Posesif (2017), Cinta Remaja Tak Boleh Diremehkan

Sinopsis

Hidup Lala jungkir balik. Bukan karena loncatan indahnya dari menara sepuluh meter, bukan pula karena ayahnya yang melatihnya dengan keras, tapi karena cinta pertamanya. Yudhis, murid baru di sekolahnya, berhasil menjebak hati Lala hanya untuknya. Di tahun terakhir SMA-nya, Lala ditarik keluar dari rutinitas lamanya. Hidupnya tak lagi melulu melihat birunya air kolam renang atau kusamnya dinding sekolah. Lala percaya cinta telah membebaskannya, sebab Yudhis selalu sigap menghadirkan pelangi asal Lala berjanji selamanya bersama. Namun perlahan Lala dan Yudhis harus menghadapi bahwa kasih mereka bisa hadirkan kegelapan. Cinta Yudhis yang awalnya tampak sederhana dan melindungi ternyata rumit dan berbahaya. Janji mereka untuk setia selamanya malah jadi jebakan. Lala kini mengambang dalam pertanyaan: apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah, yang bila gagal, harus ia terus coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?


Poster Film Posesif (2017)
Menonton film ini serasa melihat masa SMA saya dulu. Ketika saya masih cupu-cupunya, masih suka salah tingkah dan mendadak bego pas liat "target". Ternyata ada diantara teman saya yang pacarannya posesif persis seperti cerita film ini. Masih SMA pacaran serasa udah saling memiliki hidup masing-masing sepenuhnya, posesif stadium tinggi, sampai main tangan.
Kita yg cupu mah makin pening; gitu ya kalau pacaran? terus akhirnya gak jadi pacaran.
Pas kuliah juga banyak yang gini. Lebih ngeri lagi. Kebanyakan yang posesif adalah cowoknya. Tak jarang saya menemukan teman saya menangis tersedu karena abis dipukul pacarnya, ada juga yang lebam abis ditonjokin. Anjrit! Anehnya si cewek ini sulit bisa meninggalkan pacarnya itu alasannya, karena si cowok selalu datang minta maaf dan berjanji akan berubah. Sayangnya kelemahan wanita itu ada di telinganya. Mereka selalu cepat luluh mendengar kata-kata indah. Padahal itu bukan sekali dua kali terjadi. Kita yang melihat dan mengetahui yang greget. Rasanya pengen tonjokin dua-duanya. 
Setelah saya perhatikan yang posesif itu rata-rata punya satu kesamaan. Kurang dekat dengan ibunya atau orang tuanya, ada yang keluarganya tidak harmonis dan berbagai masalah keluarga lainnya. Keadaan itu membuat si anak laki-laki mencari kasih sayang lain di luar keluarga. Ketika menemukannya pada seorang pacar ia akan menjaga dengan kuat. Saking kuat dan erat cinta itu bisa menghadirkan kengerian bagi si perempuan. Ya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Cinta remaja itu tak bisa diremehkan. Orang tua harus selalu dekat dan tegas dalam hal ini. Sebelum terlambat karena dampaknya bisa mempenharuhi kehidupan.

Pada akhirnya, mereka sebagian besar tak berjodoh. 

Come on, boy.. Girl...
Hidup kalian pasti bisa lebih seru tanpa pacar. Hidup kalian bisa lebih expressive tanpa kekakangan pacar. Mending banyakin sahabat dan kegiatan positif yang akan bermanfaat setelah sekolah dan kuliah.
Masa muda terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan pacaran... Apalagi pacarnya posesif!

Trailer Posesif (2017)

Share:

2 comments:

  1. Waah.. Keren ney tulisanny bang. Jd keinget punya pacar dri SMA sampe kuliah alias pacaran lama hehehe.

    ReplyDelete
  2. Lebih baik ga ush pacar2an... Nikah aj langsung 😊

    ReplyDelete

Featured Post

Meliput Festival Payung Indonesia 2018

Halo teman-teman, rasanya sudah lama sekali tidak menulis. Ada rasa bersalah. Semacam mengabaikan rumah sendiri hingga berdebu banyak saran...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive