May 11, 2017

Sepulang Sekolah di Sungai Jangkuk

Tadi sore, seperti biasanya Deeva selalu ingin ikut jemput kakak ke sekolah, di sekolah kakaknya (Islamic Boarding School Lentera Hati) dia sangat senang berintraksi dengan bunda-bunda maupun teman-teman kakaknya, biasanya dia yang lebih dulu turun dari sepeda motor dan mengambil tas kakaknya. atau ikut bergabung di tengah anak-anak yang menunggu jemputan. Dia akan bicara apa saja sama teman-teman kakaknya, sok akrab tapi saya senang melihatnya. Ia berani dan percaya diri. Kalau sudah begitu dia akan ogah diajak pulang, dia lalu mulai menuju media bermain anak-anak Playgroup itu, naik ayunan, perosotan, dan semua media yang ada. Kakaknya juga ikut-ikutan, kalau tidak segera di stop maka akan lama meraka mau pulang. Tapi hari ini berhubung saya tidak ada kegiatan sore ini maka kita gak langsung ke rumah, saya mengajak mereka melewati jalur yang lebi jauh, berhenti di taman Gora untuk main ayunan sambil makan Tahun Petis, duduk bertiga di atas ayunan tua yang mulai tak diminati anak-anak. Lalu duduk-duduk di pinggir sungai Jangkuk Dasan Agung yang belakangan mulai bersih, tidak ada lagi aktivitas buang sampah di sungai sejak diselenggarakan Festival Sungai Jangkuk dan penandatanganan spanduk petisi mendukung program stop buang sampah di sungai,  sambil melihat-lihat bapak penambang pasir bekerja mengambil pasir dari dasar sungai lalu dimasukan ke dalam karung hingga karungnya penuh kemudian baru di angkat menuju pinggir sungai dan ternyata sudah berkarung-karung hasilnya, hitungannya Quin ada belasan karung.

Tepat di belakang kami, yaitu di seberang jalan, ada tembok beton dengan mural dan gravity yang menarik, langsung saja saya meminta kesediaan Quin dan Deeva untuk di foto disana. Awalnya mereka kompak ogah dan menolak, lalu deeva mulai tertarik melihat gambar tokoh Wolverine ada disana, akhirnya si kakak juga ikutan meski tak banyak gaya karena saya was-was dengan kendaraan lalu lalang yang tak bisa pelan.

Sembari duduk selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan dari dua bocah kriwil ini.
Pertanyaan nya Quin :
"Yah, kok orang-orang boleh coret tembok ini, tapi Uin sama iva gak boleh coret tembok drmh?
Pertanyaan nya Deeva :
"Owang itu ambin pasil ya yah? Buat bikin lumah? Dia ga punya lumah ya yahh? Kaciaaan ya yah.. "
Lalu kami bercerita banyak hal sambil duduk santai (dan deg degan takut jatuh) di tebing sungai yang disemen halus sambil menikmati suasana sore yang nyaman. Dari jauh terlihat lampu warna warni menara Islamic Center NTB sudah menyala, kamipun kembali ke rumah...





Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community