Radit dan Saumi yang Istimewa


Tahun ini saya dapat amanah banyak siswa istimewa (ABK/inklusi). Tadinya saya takut gak bisa handle mereka, secara ada lebih dari tiga anak dengan keistimewaan yang berbeda-beda. Saya kadang mikir "sengaja nih kepala sekolah saya ngasih kelas dengan banyak hal yang butuh perhatian biar saya gak sering izin ke luar kota hehehe". Tapi bismillah saya menerima tanpa expektasi apa-apa. Sejak awal dalam hati saya hanya berkata saya akan jadi teman main dan belajar mereka yang paling asik!

Diantara nya, ada dua anak yang benar-benar menonjol istimewa nya. Radit dan Saumi. Semakin kesini saya semakin sayang sama mereka karena sejak hari pertama kelas tiga mereka tidak pernah menyusahkan seperti yang dikeluhkan guru - guru mereka di kelas sebelumnya. Konon Radit suka tantrum tanpa alasan, Saumi sering teriak-teriak histeris tanpa alasan juga. Alhamdulillah sejauh ini saya belum pernah melihat hal itu terjadi.

Adit hanya tidak fokus belajar karena ia tertarik pada hal-hal dalam imajinasinya. Kadang ia merayap di lantai kelas, mengendap-endap sampe kolong meja teman-teman nya. 

Kadang suka datang ke bangku guru lalu memeluk saya sambil bilang 

"Pak Guru, ganteng. Jangan jadi jelek ya" hahaha. 

Kadang juga dia bilang "Pak guru jadi bapak kita yaaa😅.

Adit bisa menulis dengan metode meniru. Dia tidak bisa membaca dan berhitung. Belakangan sudah bisa mengenal huruf yang ia tulis sedikit demi sedikit. Semakin hari ia semakin senang menulis walaupun tidak bisa dibaca. Dia tidak mau pulang kalau belum selesai nulis. Saya sampai bengong kadang nunggu dia kelar nulis baru pulang padahal jam sekokah sudah selesai. Gitu juga tiap jadwal piket nya, pantang pulang sebelum bersih, gitu kita bikin tagline bareng-bareng.

Saumi beda lagi. Dia lebih tertutup. Kalau bicara tidak berani bertatap muka. Setiap hari hanya mewarnai dan menggambar. Tidak bisa menulis dan berhitung.

Setelag beberapa minggu mengenal Saumi saya semakin paham apa yang ia perlukan. Ia butuh pengakuan, butuh sanjungan dan sahabat. Saya pun berusaha mendekati dengan cara-cara yang ia sukai seperti tiap hari menyapa dengan senyum, ngajak tos, memuji gambarnya, memuji usaha menulisnya, dan terakhir saya tahu dia sangat menyukai Omar dan Hana. Dia akan lupa diri kalau ada lagu arau videp Omar dan Hana. Semakin hari terlihat juga hasilnya, Saumi lebih percaya diri.

Di video ini dia sedang bernyanyi mengikuti Omar Hana. Sebelun ini dia barus aja mempresentasi kan denah rumahnya (pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia). Meski gambar denah rumahnya tidak rapi tapi dia bisa menyebutkan letak letak ruangan di rumahnya dengan baik. Setelah selesai presentasi dia minta di putarkan video Omar dan Hana. Subhanallah dia girang bukan kepalang. Dia bergaya seperti ibu guru katanya dia. Setelag presentasi ini dia semakin semangat menunjukkan hasil menulis dan menggambar nya walaupun ujung-ujungnya merayu 

"Pak Guru, boleh ke nyanyi Omar dan Hana?" tanyanya dengan logat khas Omar dan Hana.

Ya dia seperti masuk ke karakter kartun itu. Gayanya dan bicaranya persis tokoh kartun itu. Malaysia semua. Bisa ditebak tontonannya di rumah apa, bagusnya kartun Omar dan Hana ini memberikan pesan-pesan dan ilmu yang baik untuk anak-anak. Andai kertun-kertun anak semua begini ya.

Beruntungnya teman-teman yang lain memahami keadaan Radit dan Saumi. Mereka tidak terlalu terganggu, mereka juga tidak protes kalau saya memuji atau memberi nilai 100 untuk usaha Radit dan Saumi. Jika Radit mulai terlalu menganggu barulah mereka melapor ke saya.

Mereka semua memberikan banyak hikmah dan ilmu buat saya...

Share:

1 comment:

Featured Post

Meliput Festival Payung Indonesia 2018

Halo teman-teman, rasanya sudah lama sekali tidak menulis. Ada rasa bersalah. Semacam mengabaikan rumah sendiri hingga berdebu banyak saran...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive