Dari Puncak Mantar ke Danau Lebo Taliwang

Apa yang paling ingin kamu lakukan ketika ada peluang liburan? Mungkin sebagian besar orang akan bilang bahwa mereka ingin traveling. Sama saya juga kalau ada kesempatan liburan pengennya traveling sejauh-sejauhnya. Tapi apa daya, liburan kemarin keadaan tak mendukung. Anak istri sedang tidak sehat eh dompet juga ikutan sakit. Jadilah saya tidak bisa lama-lama liburannya. Tapi bukan berarti tidak menikmati, juga bukan berarti destinasi yang saya datangi hanya alternatif. Bukaan, bukan sama sekali. Justru saya sudah punya bucket list selama liburan mau kemana saja di Sumbawa, iya di Sumbawa. Kenapa Sumbawa? Karena sebagai orang asli Sumbawa saya belum melihat semua tempat-tempat hits di Sumbawa. Jadi saya membuat bucket list liburan, semacam itenerary sederhana selama liburan dua minggu yang nyatanya hanya tersisa tinggal dua hari. Jadilah saya hanya bisa mennyambangi list paling awal dari bucket list saya. Puncak Mantar menjadi list pertama. Meski sudah pernah ke Mantar tetapi itu sudah lama sekali waktu Mantar belum berubah seperti saat ini, Saya ke Mantar waktu itu ketika film Serdadu Kumbang yang syuting di Mantar baru Tayang di Bioskop. Ceritanya bisa di baca disini dan disini part II nya



Mantar Telah Berubah

Ya, demikianlah tak ada yang kekal selain perubahan. Perubahan juga terjadi pada Desa Mantar. Jika dulu sebelum ada Film Serdadu Kumbang Mantar adalah wilayah yang tak dikenal banyak orang. Dikenal pun bukan karena alamnya yang indah tetapi karena di Mantar tinggal beberapa orang albino yang buat orang kebanyakan saat itu sebagai bahan olokan dan candaan. Orang-orang akan mikir 100 kali untuk ke Mantar. Lalu tiba-tiba Alenia Pictures bekerjasama dengan perusahaan tambang di KSB membuat sebuah film bertema  anak-anak berlatar desa Mantar. Cerita tentang Amek dan Kawan-kawannya yang berjuang menuntut ilmu dan keseharian mereka menjadi warga Mantar. Film yang mempertontonkan keindahan Mantar dan kebiasaan unik masyarakat Mantar ini sempat tayang cukup lama di bioskop tanah air. Tak heran jika setelah itu pelan-pelan Mantar mulai dilirik orang, banyak yang penasaran dengan latar Serdadu Kumbang yang indah dan tak biasa. Dari Puncak Mantar kita bisa melihat gugusan pulau-pulau di Selat Alas bahkan kita bisa melihat Rinjani bertengger dengan gagahnya seperti di berada atas awan. Lambat laun saya mulai menemukan artikel-artikel tentang Mantar di internet, di blog-blog para traveler lokal dan blog dari teman-teman Lombok. Mantar mulai menggeliat.

Termasuk saya, saya penasaran pada Mantar sejak film Serdadu Kumbang tayang. Ingin sekali melihat pohon cita-cita, melihat lokasi scene tokoh Papin mendongeng untuk Serdadu Kumbang, laut dengan garis horison sempurna dengan Rinjani sebagai batasnya. Sungguh pemandangan yang magis. Saya pun nekat kesana sendiri naik motor. Dijalan bertemu Azwar yang juga ingin ke Mantar jadilah kami balap-balapan di jalanan berlobang, berlumpur, berkelok dan mendaki menuju Mantar.

Mantar saat itu menurut saya sedang menyesuaikan diri pada perubahan. Bekas lokasi syuting telah kembali menjadi kebun-kebun. Tak ada pohon cita-cita yang unik seperti di film. Mungkin masyarakat disana tidak menduga akan ada yang mencari lokasi itu. Nyatanya pohon cita-cita yang ternyata adalah pohon Kemiri itu sudah berdaun lebat dan dipagari rapat layaknya kebun. Tak ada tempat duduk untuk menikmati pemandangan seperti di film. Semua sudah berubah kembali seperti semula. Kebun dan ladang. Namun orang sudah terlanjur penasaran pada Mantar. Perlahan tapi pasti orang-orang  berdatangan, travel blogger, stasiun tv, anak alay, masyarakat kebanyakan semua mulai ingin melihat Mantar. Ramailah Mantar. Tak hanya dikenal sebagai lokasi syuting Serdadu Kumbang tetapi juga karena pemandangan dari puncak Mantar yang magis.



Here we go! Bucket list pertama yang harus di checklist adalah kembali ke Mantar. Ingin melihat perubahan mantar yang pesat. Bersama Yudi dan Doni saya mendaki ke Puncak Mantar, menerobos jalanan yang ternyata belum teraspal penuh. Sepertiga aspal, sepertiga jalanan becek lengket, sisanya jalanan berkerikil dan rabat. Well masih tetap menantang dan sepanjang jalan perhatianmu akan digoda oleh kabut yang menutupi lembah. Semakin jauh dan tinggi posisi kami, semakin indah saja kabut itu. Di sela-sela kabut muncul puncak-puncak bukit yang membuat ia seolah-olah di atas awan. Memasuki gerbang desa tenryata ada jalan ke kanan. Jalanan kecil berbatako segiempat itu adalah jalan ke Puncak Mantar yang sekarang sudah menjadi lokasi paralayang yang keren. Sepanjang jalan bertebing curam dengan lembah yang selalu tertutuip kabut serupa buih putih bersih, eh lebih tepatnya seperti kembang gula. Seperti empuk untuk dipeluk!

Memasuki area paralayang yang dulu merupakan kebun dan ladang. Saya merasa asing. Jujur saya lebih suka Mantar yang dulu. Begitu kata hati saya ketika pertama kali merasakan atmosfer baru Mantar. Berjalan lebih jauh lagi ke ujung sebelah barat, saya berdiri tepat di tempat dulu saya pernah berfoto bersama warga mantar diantara semak-semak, berusaha memperlihatkan pemandangan di bawah Mantar juga Gunung Rinjani. Sekarang tak perlu ribet dengan semak-semak itu. Semua sudah bersih. Jalanan tanah yang landai. View ke selat Alas yang luas membentang tak ada lagi penghalang bahkan Rinjani semakin jelas terlihat. Indah sekali karya cipta Allah SWT.   Namun entah mengapa saya tetap merindukan Mantar yang dulu, tanpa paping blok dan tulisan-tulisan alay tapi zaman now hal seperti itu tetap begitulah cara yang lebih cepat menarik orang untuk berpose dan membagikan ke social media. Smeakin ramai semakin terkenal. Mungkin lain kali saya harus mencoba Paralayang supaya bisa benar-benar move on dari Mantar yang lama. Harus!

Sungguh saya tak ingin berlama-lama disana. Just it! gak ada yang bisa dinikmati lagi kecuali jika ingin menginap dan pagi-pagi menikmati sunrise juga sore berburu sunset di balik Perkasanya Rinjani. Tapi ini liburan super singkat. Kami harus ke lokasi selanjutnya.

Danau Lebo, Rumah Ribuan Teratai

Karena keterbatasan waktu akhirnya kami memutuskan menunda ke Air Terjun Kalela. Tapi terlalu cepat juga jika kami harus kembali pulang. Maka lokasi terdekat dan paling masuk akal saat itu adalah ke Danau Lebo yang mempunya dermaga baru yang keren.


Lebo sebenarnya sebutan untuk danau, di Sumbawa kalau danau yang ada bendungannya di sebut Embung. Jadi Lebo itu danau alami yang sudah ada entah sejak kapan. Bisa jadi sudah lebih dulu ada dari Sumbawa Barat. Kita tak tahu. Danau ini unik teman-teman, hampir seluruh permukaannya yang luas itu di tutupi tanaman Teratai atau dalam bahasa setempat di sebut Tonyong. Buahnya sering dijadikan makanan dan bahkan ada yang menjualnya sebagai ole-ole. Bayangkan gimana indahnya danau ini ketika teratai-teratai berbunga bersamaan. Tentu itu kejadian yang langkah dan sulit kita temukan. Danau ini terletak di sepanjang jalan utama dari sebelum desa Meraran hingga Taliwang. Di danau ini banyak masyarakat mencari penghidupan. Menangkap ikan, rerumputan, dan Tonyong. Danau ini memberi banyak manfaat juga menjadi identitas bagi Taliwang dan sekitarnya. Sayangnya masih banyak orang yang primitive, yang setelah makan minum membuang bekasnya di sembarang tempat bahkan ada yang membuangnya di dalam danau. Sungguh kelakuan yang bodoh!

Danau ini mulai di tata sedemikian rupa untuk menarik minat orang berkunjung, dibuat bagus untuk bertamasya bersama keluarga, ber-swafoto dengan spot-spot kekinian. Tapi mungkin memang masyarakat harus diberikan edukasi mendalam tentang smapah ini. Heran sih, sekolah dari masih balita sampe umur hampir setengah abad tapi masih buang sampah sembarang itu buat saya benar-benar kelakuan bodoh. Tak sadar kah itu salah? Bukan cuma merusak pemandangan tapi bisa merusak ekosistem, bisa merusak lingkungan. 

Danau Lebo ini unik. Mungkin tak banyak di Indonesia bahkan dunia. Teratai itu bunga yang indah apalagi dalam jumlah yang banyak. Wah Sumbawa barat bisa tuh bikin festival teratai dan sebagainya tapi paling penting yang harus di lakukan adalah menyadarkan masyarakat betapa pentingnya tidak membuang smapah sembarangan itu. Bukan hanya untuk lingkungan tapi untuk diri sendiri, untuk anak cucu kita kelak. Masih gak faham juga? Hmmm

Tak lama kami di dermaga kayu Danau Lebo, menikmati sebentar, memotret beberapa view dan menulis catatan kecil lalu kami kembali pulang. Bucket list tercentang meski hanya satu tetapi hati cukup riang. Semoga masih ada kesempatan untuk kembali men- #JelajahSumbawa lebih jauh, lebih dekat.

Nah ini dia video dan foto-foto perjalanan ke Puncak Mantar dan Danau Lebo :










Note : Foto-foto boleh digunakan asal menyertakan sumber atau instagram saya @herjunotajie



Share:

4 comments:

  1. Sudah stahun gak k Mantar, trnyata bnyak prubahan.. Kereen :)

    ReplyDelete
  2. belum pernah ke mantar nih, cuman pernah liat di film itu...
    bagus banget view nyaaa

    ReplyDelete
  3. gue belom pernah ke sini dan pengen banget... huhuhu

    ReplyDelete

Featured Post

Tips Traveling Musim Hujan di Lombok

“There’s no such thing as bad weather, only unsuitable clothing” Indonesia memiliki dua musim yang kontras satu sama lainnya. Musim Huja...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive