Forgive to Forget

Pada suatu hari sebagian besar dari kita pernah bersepakat atau pernah berucap "Iya saya maafkan tapi saya tak akan melupakan" ketika hati sedang terluka oleh perkataan atau entah perlakuan jelek apa yang telah kita terima dari orang lain. Pada saat itu kita bekerja keras menyembuhkan hati yang terluka parah. Berat sekali tetapi kita berusaha sehingga melihatkan kalimat seperti di atas. Benar, kita bisa deng mudah mengucap memaafkan namun kita tak pernah tahu kapan hal tak menyenangkan itu akan hilang dari ingatan kita terlebih lagi dari hati kita. Hati yang terluka sakitnya bisa melebihi fisik yang terluka. Fisik yang terluka banyak obatnya dan mudah pula didapatkan. Hanya butuh beberapa hari atau beberapa minggu untuk membuat luka fisik sembuh tetapi luka hati tak ada yang tahu kapan akan sembuh.

Oke lewat postingan ini saya ingin berbagi tips atau lebih tepatnya cerita bagaimana perihnya luka hati yang menyebabkan trauma dan bagaimana kita bisa pelan-pelan menyembuhkan luka itu. Siapa yang bisa menyembuhkannya? Bagaimana caranya? mari kita mulai.

Hidup adalah masalah. Kalimat itu adalah kalimat pertama yang membuat saya berpikir lebih dewasa ketika saya masih remaja. Walaupun saat itu masalah saya hanya sebatas teman-teman yang usil, uang jajan yang selalu terasa kurang, jerawat di ujung hidung yang tidak enak dirasa dan dipandang dan semacamnya. Itulah masalah hidup saat itu. Seiring bertambahnya usia masalahpun seolah ikut berkembang. Semakin kita mamasuki fase hidup selanjutnya masalahnya pun tak mau kalah besar. Tapi untungnya saya sudah punya keyakinan bahwa hidup ini masalah jadi saya tak kaget ketika harus berhadapan dengan masalah. Saya ladeni dengan apa adanya karena menyerah tidak akan mungkin apalagi lari dari masalah? lari kemana? toh selama kita hidup masalah akan selalu mengikuti. Yakin ada yang bebas dari masalah?

Tapi buat saya masalah yang serius itu adalah ketika orang lain yang membuat hati saya sakit, terluka dengan parahnya. Sejak kecil saya sangat membenci kata-kata negatif. Kata-kata negatif itu buat saya mungkin sama rasanya seperti terpapar radiasi. Sakit dan mematikan. Setidaknya mematikan percaya diri, mematikan semangat dan sebagainya. Apalagi jika kata-kata negatif itu muncul dari orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang kita hormati dan sayangi. Terlebih lagi ketika kita tidak benar-benar faham alasan kita pantas mendapatkan kata-kata negatif.Amat sangat menyesakkan.

Tetapi saya selalu berpikr seperti ini "Hmm.. masalah baru nih. Allah pasti sedang ingin saya belajar sesuatu yang baru. Saya percaya Allah sedang menyiapkan diri saya untuk hal besar lainnya. Saya harus siap dan bisa menghadapinya DENGAN BIJAK". Begitulah saya sering bergumam melawan rasa sesak dan dendam dalam hati. Se-negatif apapun yang saya dapatkan maka saya tak akan ikutan menekan diri saya dengan perasaan negatif seperti mengiyakan kata-katanya, atau terlalu memikirkan kata-kata negatif itu. Meskipun tidak memikirka itu sulit sekali. Tapi sesekali bolehlah kita melepas tangis dihadapan Allah, mengakui kelemahan kita, mengadu tentang betapa jahatnya orang yang membuat hati kita terlukasedemikian parah. Biarkan air mata membasahi hati kita agar tak keras membatu.

Setelah itu simak beberapa hal yang saya lakukan untuk merecovery hati saya ketika itu. Meski sebenarnya jika mau saya bisa membalas dengan licik. Hahaha.

Pertama dan harus kita lakukan adalah perbanyak istigfar. Serius! Gak musti sedang sakit hati atau karena kita berbuat kelasahan istigfar itu harus kita lakukan setiap hari sebanyak - banyak yang kita bisa, Rasulullah saja istigfarnya sampe ribuan setiap hari, Rasulullah lho.. apalah kita yang hanya remah-remah krupuk di kaleng khong guan ini.. Insyaallah istigfar menenangkan hati.

Kedua, Jika hatimu benar-benar sakit parah, jaga jarak dulu. Jangan bertemu dulu. Beri kesempatan untuk dirimu berpikir tenang dan orang yang membuatmu sakit juga berpikir tenang. 

Ketiga, Selain bercerita pada Allah berceritalah pada sahabat yang benar-benar kamu percaya. Tidak perlu mengharapkan tanggapan dukungan atau semacamnya, cukup didengarkan saja dan kamu cukup bercerita saja apa yang ingin kamu ceritakan. Ketika temanmu menanggapi dan berkata seakan mendukungmu dengan mejelekkan pihak sebelah, stop bercerita padanya. Jangan lagi. Karena kita bercerita pada seorang yang kita harapkan bisa membuat kita tenang bukan menjadi kompor atau malah membuat kita semakin tak tenang.

Keempat, Setelah agak tenang, ingat-ingatlah kebaikannya. Lupakan dulu hal-hal buruk. Ingat kebaikan-kebaikannya. Lalu ingat-ingat keburukanmu sendiri. Sebagai manusia kita pasti punya kesalahan dan keburukan. Ingat-ingatlah..

Kelima, Mulailah mencari tahu penyebab mengapa orang tersebut bisa mengeluarkan kata-kata atau perlakuan buruk pada orang lain. Karena ada beberapa orang "belum kelar dengan dirinya sendiri" sehingga meluapkan amarah pada orang lain. Cari tahu mengapa dia bisa begitu. Mengapa ia pemarah, mengapa ia mudah menyalahkan orang lain, mengapa ia ini itu dan sebagainya. Karena setelah itu kita akan faham dan maklum...

Keenam, Setelah kita maklum pasti ada iba di hati yang pelan-pelan mengganti rasa sakit tadi. Semacam kata "ooo jadi itu yang membuat dia begitu.." atau "Kasian dia, karena hal itu dia menjadi sensitif dan gampang meledak" dan lain-lain. Secara sadar atau tidak hai kita berangsur-angsur pulih. Selanjtnya kamu lebih bisa menjinakkan hatimu sendiri. Lebih selektif memasukan hal-hal baik atau buruk ke hatimu.

Cuma itu doank kok, genks! 

Tapi percayalah proses itu berat dan memang butuh waktu yang lama untuk bisa menyembuhkan hati tapi apalagi pilihan terbaiknya selain menyembuhkan hati dengan cara seperti itu? Gak mungkin kan kita menjadi pendemdam seumur hidup, pembenci seumur hidup, biarlah orang lain saja yang begitu pada kita, Kita jangan. Hati kita terlalu suci untuk kita kotori dengan dendam dan benci. Orang yang membenci itu adalah orang yang bermasalah dengan dirinya sendiri. 

Dan dendam itu genks, seperti file sampah yang berukuran besar yang mengendap di dasar hati. Berat dan membuat lamban. Karena ukurannya yang besar da
n semakin besar kebaikan-kebaikan akan sulit masuk ke hati kita. Keluhan, dendam, benci semua itu bisa membuat hati penuh sampah yang menjadi radiasi buruk bagi sekitar kita. Akan terpancar dari raut wajah kita. Jelas orang tak akan senang pada orang raut wajahnya tidak bersahabat. Hanya mereka yang hatinya luas dan legang yang bisa menebar senyum ikhlas.. semoga yang hatinya luas itu salah satunya adalah kita ya.

Untuk kamu siapa saja yang sedang diuji Allah dengan masalah. Percayalah semua pasti berakhir. Sedih dan senang semua pasti berakhir. Jangan khawatir, kamu pasti kuat. Dekati Allah karena salah satu maksud ujian dari Allah adalah agar kita mendekat pada-Nya. 


Trust me, it's work!



Share:

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Tips Traveling Musim Hujan di Lombok

“There’s no such thing as bad weather, only unsuitable clothing” Indonesia memiliki dua musim yang kontras satu sama lainnya. Musim Huja...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive