Jul 9, 2017

Gili Bedis, Raja Ampat Mini di Sumbawa Barat


Sumbawa memiliki banyak sekali Gili (pulau) kecil, dan kebanyakan merupakan Pulau-pulau yang tak berpenghuni. Jadi bisa dipastikan pulau-pulau tersebut masih terjaga keaslian dan kebersihannya. Karena selain tak berpenghuni juga masih sangat jarang didatangi bahkan ada pulau yang tidak pernah didatangi kebanyakan orang. Masyarakat lokal juga masih banyak yang memegang teguh kepercayaan dan kearifan lokal, misalnya di pulau A tidak boleh di masukin karena ada ini ada itu. Dan sejenisnya.

Nah liburan kemarin, saya dan teman-teman berkesempatan berkunjung ke Sebuah Pulau Kecil di sebelah Pulau Paserang dan Pulau Belang. Pemandangan dari atas pulau tersebut sangat mengagumkan, seperti melihat Raja Ampat versi mini. Pulau Bedis namanya, masyarakat lokal juga kadang menyebutnya pulau Setan, alasannya karena disana menurut mereka ada "penunggunya" juga banyak ularnya. Jenis ular dengan corak kulit merah hitam dan putih yang suka mengejar mangsanya. Hii ngeri kan?! Tapi karena udah terlanjur penasaran dengan cerita-cerita dari sahabat saya Ade, kamipun nekat menuju kesana. 

Karena kami datang dari arah yang berbeda maka kami sepakat meeting point kami di depan SMAN Poto Tano, selanjutnya kami menuju desa Sepakek bersama-sama. Desa Sepakek masuk wilayah kecamatan Poto Tano, menurut cerita seorang pria tua yang duduk di gazebo di pantai Sepakek, Desa ini adalah desa sudah dikenal sejak dulu karena di peta lama yang ia punya tapi tidak ia bawa, nama Sepakek sudah ada sebelum nama-nama wilayah lainnya di sekitar sana. Sayangnya saya kurang yakin sih karena tidak ada bukti yang otentik hehehe. Maaf yang pak.



Dari desa Sepakek kami naik perahu cadik milik nelayan. Perahu kecil yang biasa dipakai melaut, yang hanya bisa memuat 7-10 orang. Dengan perahu mungil ini kami akan menyeberangi lautan selama 30 menit lebih dengan ombak yang sempat membuat nyali ciut. Semua barang elektronik dan harus tersimpan aman dari air karena ombak yang sampai naik dan membasahi kami semua. Basah kuyup!

Sesampai di Gili Bedis yang ternyata bertetanggaan dengan Pulau Paserang yang populer itu, kami bertemu beberapa nelayan yang sedang istirahat di tepian pulai itu, duduk berlatarkan semak belukar dan bukit kecil yang menjulang dengan kemiringan lebih kurang 45 derajat bahkan kurang. Melihat medan yang seperti itu dan cuaca yang sedang terik kami semakin tertantang. Meski nelayan-neleyan itu mencoba menciutkan nyali kami dengan cerita-cerita seram mereka tentang "penunggu" dan ular di pulau ini. Kami memang takut pak, tapi dikit aja. Sisanya gassssss, lanjoooot! 



Dengan sangat hati-hati tetapi happy kami mendaki bersama-sama bukit kecil ini. Tekstur medannya bebatuan dengan rerumputan khas pulau-pulau di Sumbawa. Tergelincir sedikti saja bisa langsung guling-guling ke bawah, terbentur batu atau langsung disambut duri-duri di bawah sana. Yang saya rasakan hanyalah senang, bahagia dan bahagia. Tak peduli seberapa takut teman-teman saya hahaha. Karena kadang, kita butuh hal-hal menakutkan untuk selalu berhati-hati dalam melangkah dan memang tidak sampai 20 menit kami sudah berada di atas bukit Gili Bedis yang berupa seonggok bukit batu yang ditumbuhi rerumputan di bagian barat dan semak belukar di bagian timur, saya curiga ular-ular itu pasti ngadem di bagian timur.
\
Dan inilah bagian terbaiknya!


Dari atas bukit kamu akan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan yang sangat berbeda dari tempat lain di Sumbawa. Saya melihat Raja Ampat mini di Sumbawa Barat ini. Ya gugusan pulau-pulau kecil di antara Gili Bedis dan Gili Belang dengan warna air laut yang cantik membuat tempat ini sangat mirip dengan Raja Ampat. Gila. Gak rugilah jauh-jauh kesini, basah kuyup di perahu, dan melawan rasa takut. Tapi saking teriknya pakaian kami yang tadinya basah kembali kering sempurna hahaha. Inilah Sumbawa.

Kalian harus kesini genks!






Pulau Paserang dari Pulau Bedis

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community