Cinta adalah Sepaket Rasa

“Love is not liking somebody. Anyone can do that. Love is loving things that sometimes you don't like. ”

― Ajahn Brahm




Apa yang terlintas dalam pikiranmu setelah membaca kutipan di atas? saya sendiri sih yang terlintas adalah "paket komplit". Maksudnya kita tidak bisa memilih untuk hanya mencintai baiknya saja atas seseorang sama seperti kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa karena cinta memiliki logikanya sendiri.

Ada sebuah kejadian kecil memberikan saya dan istri saya pelajaran yang besar untuk terus belajar saling menerima. Semoga ini juga bisa menjadi bahan perenungan buat kamu, temans!

Suatu hari kami sekeluarga mendapat undangan makan durian di rumah salah satu sahabat yang punya kebun durian. Sebuah undangan yang sepertinya dinanti-nantikan semua pecinta Durian. Singkat cerita kami berangkat berempat dengan motor matic saya satu-satunya. Andai saja anak-anak  ini sudah besar maka tak akan ada tempat di motor, untuknya masih kecil-kecil. Perjalanan 30 menit tertempu dengan lancar tanpa masalah dan menyenagkan karena si adek terus saja bernyanyi dan berceloteh sepanjang jalan layaknya orang yang sedang membuat video blog (Vlog). Kami di sambut oleh aroma dunia yang langsung menyerbu hidung, menuju otak dan seketika membuat kelenjar sublingalis saya memproduksi banyak ludah yang harus segera saya kendalika. Saya ngiler seketika. tentu saja bukan cuma aroma durian yang menyambut kami tetapi juga kehangatan dan senyum tulus empunya rumah. Saya selalu merasa pulang ke rumah sendiri ketika berada disana. Inaq dan amaq rasanya seperti orang tua sendiri. Begitu baik dan sellau baik sejak belasan tahun lalu. Tak ada alasan untuk tidak berterimakasih dan bersyukur atas silaturrahim yang terjalin.

Seperti biasa, seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, sejak saya masih mahasiswa cupu hingga saat ini sudah memiliki dua anak inaq dan amaq selalu menawarkan kami kopi, teh, makanan-makanan dan buah. Jika kami berempat (kami bersahabat dekat berlima dan tuan rumah ini satu-satunya cewek dalam genk tak bernama ini) berkunjung, Inaq sudah hafal bahwa saya lebih prefer teh daripada kopi. Namun tetap saja kadang ditawari untuk menyeruput kopi racikannya. Ah buat saya kopi atau teh tak masalah saat yang menawarkan tulus dan ikhlas penuh kasih. dari kopi saya tahu bahwa selera manusia berbeda dan kadan rumit bahkan untuk satu jenis minuman. Tanpa gula, sedikit gula, dengan krimer, bahkan cara menyruput pun berbeda. Dari teh saya belajar bahwa hidup ini hanya perlu dinikmati dengan tenang, manis atau tidak yang terpenting maknanya, yang terpenting adalah khasiat dari tehnnuya. Begitulah setiap kami berkunjung kesana. Kami ngeteh bersama, makan bersama, lalu ngobrol dengan seruny hinga senja.

Saat kami ngobrol ternyata si Adek asik sendiri bermain dengan kucing disana. Dia selalu akrab dengan kucing dimanapun dan hebatnya kucing-kucing selalu mudah jinak kalau sama dia. Hingga tiba saat pulang dia merengek minta kucing itu dibawa ikut ke rumah. Saya tidak mengizinkannya. Tidak boleh. Tangisnya meledak, katanya dia sayang kucing itu, dia mau punya kucing di rumah. Sebetulnya saya sendiri pecinta kucing tapi masih mikir-mikir untuk pelihara kucing lagi setelah kehilangan King kucing Anggora berbulu putih cantik  sewaktu si adek masih bayi dulu. 

Drama terus berlanjut. Saya luluh, ibunya juga mendesak saya untuk memberi izin. Tapi saya masih bergeming. Empunya kucingnya juga terlihat belum rela melepas kucingnya meski ada beberapa kucing lainnya disana.

si Ibu bilang, ini nanti kalau dibersihkan bagus kok kucingnya.
si Adek bilang, dia sayang kucing itu. 
Si kakak ikutan mendukung adeknya katanya kucingnya lucu. 

Ya benar. Saya juga melihat hal yang sama. Kuicng itu lucu, bulunya bagus jika dimandikan sekali saja nanti, dan saya tahu si adek gampang sekali sayang pada kucing akan tetapi yang mereka lupa adalah kucing itu juga punya sisi tidak baik yang mungkin di awal pertemuan tidak terlihat. Sisi itu akan terlihat nanti seiring berjalannya waktu. Kotorannya, bulu-bulunya, dan lainnya yang seharusnya kita juga siap menerimanya. Hanya saja saat itu aku tidak sempat untuk mengutarakan itu karena hari semakin senja, magrib segera datang dan rumah kami jauh.  Keputusan terakhir setelah empunya kucing ikhlas, kami membawa kucing itu pulang. Dipulkan istriku kucing itu terus menangis, merontah dan berusaha melompat ke jalan. Si adek mencoba menenagkan dengan mengajaknya ngobrol, aah ada-ada saja. Tapi anehnya kucing itu diam hingga kami tiba di rumah.


Sehari, dua hari, smeinggu, kucing yang diberi nama Ginger itu menjadi kesayangan kami sekeluarga. Ginger pun cepat sekali akrab dengan kami terutama saya. Setiap malam Ginger tidur di antara kaki saya, kadang di perut atau di belakang punggung. Dia kucing yang baik, lucu dan manja. Hingga suatu hari dia buang kotoran di bawah jendela kamar. Baunya luar biasa. Adik iparku menggerutu. Aku membersihkannya. Esoknya begitu lagi, terus setiap hari Ginger buang air besar di dekat kamar adik iparku padahal sebelumnya di luar rumah seperti yang say biasakan. Rupanya dia takut keluar karena ada Cepi kucing tetangga yang lebih besar dari Ginger. Kami sekeluarga tetap menyayangi Ginger kecuali adik iparku. Berkali-kali dia menyebut akan membuang kucing itu. Tapi aku yakin itu hanya gurauan. 

Semakin hari si Adek semakin lengket dengan Ginger. Ginger diperlakukan seperti boneka. Digendong, dipeluk, bahkan dicium. Nah ini mulai membuat saya resah.  Saya selalu memperingatkannya agar tidak mencium kucingnya karena belum sempat di vaksin. Ai Adek nurut tapi tetap saja besok-besoknya diulangi lagi sampai membuat si ibu marah, mulai berkurang sayangnya pada Ginger, pelan-pelan keinginan untuk mengembalikan Ginger ke asalnya mulai muncul. Oke, aku sih oke. tapi cinta itu tak seperti itu...

dari Ginger saya semakin memahami bahwa mencintai itu adalah tentang penerimaan. Kelebihan dan kekurangan. Kebaikan dan keburukan dari yang kita cintai. Kita tak bisa hanya mencintai sisi baik seseorang karena setiap manusia punya dua sisi, baik dan buruk. Termasuk diri kita sendiri. KIta tentu saja memiliki sisi tak menyenangkan yang kita sadari atau tidak. Alhamdulillah jika kita sadari lalu belajar untuk berubah menjadi lebih baik. 

Memutuskan memelihara kucing bisa kita jadikan analogi untuk sebuah pernikahan. Dimana ketika masa-masa pendekatan kamu dan dia berlomba-lomba memperlihatkan bagian terbaik dari diri kalian. Meski tak jarang mengabaikan apa adanya dirimu. Masa-masa indah yang membutakan mata untuk melihat bahwa sosok yang kita cintai adalah manusia yang memiliki kekurangan bukan malaikat yang selalu baik. Akan ada masanya sifat asli mu dan dia keluar dan membuatmu shock karena tak pernah menduga. Saat itu terjadi apa kabar rasa cintamu? Sesunggunya beberapa ujian dalam rumah tangga kita sendiri yang ciptakan. Kita terlalu fokus pada hal-hal yang kita sukai segingga melupakan bahwa pasangan kita juga manusia biasa yang bisa saja salah kapanpun. Jika saja sejak awal kamu faham akan hal itu maka ketika kekurangan-kekurangan pasangan terlihat kamu akan lebih bijak menyikapi karena kamu sadar kamu juga punya kekurangan yang bisa jadi sulit untuk diterima orang lain. Ketika pasanganmu berbuat salah dengan sigap kamu akan maklum,selama keslahan itu bukan keslaahan fatal yang bisa menghancurkan keluarga. Semakin banyak maklum semakin jauh kita dari sakit hati. 

Cinta itu adalah sepaket rasa, karsa dan cipta seseorang yang tidak sepenuhnya sesuai dengan seleramu.Tetapi menerimanya dengan ikhlas tidak akan membuatmu menderita atau rugi. Karena hasilnya adalah iapun akan menerimamu dengan segala kekuranganmu. Begitulah aturan mainnya. Meski beberapa memang ada yang tidak peka-peka ya itu karena ia belum matang ketika memutuskan untuk menikah kalau menurut saya. Matang atau tidaknya seseorang bukan perkara umur. Bukan sama sekali. Seseorang "matang" atau dewasa karena pengalaman belajar dari sekelilingnya. Belajar dari masalah-masalah hidupnya dan orang lain. Belajar dari banyak cerita manusia-manusia terdahulu. Dewasa itu pilihan, menua itu  takdir.

Tak ada manusia sempurna saat ini jadi berhentilah menunggunya. Bukalah hati untuk dia yang telah menunjukan diri apa adanya. Terimalah dengan apa adanya dirimu. Tak perlu topeng, tak perlu sandiwara. Karena memakai topeng atau berdandiriwaera saat akan memulai sebuah hubungan akan mencelakai mu dalam perjalanannya nanti...

Tak ada yang salah dengan ketidak-sempurnaan karena cinta selalu bisa menjadi penetral segala kecewa.

Pantaskan diri kita untuk menerima apa yang kita inginkan..

Ingin mobil? Udah bisa nyetir? udah siap finansial?
Ingin anak? Udah siap 24 jam di recokin?
Ingin Istri/Suami? udah siap belum berbagi semua hal dengan pribadi lain? udah siap belum menghabiskan hari-hari dengan orang yang sama terus sampai waktu yang terhingga?

Jika jawabnnya belum maka memang belum pantas... Pantaskan diri dulu baru Allah kasi. Saya selalu berkeyakinan seperti itu. 


Mataram, 10 Juli 2018, 1.34 am




Share:

4 comments:

  1. Those pictures are really heart touching. Paling gemes lihat anak kecil main bareng kucing. Jadi baper. One day, semoga aku bisa punya kucing. Amin ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nikah dulu bru punya anak n kucing 😂

      Delete
    2. Calon suami yang baik nih.. Semoga cewek2 jomblo baca komentar ini hehe

      Delete
  2. Selalu menggemaskan klo liat kucing

    ReplyDelete

Featured Post

Tips Traveling Musim Hujan di Lombok

“There’s no such thing as bad weather, only unsuitable clothing” Indonesia memiliki dua musim yang kontras satu sama lainnya. Musim Huja...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive