jika harus terlibat dalam hal ini, tapi memang harus karena di TKP hari itu mereka ada disana dna mustahil mereka tidak tahu, kemudian saya beritahukan bahwa saya akan meminta bantuan polisi untuk menyelidiki kehilangan saya. Nanti polisi yang akan memeriksa siapa saja yang ada di tkp pada saat itu, siapa saya yang pernah memberikan keterangan tentang kehilangan itu akan diperiksa. Jadi, sebelum saya memasukan laporan saya sampaikan pada si bapak, jika memang diantara tukang itu tak ada yang mengambil maka ikuti saja prosesnya dengan lancar supaya cepat kelar, namun jika memang ada diantara mereka yang khilaf mengambil barang saya saya masih menerima maaf mereka, kembalikan saja kamera saya, uangnya silahkan ambil. Perbincangan kami selesai dengan bersalaman, saya menjadi lebih lega sementara si bapak menjadi lebih tegang dan telihat berpikir keras. 

Ya Allah sedang mengajari saya menghadapi kasus pencurian. Saya akan diajari bagaimana berkomunikasi dengan pihak yang saya curigai, bagaimana membuat laporan kehilangan, bagaimana prosedur pemeriksaan dan lain-lain. Alhamdulillah... akan saya nikmati semua proses bermanfaat ini.

Belum kelar masalah kehilangan muncul lagi satu masalah. Jika saya kehilangan kamera dan uang di ruang tamu dan di bagian depan rumah, masalah selanjutnya berada di belakang rumah. Adalah seseorang yang telah membayar tanah kosong di belakang rumah dan akan membangun (enteh rumah atau kantor, belum jelas) tepat di belakang rumah kami. Jarak antara jendela belakang dengan tembok akan dibangun kurang satu meter, dan ada kelebihan tanah kamijuga tak lebih dari satu meter dari tembok rumah akan tertutup permanen jika tembok itu dibangun. Jika demikian maka posisi tanah kosong itu akan seperti bak air, air akan tertampung disana selama hujan. Akses untuk kesanapun tidak ada lagi. Lalu apa gunanya tanah itu? karena itu saya meminta kepada tetangga baru saya untuk tidak perlu membuat tembok pembatas disana, biarlah kami yang akan menutup permanen jendela kami atau beri kami kesempatan berpikir bagaimana mengatur bangunn kami untuk menyesuaikan. karena mereke terlihat begitu terburu-buru, saya tanyakan apakah langsung dibangun? dia menjawab belum ada gambarnya dll. Setidaknya berikan saya kesempatan membuat rencana merombak bangunan bagian itu. Maka berhari-hari dan berkali-kali saya bertemu dan beribaca tentang bagaimana solusi ini. Pada akhirnya mereka tetap tidak mau mengalah untuk kepentingan bersama. Jendela saya akan tetap tertutup oleh temboknya. Maka saya harus segera memikirkan dan mengerjakannya. Saya yakin Allah akan membimbing saya.

Ketika kita menganggap masalah adalah cara Allah mengajari kita hal baru maka tak akan ada rasa takut menghadapinya. Ketika ketika berpikir bahwa masalah adalah cara Allah mendewasakan kita maka kita akan sabar menghadapinya. Seperti para tentara, mereka menjadi kuat karena latihan yang berat, seperti perhiasan dengan bentuk yang menawan, mereka menjadi sedemikia indah karena berkali-kali ditempa... maka seperti itulah hidu, hati yang bijak, jiwa yang tenang, pkiran yang dewasa tidak terjadi begitu saja melainkan setelah melewati berbagai macam ujian dan masalah hidup.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community