Apr 27, 2017

Film Kartini (2017), Mengenal Lebih Dekat Kisah RA Kartini


Pada Abad ke-19 masih berlaku suatu ketentuan bahwa bupati di Jawa harus dijabat oleh seorang bangsawan tingg dan untuk menjadi seorang bupati, bangsawan tinggi tersebut harus beristerikan bangsawan tinggi pula. Ketentuan tersebut berlaku pula bagi Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo). Meskipun ketika masih menjadi Wedana Mayong (sebuah wilayah Kecamatan di Jepara) sudah menikah dengan MA Ngasirah muda (Nova Eliza), Sosroningrat harus menikah dengan Raden Ajeng Moerjam (Djenar Maesa Ayu), seorang bangsawan tinggi,  agar bisa memenuhi syarat untuk menjadi Bupati Jepara dan itu adalah syarat yang harus di penuhi meskipun karena itu Sosroningrat harus menjadikan istri pertamanya Nngsirah sebagai Bibi/pembantu (Yu) di lingkungan rumah Kabupaten, tinggal di rumah belakang. Sedihnya lagi ketika anak-anak  Ngasirah tua (Cristin Hakim) beranjak remaja, mereka harus tidur di kamar depan dan belajar tetek bengek bangsawan yang rumit serta harus memanggil ibunya sendiri dengan panggilan Bibi (Yu). Cinta memang ada diantara Sostroningrat dan Ngasirah tapi tradisi saat itu jauh lebih kuat.

Film yang berdurasi 115 menit ini menceritakan betapa kerasnya aturan pada masa itu terhadap perempuan. Perempuan ketika menginjak usia remaja maka akan segera masuk pingitan, menunggu seorang Raden Mas memboyongnya untuk dijadikan istri ke dua, ketiga dan seterusnya. Sejak kecil Kartini sudah tidak nyaman dengan tradisi seperti itu. Batinnya menolak. Maka perlawan-perlawan kecil tapi cerdas ia jalankan. Disinilah pesan moral utama dari film ini muncul. Bahwa perubahan itu hanya akan ada jika kita bergerak, bergerak tak selalu harus berperang, berperang tak selalu harus dengan pedang. Kartini memulainya dengan membaca lalu menulis. Kebebasan itu ia rasakan pertama kali di ruangan kamar Raden Mas Panji Sosrokartono (diperankan Reza Rahardian). Ketika Raden Mas Panji menitipkan kunci kamarnya pada Kartini sebelum ia berngkat ke Belanda. "Ada pintu yang bisa membuatmu melihat dunia di kamar saya" begitu katanya. Melihat buku-buku di balik pintu lemari Kartini faham dan mulai membaca-membaca kemudian menulis.

“Apa yang kamu miliki saat ini tidak akan ada artinya jika hanya untuk dirimu sendiri. Kamu harus berbagi.”  

Begitulah nasehat Raden Mas Panji Sosrokartono (diperankan Reza Rahardian) kepada adik kesayangannya, Kartini (Dian Sastrowardoyo). Nasehat Sang Kakak tersebut menjadi pijakan untuk memahami sosok Kartini dalam film ini secara utuh. Melalui film ini Sutradara Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa Kartini lebih dari sekedar sosok yang setiap tanggal 21 April diperingati cukup hanya dengan berpakaian tradisional di sekolah-sekolah dan kantor-kantor  disertai dengan kegiatan-kegiatan seremonial yang klise dan sekedar formalitas belaka.

Scene demi scene berjalan cepat tapi halus dan membuat penonton bisa menikmati setiap perpindahan adegannya. Skenario yang rapi, bahasa jawa dan Belanda yang digunakan para pemain secara keseluruhan terdengar real untuk orang awam seperti saya yang bukan jawa apalagi Belanda. Untuk Audio sama seperti film-film Hanung terdahulu, apik dan menegaskan setiap scene dan yang paling saya sukai dari film ini adalah Latar Jepara abad 19 yang nyata, unik dan adem, tentu dengan Sinematografi yang meski umum dan sederhana tapi tetap mengagumkan sehingga mendukung adegan demi adegan yang kebanyakan membuat mata sembab dan bergumam ooh. oooh jadi gini..ooo jadi gitu... hahaha


Banyak hal yang tak kita ketahui tentang perjuangan Kartini yang diperlihatkan pada penonton di Film ini. Film ini mengubah perspektif kita tentang perjuangan kartini. Jika saya bisa bilang, bukan orang Belanda yang membuat Kartini menjadi menginspirasi banyak orang tetapi justru keluarganya dan lingkungannya kala itu.

Kartini lahir dari keluarga Islam Kejawen yang tidak begitu mengenal Islam dan Al Qur'an lebih jauh dan Kartini adalah sosok yang polos berjiwa baja yang pikirannya selalu penuh pertanyaan serta tubuhnya yang selalu siap bergerak mencari tahu apa dan mengapa. Maka segala yang bisa ia tanyakan ia tanyakan termasuk ketika ia begitu mengagumi Arti Surat Al Fatiha, ia sangat ingin belajar Al Qur'an. Ia pun tak bisa tinggal diam melihat keadaan lingkungannya yang penuh mitos dan pantangan. 

Setelah menonton film ini kita akan tahu bahwa Kartini banyak mewarisi watak Romonya. Pikiran dan Hatinya sama seperti romonya. Bedanya, Kartini berani melawan.

Pada akhirnya kita menjadi lebih faham mengapa sosok Kartini memang layak disebut sebagai Pahlawan emansipasi, pertama karena ia bergerak melawan ketidak adilan pada perempuan di Jawa, jika bisa ia ingin seperti Cut Nyak Dien dan lain-lain yang bebas untuk ikut ke medan juang bukan meringkuk di kamar gelap menunggu calon suami datang. Kedua, Karena Kartini menulis. Ia tak bisa bergerak leluasa maka ia menuliskan isi kepala dan hatinya, mengirimkan dengan berbagai cara pada orang yang bisa menyuarakannya, Ketiga Karena Kartini berani bersuara, menyuarakan kegelisahan hati dan pikirannya yang terkungkung oleh kasta gender zaman kolonial.




Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community