May 25, 2017

Mengapa Harus Berbagi Kebahagiaan?



“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?” ― Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta
Hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan hanya dengan duduk diam dan merasa aman di dalam rumah. Hidup ini terlalu berharga untuk difokuskan hanya pada kesedihan-kesedihan, hanya pada komplain-komplain dan ke-tidak-suka-an pada beberapa hal. Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan sendirian. 

Kesedihan pasti datang pada setiap orang. Ia datang dengan tujuan mengajarkan kita sesuatu. Tentang keseimbangan dalam hidup dan tentang bahagia yang begitu berharga. Duka adalah jalan keluar menuju kebahagiaan baru, menuju level baru dari hidup seseorang. Suka duka itu adalah kesempurnaan hidup, adalah keseimbangan, maka mari menerima. Hanya menerima. Dengan ikhlas. Maka rasa sakit akan berubah menjadi pencerahan. Rasa perih akan merubah pola pikir, cara pandang dan cara kita merasakan hidup. Pasti lebih terasa manis. Intinya ikhlas.

Malam ini saya dan team Lombok Good Guide meeting rutin di Soecipto Coffee. Saya terlambat. Kami harus mereview lagi beberapa hal terkait kinerja dan konten. Disini saya menyadari sesuatu, saya terlalu sibuk. Ternyata benar, hahaha. Mohon maaf Emi dan Mas Eka. Saya meras bersalah dan alhamdulillah kita bisa membuat rencana baru yang insyaallah lebih baik dan mantap. Belakangan saya memang aktif sekali di Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lombok Sumbawa, banyak hal yang kami lakukan disana dengan amat sangat semangat dna seru. Kami Volunteer. Semua kami kerjakan karena kami suka. Karena kami tahu itu bermanfaat untuk banyak orang, untuk NTB. Maka semua berjalan begitu saja tanpa ada rasa lelah yang berarti. Saya berpikir, bahwa saya harus bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, dan saya harus bahagia untuk semua yang saya kerjakan. Materi? Meski memang perlu tapi materi tidak berada di urutan pertama dalam setiap aktivitas saya. Posisi pertama adalah bahagia, lalu membagi kebahagiaan itu, insyaallah rezeki mengikuti.

Lalu apa yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini?
Meskipun ngalur ngidul, semoga kalian bisa mengambil sedikit pelajaran atau hal baik dari postingan ini. Saya hanya ingin menyampaikan, ayo kita maksimalkan hidup kita yang sebentar ini dengan melakukan hal-hal yang kita sukai dan bermanfaat untuk orang lain. Jangan melulu memikirkan berapa uang yang akan saya dapatkan, apa yang akan saya dapatkan, bla bla bla, nanti lah itu. Bahagiakan dulu diri kita dengan berbaur dengan orang-orang baik yang bergerak untuk berbuat baik, Buat orang lain selalu tersenyum dan senang dengan kehadiranmu, kalau tetap gak mau senang dan senyum paling gak kita sudah berusaha, atau coba ajak selfie deh, pasti senyum sendiri. Datangi tempat-tempat baru, gak perlu jauh-jauh, di sekeliling kita saja, datangi dengan cara berbeda, dengan cara pandang berbeda, dengan cara pandang yang tak sama seperti kita lalui setiap hari. Pasti ada hal yang bisa kita lakukan disana. Maka bergeraklah, bersama. Bawakan orang-orang kabar baik. Jadilah kawan. Abaikan medan negatif karena ia selalu ada. Kelak, ketika waktu telah melumat tenaga dan raga, barulah menyesal mengapa dulu tak melakukan apapun ketika masih kuat. Kelak ketika tulang belulang mulai tak kuasa menopang badan, saya pastikan semangat akan terus menerus menghinggapi penerus-penerus kita. Yakin, saja. 

Berbuatlah. Bergeraklah. Meski hanya selangkah. Karena jika tidak bergerak, jangankan berhasil, gagalpun tidak.

Mengapa kita harus membagi dan menciptakan banyak kebahagiaan? Agar kita di kelilingi oleh kebahagiaan dan banyak senyuman. 

Sesimple itu.




Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community