Benarkah Kita Sudah Mencintai Rupiah? #CintaRupiah


Berbicara cinta kadang sama seperti menapaki jalan tak berujung. Tak ada habisnya. Mencintai itu adalah kata kerja. Maka ketika kita mencintai, kita terus menerus berbuat, terus menerus melakukan seuatu untuk mempertahankan rasa cinta, untuk menunjukan kepedulian dan untuk memastikan bahwa yang kita cintai baik-baik saja. Tanpa berpikir akan meminta banyak. Orang yang mencintai hanya punya satu harapan, cintanya terbalas. Maka ia pun bahagia, merasa cukup dan merasa seolah dirinya yang paling bahagia di seluruh dunia. Cinta seperti itu menurut saya.

Demikian pula mencintai Indonesia. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menunjukan cinta pada negeri ini. Banyak sekali, semua bisa kita pilih sesuai dengan latar belakang kita masing-masing, sesuai dengan bakat dan hobi kita masing-masing. Cara paling sederhana mencintai Indonesia adalah dengan menjaga kebersihan dimanapun kita berada. Simple. Selebihnya silahkan lakukan sesuai minat dan bakat. Apakah itu traveling dan sebagainya.

Kenalkan, saya Ajie. Pria 30 tahun. Seorang guru sekolah dasar yang hobi traveling, memotret alam dan mencintai literasi. Peristiwa yang saya alami di sekolah tempat saya mengajar ini membuat saya kembali bepikir ulang bahwa ada hal yang lebih sederhana untuk mencintai Indonesia namun sangat penting. Mencintai Rupiah!

Tak sulit sebenarnya mencintai Rupiah mengingat ia adalah alasan terbesar sebagian besar manusia Indonesia melakukan beraneka usaha dan pekerjaan. Rupiah adalah umpan terbaik untuk memancing semangat, untuk menumbuhkan kemauan, untuk meningkatkan prestasi dan sebagainya. Rupiah adalah primadona. Semua orang begitu mudah jatuh cinta pada Rupiah. Tapi yakinlah sebagain besar mereka tidak mencintai Rupiah. Mereka mencintai diri mereka sendiri. Mereka hanya mencintai diri mereka dan hidup mereka sendiri. Rupiah bukan objek cinta melainkan subjek yang harus selalu ada untuk memuaskan mereka. Rupiah hanyalah media bagi segala kemauan dan tujuan mereka. Adakah yang peduli bagaimana merawat Rupiah? Adakah yang benar-benar menghafal bagian-bagian Rupiah? Atau adakah yang tahu bagaimana sejarah dan perjalan Rupiah? Mereka membutuhkan Rupiah, tetapi lebih banyak yang cuma bisa memakai dan tak mau peduli bagaimana seharusnya memperlakukan Rupiah baik secara fisik maupun secara ucapan lisan. Mari kita sebut saja; koin-koin nominal kecil yang diabaikan, terbuang seakan tak diciptakan untuk berguna padahal ketika nanti berbelanja di supermarket mereka menolak keras mendonasikan nominal kecilnya, padahal ketika mereka menemui harga yang tidak di angka “bulat” mereka kebingungan bagaimana mengatasinya. Saat-saat seperti itu mereka mencari receh-receh yang dulu mereka abaikan. Sebut saja uang kertas yang berubah fungsi menjadi media tulis dan gambar, sungguh bukan cara mencintai ketika kau mencorat-coret wajah pahlawan di uang kertasmu. Belum lagi cibiran-cibiran pada gambar-gambar pahlawan di uang kertas, sedih mendengar orang yang dengan mudah mengatakan mencintai Rupiah namun mencemo’oh gambarnya. Ternyata mereka hanya mencintai nominalnya. Mereka mencintai angka tanpa menghargai setiap garis desain yang telah dipikirkan dan diolah sedemikian rupa agar Rupiah menjadi kebanggaan kita. Lagi-lagi mereka hanya memperhatikan nominal.

Pada suatu hari, beberapa minggu sebelum materi tentang Mata uang akan saya sampaikan kepada siswa-siswa saya, saya mendengar celotehan bebera orang siswa tentang Rupiah baru yang membuat kuping saya juga hati saya tidak nyaman. Bagaimana tidak, mereka menertawakan gambar pahlawan di uang Rupiah terbaru, mereka juga menyebut sosok Pahlawan tersebut mirip primata. Astagfirullah, saya refleks mendekati dan menasehati mereka. Kejadian berikutnya seorang anak, mencorat-coret gambar pahlawan pada uangnya, memakaikan kaca mata, anting-anting dan kumis pada gambar pahlawan di rupiahnya. Tentu ini membuat saya sebagai seorang guru merasa harus menemukan cara yang tepat untuk membuat mereka menyadari bahwa cara itu salah besar. sangat-sangat salah, belum lagi saya menemukan mereka membuang-buang koin dengan nominal kecil seakan tak berharga.Saya harus bertindak!

Di dalam kelas saya ada 23 Siswa dengan berbagai macam karakter. Hari itu kami akan belajar Ilmu Pengetahuan Social dengan tema alat Tukar. Well saya pikir ini saat yang baik untuk mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana melihat Rupiah dari sudut lain. Bukan hanya tentang nominal saja. Anak - anak perlu tahu bahwa Rupiah memiliki sejarah, memiliki proses yang panjang, ketat dan aman sebelum sampai ke tangan kita semua. Memperlakukan uang tidak bisa sembarangan, jangankan merobek melipat saja kita sudah termasuk ke dalam orang-orang yang egois karena hanya menginginkan nilai uang tapi enggan menjaga dan memperhatikan tidak peduli Rupiahnya akan kotor, lusuh atau tercoret. Belum lagi foto-foto pahlawan yang tak mereka kenal. Seharusnya ketika kita mengaku mencintai Rupiah, muncul kebanggaan disertai sikap-sikap baik tentang bagaimana menjaga Rupiah agar awet.

Berangkat dari keterbatasan fasilitas, sebagai seorang guru tentu saja saya punya tanggung jawab untuk memastikan siswa-siswa saya faham segala hal tentang uang seperti Sejarah Rupiah, Proses perjalanan rupiah, memelihara rupiah, cara merawat uang dan sebagainya, bukan hanya bagaimana  Jumlah yang harus terkumpul oleh semua orang masing-maisng. Maka saya memutuskan untuk mengajak siswa-siswa saya ke Bank Indonesia yang ada di kota tempat saya tinggal. Beruntungnya manajemen BI menyambut dengan penuh antusias ide saya membawa anak-anak ke sana. 

Jadilah saya dan siswa-siswa saya belajar tentang Rupiah langsung dari sumber yang ahli, sumber yang memang kompeten untuk menjelaskan. Lewat ceramah juga tayangan dan permainan siswa-siswa saya diperlihatkan semua proses yang dilalui oleh Rupiah sebelum benar-benar berada di tangan masyarakat. Juga tentang bagaimana jika  terjadi kerusakan pada uang atau ada mata uang baru bagaimana dengan uang lama, semua dijelaskan dengan baik dan runut sehingga rasa cinta saya dan Insyaallah Siswa-siswa semakin bertambah pada Rupiah, bukan hanya karena semua orang membutuhkan Rupiah untuk alat tukar tetapi mencintai Rupiah sebagai mata uang kebanggaan Indonesia yang harus selalu dijaga dan diperlakukan dengan semestinya. Ternyata jika kita memiliki Rupiah yang terlanjur tua, lusuh atau rusak kita bisa menukarkan ke Bank Indonesia dengan Rupiah yang baru, begitu juga ketika ada mata uang baru, kita bisa menukarkan Rupiah lama dengan Rupiah baru di Bank Indonesia terdekat.

Saya semakin mencintai Rupiah bukan hanya karena untuk keperluan saya butuh Rupiah melainkan karena Rupiah adalah identitas negeri ini, dalam desainnya kita mengenal banyak hal penting seperti bahannya, apa dan mengapa dengan desainnya, juga kita mengenal pahlawan-pahlawan serta kekayaan Indonesia lainnya lewat Rupiah. Sejak hari itu tak ada lagi terdengar siswa yang mengejek Rupiah baru dengan gambar-bambar pahlawan yang baru mereka lihat. Tak ada lagi yang membeda-bedakan Rupiah baru dan lama dengan lelucon dan kata-kata tidak baik. Mereka bahkan menunjukan pada saya tabungannya juga beberapa anak mengatakan bahwa mereka ingin bekerja di Bank Indonesia. Saya katakan, kalian bisa menjadi apapun yang kalian mau asalkan selalu percaya diri, optimis dan belajar dengan sungguh-sungguh. Semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki cita-cita termasuk siswa saya. 

Sampai jumpa di puncak mimpi-mimpi.

Mencintai negeri ini bisa kita mulai dari banyak hal sederhana salah satunya dengan mencintai Rupiah, salah satu identitas kebanggaan negeri ini. Apalagi ketika tahu bahwa desain Rupiah masuk kedalam desain-desain mata uang terbaik dunia, semakin bangga dan semakin banyak alasan mengapa harus mencintai Rupiah.


Sudahkah kamu benar-benar mencintai Rupiahmu?






Refrensi :

- Goodnewfromindonesia.com : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/08/22/rupiah-rupiah-dengan-desain-terbaik-di-mata-dunia
Share:

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Tips Traveling Musim Hujan di Lombok

“There’s no such thing as bad weather, only unsuitable clothing” Indonesia memiliki dua musim yang kontras satu sama lainnya. Musim Huja...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive