Sepasang Mata di Balik Tirai Jendela

Sepasang mata mengintip hujan dari balik tirai jendela.
menatap pelan dan diam rintik-rintik yang bermain riang di jalanan
dedaunan bergoyang-goyang seperti menggigil
meneteskan bulir-bulir bujan yang sempat mampir

Langit kelabu, tadinya hitam, sehitam bola mata di balik tirai jendela
syahdu deru hujan meneduhkan
burung-burung yang berpelukan di bawah dedaunan
kucing hitam putih yang saling menghangatkan di selasar tetangga

kemana suara petir? tadinya samar lalu menghilang
mengapa ia ada sesaat sebelum hujan?
lalu pergi ketika hujan mulai menari dengan riang
sepasang mata di balik tirai mulai berangan-angan

andai burung itu dirinya, ia bahkan rela kedinginan bersama nya
bisakah kucing itu adalah dirinya? berdekatan saling menghangatkan
atau bolehkah ia menjadi dedaunan yang tak perlu resah ketika hujan turun

tapi binar nya perlahan surut, mungkin tak lama lagi padam
sejak hujan turun di awal januari
saat angin membawa serta binar di sepasang mata di balik tirai jendela
ke sepasang  --mungkin pula berpasang-pasang mata-- lainnya entah dimana

(Mataram, 25/01-2018, ditulis sembari menatap hujan yang jatuh riang, sepasang kucing yang terlelap di teras tetangga. Allahumma shoyyiban nafi’an)



Share:

2 comments:

  1. Trnyata bang Ajie pinter berpuisi jg.. mantabslah

    ReplyDelete
  2. harusnya jadi anak BIAP ini mah~ hahahaha

    ReplyDelete

Featured Post

Film Obituary (2017) : Tentang Toleransi Di Sebuah Sudut Kota Tua Ampenan

Belakangan ini, negeri kita tercinta sedang dilanda badai intoleransi dimana-mana. Hal-hal yang dulunya berbaur padu, sekarang mulai terliha...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive