Apr 28, 2017

Catatan dari Festival Pesona Tambora 2017

Pada tanggal 10 April 1815, Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus dengan sangat dahsyat, bahkan jauh lebih dahsyat dari letusan gunung Krakatau tahun 1883. Tahun 2017 peristiwa ledakan mahadahsyat tersebut akan memasuki usianya yang ke-202. Untuk memperingati meletusnya gunung tersebut, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar festival peringatan yang diberi nama “Festival Pesona Tambora”. Setelah sukses ditahun 2016, Tambora Menyapa Dunia dijadikan event pariwisata dan budaya tahunan di NTB. 

Beruntungnya saya bersama teman-teman relawan promosi Pariwisata Lombok - Sumbawa yang tergabung dalam wadah bernama Generasi Pesona Indonesia Lombok Sumbawa (GenPI LS) turut meramaikan event yang digelar di beberapa spot ini. Mulai dari Festival Mantar, Semalam di Istana Dalam Loka, Seminar SAKOSA di atas Kapal Perang Teluk Mandar di Teluk Bima, Festival Lawata, Festival Kalaki sekaligus meresmikan taman Kalaki, hingga berakhir di spot utama dan acara puncak di Doro Ncanga, padang Savana di Lereng Gunung Tambora. Meski tidak bisa mengikuti semua tetapi saya merasa senang karena bisa mengikuti sebagian besarnya. Saya dan beberapa teman-teman GenPI LS serta beberapa teman media menghadiri event Semalam di Istana Dalam Loka, Seminar SAKOSA, Festival Lawata yang dirangkaikan dengan memperingati hari jadi Kota Bima, kemudian berlanjut ke Festival Kalaki, hingga berakhir di Puncak event Festival Pesona Tambora di Doro Ncanga. Cukup panjang perjalanan kami.


Semalam di Dalam Loka

Seperti namanya seminar ini diselenggarakan di Istana Dalam Loka yang terletak di jantung kota Sumbawa. Adapun kegiatannya berupa open house istana dalam loka untuk umum, pameran peninggalan-peninggalan Kesultanan Sumbawa di masa lampau yang di ujung acara ada Silaturrahim dan Diskusi Pelaku Wisata. Kenapa di Istana Dalam Loka? Istana Dalam Loka merupakan bangunan bersejarah Kesultanan Sumbawa sejak masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaludin Syah III (1883-1931), yang mencerminkan betapa kuat dan religiusnya Kesultanan Sumbawa pada masa itu. Ajang diskusi dan pameran ini diharapkan bisa menjadi pembangkit semangat para pelaku wisata juga masyarakat pada umunya untuk terus melestarikan kebudayaan dan alam sumbawa yang merupakan potensi besar untuk kemajuan pariwisata Sumbawa. Event yang dihadiri oleh Kepala Disporabupar Sumbawa, Ir H Junaidi MSi juga banyak membahas potensi-potensi wisata Sumbawa yang selama ini masih terpendam, masih belum banyak masyarakat yang tahu atau memahami bahwa Sumbawa itu pulau yang kaya alamnya namun masih belum terjamah. Sehingga masih belum banyak yang mengenal apalagi merawat. Jadi pada diskusi di umumkan pula tentang pemetaan spot wisata di Sumbawa menjadi tiga zona, Zona A merupakan spot Ekowisata yang berupa keindahan dan gunung termasuk juga air terjun dan lainnya. Zona B adalah spot wisata bahari karena Sumbawa memiliki banyak sekali spot-spot wisata bahari yang tak kalah indahnya dari Lombok atau Bali. Di sebutkan juga tentang pengembangan kawasan Segita BULAT (Bungin, Labu Pade, Tamase) yang menjadi kawasan andalan di Wilayah Kec. Buer dan Utan. Kemudian Zona C adalah spot wisata sejarah, prasjearah dan peninggalan purbakala seperti Situs Sarkopagus, Gua Liang Petang, Batu Gong dan lainnya.

Sayangnya kami tidak bisa mengikuti diskusi menarik tersebut sampai selesai karena malam itu juga kami harus melanjutkan perjalanan menuju Kota Bima karena paginya harus mengikuti seminar SAKOSA yang akan di adakan di atas Kapal Perang KRI Teluk Mandar.





Seminar SAKOSA

Seminar Sakosa, yang digelar pada Sabtu (8/4), menjadi seminar paling unik dan menarik yang pernah diadakan, karena dilangsungkan diatas kapal perang KRI Teluk Mandar, diperairan Teluk Bima, Kota Bima, NTB. Seminar ini membahas bagaimana Pengembangan Industri Kreatif Guna Mempercepat Pertumbuhan Industri Pariwisata di Pulau Sumbawa. Seminar ini juga merupakan rangkaian dari acara Festival Pesona Tambora (FPT) 2017, 5-11 April. (Lombokinsider.com)

Sakosa sendiri merupakan singkatan dari Sangeang Komodo dan Sape. Tiga kawasan yang memiliki potensi dan keunikan tersendiri yang berada sepanjang pesisir Bima. Dalam acara ini hadir bapak Wakil Gubernur NTB berserta Istri dan menyatakan bahwa Pemprov NTB mendukung industri kreatif yang ada di Bima dari proses perencanaan, pembuatan hingga pemasaran.

Tujuan dari diadakannya seminar ini adalah untuk mengembangkan industri kreatif yang ada diseluruh Kabupaten/Kota yang ada di NTB. “Kami sengaja memfokuskan pada pengembangan ekonomi kreatif agar para pengusaha UMKM bekerja dan berkreasi untuk bisa lebih maju, sehingga produk yang dihasilkan dapat menunjang sektor pariwisata di daerahnya” tegas Faozal. Hal ini juga untuk membangkitkan kembali semangat perekonomian Bima pasca banjir beberapa waktu lalu.
Faozal menambahkan, FPT tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab tahun ini, rangkaian festival tidak hanya di Kabupaten Dompu, tetapi juga di Kabupaten Sumbawa dan Bima. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan rasa keadilan bagi semua warga di Pulau Sumbawa. “Supaya adil, karena Tambora tidak hanya punya Dompu, tapi juga Sumbawa dan Bima,” katanya.
Menurutnya, dukungan pengembangan pariwisata untuk NTB, khususnya Pulau Sumbawa semakin besar, termasuk dari TNI baik darat, laut dan udara. Mulai dari pengamanan, peminjaman kapal (KRI) Teluk Mandar 514, selain itu, akan ada 18 orang penerjun dari Paskhas TNI-AU yang akan melakukan aksi terjun payung di Doro Ncanga, pada puncak acara 11 April mendatang. (Lombokinsider.com)




Festival Lawana & HUT Kota Bima

Festival Lawata diisi dengan pembukaan berupa pentas seni tari dari Bima dan Lombok, merupakan perpaduan antara dua pulau yang ada di NTB, lomba renang, perahu hias, bakar dan makan ikan bersama serta quiz berhadiah. “Melihat potensi wisata berupa teluk yang indah dan memang telah lama pantai ini menjadi salah satu pantai favorit bagi masyarakat Bima untuk berlibur, maka dipastikan kedepannya dapat menjadi destinasi wisata unggulan di NTB,” jelas Wagub H. Muh. Amin, saat memberikan sambutan.
Wagub juga selalu mengingatkan untuk selalu memperhatikan pembangunan sarana dan prasarana dasar seperti, jalan, air dan listrik, hal yang sama juga ditegaskannya pada saat meresmikan Taman Wisata Kalaki sekaligus Information Tourism Center (ITC) yang berada di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima.
Sebagai bagian dari FPT, tentunya kedua fesival ini Lawata dan Kalaki secara tidak langsung menjadi promosi bagi daerah Bima yang terbagi menjadi Kabupaten dan Kota Bima. Nama Lawata sebagai sebuah pantai dengan teluknya yang cukup indah dipastikan terangkat. Pagi itu acara dirangkai juga dengan perayaan HUT Kota Ke-15 yang jatuh pada (10/4), Festival Pesona Lawata berlangsung meriah.
PARADE. Lomba Perahu Hias, Meramaikan Festival Lawata pada Minggu Pagi (9/4).
Sementara Walikota Bima HM. Quraish Abidin mengatakan bahwa pihaknya akan membangun infrastruktur baru destinasi wisatanya, juga pembenahan Pantai Lawata. “Kami akan mengembangkan destinasi Pantai Lawata ini agar lebih baik lagi, dengan segenap kemampuan daerah yang kita miliki,” tegas orang nomor satu di Kota Bima ini.
Demikian juga dengan Kadispar Bima Suprianto Msi menjelaskan bahwa acara ini dihajatkan untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. “Khususnya Kota Bima agar tidak larut dalam kesedihan pasca banjir bandang yangmenerjang Kota Bima, bahkan hingga dua kali beruntun dalam waktu beberapa bulan ini,” jelasnya. (lombokinsider.com)




Festival Kalaki

Pada sore harinya, Wagub Muh. Amin juga meresmikan Taman Wisata Kalaki yang berada di wilayah Kabupaten Bima. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Bupati Bima, Indah Damayanthi Putri, untuk melaporkan progamnya. Acara diisi dengan peresmian Taman Wisata Kalaki sekaligus Information Tourism Center (ITC) yang berada di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima, serta pameran ekonomi kreatif.
Bupati menambahkan, pihaknya sangat berterima kasih atas dukungan Pemprov dalam hal ini Wagub dan Kadispar NTB, terhadap kemajuan pariwisata di Kabupaten Bima, khususnya dan NTB pada umumnya.
MBOJO. Kain Khas Mbojo. Dipamerkan pada Peresmian Taman Kalaki.
Indah berjanji bahwa apa yang menjadi titipan Pemprov ini, akan dijaga baik-baik, serta berharap akan selalu terjalin sinergitas antara Pemkab dan Pemprov. Selain itu Bupati juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung peresmian Taman Wisata Kalaki ini. “Taman ini In Sya Allah akan menjadi tempat silaturrahim bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Bima dan sekitarnya,” pungkas Bupati wanita pertama di NTB ini.
Keikutsertaan TNI dan Polri pada pelaksanaan FPT kali ini juga sangat membantu Pemprov untuk mensukseskan FPT 2017. TNI-AL misalnya, mereka meminjamkan KRI. Teluk Mandar yang digunakan sebagai tempat Seminar Sakosa dan Pameran Ekonomi Kreatif. Demikian halnya dengan TNI-AU yang akan menerjunkan 18 anggota Paskhasnya pada acara puncak esok pagi (11/4) (lombokindiser.com)




Acara Puncak Festival Pesona Tambora

Puncak acara Festival Pesona Tambora berlangsung di Parang Savana Doro Ncanga Dompu, sehari sebelum kegiatan puncak, di tempat yang sama juga di adakan Seminar Geopark Tambora. Luas kawasan Geopark Tambora yang diusulkan mencapai 2.130 kilometer persegi yang memiliki kaldera yang terbentuk akibat letusan yang kekuatannya 171 ribu kali bom atom Hiroshima pada tahun 1815. Proses geologi memunculkan potensi keragaman geologi di Tambora dan sekitarnya mulai dari kaldera, gunung api, kerucut-kerucut sinder, air terjun, pantai vulkanik dan pulau vulkanik. Dalam seminar ini banyak dibicarakan mengenai hal-hal yang membuat Tambora layak menjadi Geopark, namuan tak sedikit juga peserta yang meminta pihak terkait untuk mempertimbangkan lagi rencana itu mengingat masih banyak hal yang perlu dibenahi di Sekitar Tambora.

Keesokan harinya, acara puncak dihelat. Padang Savana Doro Ncanga menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru BIma Dompu bahkan dari luar daerah. Acara yang di merikan oleh atraksi penerjun payung dan pesawat tempur juga penampilan special DEwi Yull menjadi alasan banyaknya masyarakat yang datang. Acara ini dihadiri juga oleh Bapak Wakil Gubernur NTB, Bupati Dompu, Perwakilan dari Kemenpar bapak Prof Ahmansyah juga hadir bapak Triawan Munaf yang turut memberikan motivasi tentang Ekonomi Kreatif. Triawan menegaskan dengan pengembangan ekonomi kreatif di destinasi wisata, PDB yang dihasilkan pada 2015 mencapai 852 Triliun dan 2016 sebesar 900 T.








Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community