Apr 30, 2017

Dua Bata Jelek

Setelah kami membeli tanah untuk wihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat utang. Tidak ada bangunan di atas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun tidak ada. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu-pintu tua yang kami beli secara murah dari pasar loak. Kami mengganjal pintu-pintu itu dengan batu bata di setiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras-tentu saja, kami kan pertapa hutan).
Biksu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu yang datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar di tengahnya, yang dulunya merupakan tempat gagang pintu. Saya senang sekali gagang pintu itu telah dicopot, tetapi malah jadi ada lubang persis di tengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tak perlu bangkit dari ranjang jika ingin ke toilet. Kenyataannya, ada saja angin yang masuk melewati lubang tersebut. Saya jadi tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam-malam itu.
Kami hanyalah biksu-biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang-bahan bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang: bagaimana menyiapkan pondasi, menyemen, memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa, pokoknya semua yang berkaitan. Saya adalah seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum menjadi biksu, jadi tidak terbiasa bekerja kasar. Pada saat memulainya, ternyata bertukang itu sangat sulit.
Kelihatannya gampang membuat tembok dengan batubata. Tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok disana-sini. Ketika saya memulai memasang batu bata, saya ketok satu sisinya untuk meratakannya, tetapi sisi lainnya malah jadi naik. Lalu saya ratakan sisi yang naik itu, eh batu batanya jadi melenceng. Setelah bagian yang melenceng saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat. Silahkan dicoba sendiri (^_^)
Sebagai seorang biksu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang dengan sempurna, tidak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya. Saat itulah saya melihatnya-OH TIDAK!- saya telah keliru memasang dua buah batu bata. Semua bata yang lain sudah lurus, tetapi dua batu bata itu tampak miring sendiri. Mereka terlihat jelek sekali dan merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.
Ketika saya membawa para tamu pertama kami berkunjung keliling wihara kami yang baru setengah jadi, saya selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang lain yang melihatnya. Lalu, pada suatu hari kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok, saya berjalan dengan seorang pengunjung, dan tanpa disangka, ia melihat tembok yang saya buat itu.
“Itu tembok yang indah,” ia berkomentar dengan santainya.
“Pak,” saya menjawab dengan terkejut, “apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok tersebut?”
Apa yang ia ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata,” ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus.”
Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata yang lainnya, selain dua buah bata jelek itu. Di atas, bawah, kiri dan kanan dari dua batu bata yang jelek itu adalah batu bata-batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna, jauh lebih banyak dari dua bata jelek itu. Selama ini, mata saya hanya terpaut pada dua kesalahan yang telah saya perbuat. Saya terbutakan dari hal-hal lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya tak tahan ingin segera menghancurkannya. Sekarang, saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, “Sebuah tembok yang indah.” Tembok itu tetap berdiri sampai sekarang, namun saya sudah lupa persisnya di mana dua batu bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.
Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bahkan bercerai dari pasangan mereka, karena semua yang mereka lihat dari diri pasangan mereka adalah “dua bata jelek”? Berapa banyak dari diri kita yang bahkan ingin bunuh diri karena semua yang kita lihat dari diri kita adalah “dua bata jelek”? Pada kenyataanya, ada jauh lebih banyak batu bata yang bagus dibandingkan dua bata jelek, namun pada saat itu kita tak mampu melihatnya. Malahan setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya kita benar-benar menghancurkan “sebuah tembok yang indah”.
Kita semua memiliki “dua bata jelek” namun bata yang baik dalam diri kita masing-masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama pasangan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, namun ini kabar baik bagi anda.
Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan member tahu saya tentang rahasia profesinya. “Kami para tukang bangunan SELALU membuat kesalahan. Tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah ciri-ciri unik yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dolar.”  (^_^)
Jadi, “ciri unik” di rumah anda, bisa jadi, awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang anda kira sebagai kesalahan pada diri anda, rekan anda, pasangan anda atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah ciri unik, yang memperkaya hidup anda di dunia ini, tatkala anda tidak lagi terfokus padanya.
Dari Buku si Cacing dan Kotoran Kesayangannya


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community