Feb 8, 2017

Tau dari Youtube

Hampir setiap saya lupa tutup pintu teras atas rumah ada dua sampai empat ekor kucing liar dan kucing tetangga masuk ke rumah, di lantai atas mereka kadang bermain di tumpukan jemuran yang belum sempat disetrika, kencingin pintu kamar mandi, muntah di lantai dan biasanya ribut. Paling sering mereka bergerombol ke dapur ketika tengah malam, tak jarang mereka bikin gaduh karena menjatuhkan piring atau tutup panci. Yang paling membuat saya jengkel, sudah dua kali tv saya dikencingin dan ini adalah bulan ketiga saua tidak punya tv karena biaya servisnya setara biaya beli tv LED baru. Walaupun hikmahnya keluarga kecil saya tidak kenal sinetron dan tontonan lainnya di tv. Tapi saya jadi tidak bisa nonton film bermodal colok usb.
Malam ini, sepulang liqo, anak-anak belum tidur, mereka menunggu di kamar dengan buku dongengnya. Menunggu saya pulang untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Malam ini dongeng tentang Bintang kecil dan Bidadari bintang. Quin kesal karena Deeva selalu menambahkan dongengnya dengan ceritanya sendiri dan ribut. Hingga ketika dongeng hampir selesai terdengar suara piring jatuh di dapur, refleks kami bertiga bangun dan menuju dapur, ibunya sudah lelap sejak tadi. Benar saja, seekor kucing Angora tua dan seekor kucing kampung berekor panjang lari naik tangga dengan panik hingga menjatuhkan ikan dari gigitannya. Quin berlari mengambil sapu dan memberikan ke saya sambil berkata "kejar dia ayah" sementara Deeva memeluk kaki saya.
Saya naik ke lantai atas, mereka berdua ngotot ikut. Ternyata kucing-kucing itu sudah lari kekuar rumah, loncat dari tembok ke tembok menembus hujan lebat. Biarkan saja. Saya menututup rapat pintu dan semua celaj yang memungkin sebagai jalan kucing-kucing garong itu masuk. Setelah semua saya rasa beres saya mengajak anak-anak turun lagi untuk tidur tapi malah di ajak ngobrol, ditanya ini itu tentang kucing, hujan, petir, malaikat, dan ketombe (hadeehh).


Di tengah-tengah obrolan tadi Quin dengan sok bijak menyarankan sebuah ide pada saya.

"Ayah Uin tau caranya biar kucing itu takut datang" katanya
"gimana caranya?“ tanya saya berpura-pura penasaran
"Coba ayah beli timun itu ayah, timun yang hijau kayak di lalapan ayam goreng itu" katanya dengan gaya sok dewasa.
"Hah timun? Buat apa?“ saya mulai tertarik.
"Kucing itu yah, takut sama timun itu.., dikira ada matanya timun itu, di kira urar... (ular maksdnya)" jelasnya masih dengan gaya sok tenang.
"Masa sih? Uin tau dari mana? "
"Gitu yang uin liat di yutup itu.. Kucingnya lari liat timun itu ayah"
Hmmm...
"Waah kakak hebat! makasih ya kakak.. Besok kita minta ibu beli timunnya. Sekarang kita bobo, oke! "

Dan drama dimulai. Deeva minta Teh pake dot dan dia sendiri yang mau celup-celupin tehnya, Quin mau eek tapi ditemani 😨, dan beberapa permintaan lainnya untuk menangkis kalimat "ayo tidur"!
Di luar hujan mulai reda, angin juga mulai bertiup pelan, dan dua bocah ini sedang bermain play doh. Sementara saya menulis cerita ini sembari mengerjakan beberapa hal untuk project bareng dua teman saya dan si ibu sudah berpetualang di negeri mimpi....

(07/02/2016, 23.40 Wita)




Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community