Semua Orang Perlu Rasa Sakit

Siapa yang tak pernah merasakan sakit? Sakit luka di badan? Di hati? Jiwa? Jangan sampai di jiwa ya, cukup pernah merasakan sakit hati saja. Karena sakit jiwa pembahasan sudah beda. Selama kita bisa memanage sakit hati insyaallah jiwa selamat.

Jika kita mau merenungkan sebentar saja kita akan faham bahwa sesungguhnya kita butuh rasa sakit. Kadang ada keadaan dimana kita gak butuh tapi kita harus tetap merasakan sakit terutama sakit hati.  Kita butuh merasakan rasa sakit ketika kita menginginkan sesuatu yang sulit, kita tahu ada rasa sakit yang akan kita rasakan tapi kita mau saja karena kita membutuhkan sesuatu itu dan hal ini hanya bisa dilakukan orang-orang dengan semangat dan kemauan tinggi. Melewati rasa sakit dalam part ini adalah pilihan. Memilih melewati rasa sakit dan mendapatkan yang diinginkan atau mencari aman dan tak mendapatkan apa.

Ketika memilih menaklukkan rasa sakit untuk mendapatkan sesuatu saat itu pula kita mendapatkan beberapa pencapaian selain apa yang kita inginkan tadi. Butuh strategi, kesiapan mental, tenaga, waktu bahkan darah untuk melewatinya maka disana kita menjadi selangkah lebih tahu dari mereka yang memilih diam untuk hidupnya. Kita akan tahu bagaimana memulai, bagaimana sebuah proses dan setelahnya kita tahu apa yang kurang dan lebih dari usaha kita. Rasa sakit ini kita sebut sebagai usaha menciptakan keberhasilan. Usaha menantang diri untuk lebih kuat. Level sakitnya akan sebanding dengan apa yang didapatkan.

Emang ada rasa sakit yang tak kita inginkan tapi tetap harus kita jalani?

Pada dasarnya jauh sebelum kita mengenal diri kita saat ini kita telah melewati serangkaian perjalanan yang di dalamnya ada rasa sakit. Rasa sakit yant menjadikan kita ada saat ini dengan raga dan jiwa yang sehat. Semua karena kita pernah melewati rasa sakit.

Kita lahir dengan segala kesakitan prosesnya, kita berteriak histeris ketika pertama kali di kekuarkan dari rahim, rumah kita yang paling nyaman untuk kemudian merasakan dunia yang ternyata kita baru tiba saja sudah membuat kita menangis. Tapi cepat kita menyesuaikan diri. Berlanjut ke kesakitan - kesakitan lainnya: suntikan, pijitan, makanan-makanan asing yang kita harus makan selain ASI, kita tidak nyaman, kita sakit tapi jelas itu semua membawa kebaikan untuk kita.

Kita tumbuh dengan luka-luka dikulit akibat tak bisa diamnya kita. Di lutut, di siku, di tangan, di kepala, dan sebagainya. Kita melewati nya dan itu menjadi kisah manis pada saatnya. Luka-luka yang pada saatnya nanti akan kita rindukan...

Kita tumbuh dewasa dengan ujian-ujian rasa sakit. Masuk sekolah, harus belajar, harus ujian, harus menahan diri dari hal-hal yang dilarang, itu sakit. Kita tersakiti sebagai manusia yang ingin bebas, kita jengah dengan kesakitan-kesakitan yang harus kita hadapi; harus bangu  pagi melawan ngantuk dan dingin, harus bertingkah sopan dan baik, harus belajar padahal hasrat bermain dan tidur lebih besar, kita menaklukkan semua itu dan itu sakit. Di rumah ortu menagih hafalan ini itu, menuntut kita untuk kuat dan pintar, itu sakit!

Saat itu kita kadang merasa sebagai anak yang malang. Kapan ini akan berakhir. Kapan kewajiban-kewajiban ini akan berhenti menyakiti. Kapan orang tuaku akan memberiku kebebesan untuk berbuat apanyang aku inginkan dan pertanyaan lain yang kita hanya tanyakan pada diri sendiri. Terus kita bertanya sampai tiba saatnya kita sadari bahwa kita telah melewati nya dengan baik. Hasilnya telah terlihat dan kita seolah tak percaya bahwa keberhasilan ini ada. Yah, rasa sakit telah membawamu menjadi hebat dan menjadi seorang juara. 

Tak sampai disana saja. Sepertinya rasa sakit tetap tak mau lepas dari hidup manusia. Tapi di fase dewasa rada sakit lebih banyak menyerang hati. Jauh lebih bahaya dari rasa sakit di kulit dan di pikiran karena rasa sakit hati akan berdampak buruk pada raga dan pikiran. JIKA kita tidak bijak melewati nya. Rasa sakit hati hanya bisa dilawan dengan penerimaan. Menerim bahwa sakit itu ada, sakit itu baik dan sakit itu pintu pembuka lembaran baru.

Kita sakit hati ketika mendapati kita telah dikhianati tapi ada pelajaran tentang bagaimana cara agar kita tidak mengkhinati dan tidak bisa dikhianati lagi, kita sakit ketika kita dapati partner kerja menipu kita tapi disaat yang sama kita mendapat pelajaran baik tentang bagaimana memilih partner dan bagaimana mempersiapkan semuanya agar tak gampang tertipu. 

Nyaris semua rasa sakit yang datang memberi pelajaran baik untuk kita. Terbiasalah menerima dan menghadapi ketika ia datang, namun jika ia tak datang tak perlu dicari karena mungkin belum saatnya datang. 

Dan seterusnya hingga rasa sakit ketika Sakaratul maut yang memisahkan kita dengan dunia fanah datang...


Share:

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Tips Traveling Musim Hujan di Lombok

“There’s no such thing as bad weather, only unsuitable clothing” Indonesia memiliki dua musim yang kontras satu sama lainnya. Musim Huja...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive